Tentang Blog ini Dan Hariara

Avatar  Salah satu kelemahan terbesar saya ada SERING TIDAK KONSISTEN,  emoticon (dalam bahasa yang mungkin kedengaran agak sedikit sarkastis : panas-panas tahi ayam :)). Salah satu buktinya adalah adanya blog ini. Ini adalah blog keempat yang pernah saya buat semenjak mengenal dunia blogging. Yang pertama, kedua dan ketiga masing-masing saya urus hanya untuk beberapa bulan untuk kemudian tidak pernah tersentuh lagi, malah yang pertama saya sudah lupa namanyaemoticon. Kalau sudah begini saya suka ngiri dengan orang-orang yang tetap konsisten merawat blognya, menambah fitur macam-macam pada blognya dengan meng-install plugin-plugin yang buat saya sendiri yang sehari-hari bergelut dengan dunia IT terasa cukup ribet, dan yang terutama tetap setia meng-post tulisan-tulisannya walaupun mungkin tidak ada orang yang membaca he..he.. Peace..

Harapan saya blog yang ini tidak bernasib sama dengan senior-seniornya dulu.

Kembali mengenai About : Hariara. Dari beberapa biografi orang-orang besar pada berbagai zaman yang pernah saya baca, ada beberapa kesamaan yang saya temukan pada mereka : mereka menganut “filosofi hidup” tertentu seperti misalnya : Abraham Lincoln dengan ucapannya : “I don’t want to be a slave therefore I don’t want to be a master”. terbukti kemudian dia diingat sebagai bapak pembebas perbudakan, Filosofi hidup dapat diperoleh dengan dan dari berbagai kejadian apakah itu dari pengajaran ahli-ahli filsafat, fenomena alam sekitar atau mengadopsi satu pola hidup dari binatang atau tumbuhan atau bahkan dari pengalaman hidup sendiri. Lantas apa hubungannya dengan Hariara?

Hariara adalah sejenis pohon beringin yang dapat tumbuh tinggi besar, dengan masa hidup yang lama/bisa sampai ratusan tahun. Di tanah Batak-Tapanuli-pada zaman dahulu Hariara sering ditanam sebagai tanda pembatas antara satu huta (kampung) dengan huta yang lain, sebagai tempat mamele (berdoa pada penghuni alam ghaib pada masa-masa kekristenan belum masuk ke tanah batak), atau sebagai tanda kepemilikan satu wilayah atau sebagai lambang bagi satu klan/marga, atau bahkan sebagai saksi dalam perjanjian antar komunitas. Begitu pentingnya posisi hariara dalam kehidupan masyarakat batak sehingga dulu (bahkan kini tidak jarang) dia menjadi tempat/benda yang disakralkan. Tapi bukan posisinya yang begitu penting dalam kehidupan masyarakat Batak yang membuat saya begitu mengagumi pohon ini.

Dulu di masa kanak-kanak saya, ada kebun kopi milik orang tua kami yang jaraknya cukup jauh dari rumah, setiap “berdinas” ke kebun ini kami harus melewati sepasang pohon hariara yang besar dari dua marga (Pasaribu dan Lubis),  menjulang tinggi dan rimbun sampai jalan dibawahnya tertutup dari sinar matahari sehingga tak jarang menjadi tempat berisitirahat bagi anak-anak yang berjalan pulang dari sekolah.  Satu ritual yang selalu saya lakukan ketika melewati pohon ini adalah memandang ke atas, menatap rerimbunan daunnya nun jauh di atas, mengagumi kebesaran pohon ini, mengamati kesibukan kehidupan disana. Burung-burung gagak bermain didahan-dahannya, ada yang membawa makanan buat anak-anak yang baru menetas, sebagian sibuk membuat sarang baru. Di dahan yang lebih ke bawah burung-burung pemakan ulat sibuk mematok-matok batangnya mencari ulat, tupai sibuk turun naik mengantar biji-biji kopi ke sarangnya, dibagian paling bawah burung-burung kecil sejenis pipit bercanda di semak-semak yang tumbuh dibawahnya, sesekali musang melompat dari liang-liang yang terdapat di kaki pohon, pendek kata pohon ini menjadi semacam kerajaan tanpa raja yang penuh dengan kehidupan tapi tanpa kekacauan. Sampai saat itu saya tidak pernah memaknai pelajaran apa yang bisa saya ambil dari sana. Hingga kemudian saya beranjak dewasa, saat mulai menyadari bahwa kenyataan lebih sering berbanding terbalik dengan keinginan, saat rasa bersalah sering melanda karena ketidakmampuan membantu keluarga, saudara dan sesama..ketika mereka membutuhkan. Kalau sudah begini saya sering terbayang pada hariara : Tumbuh tinggi, besar dan kuat, membenamkan akar jauh ke perut bumi, tapi walau demikian tidak lantas menjadi menakutkan, sebaliknya jadi sumber hidup dan saluran berkat bagi sesama..

Keinginan yang berlebihankah? Ah..namanya juga sebuah FILOSOFI HIDUP..or Let say it’s just a humble wish ..    

19 Responses

  1. Ngak apa-apa lagi punya mimpi yang besar, saranku teruslah bermimpi siapa tahu bisa jadi kenyataan,salam.

  2. disamping indah dan hijaunya rerimbunan dedaunan, kicau burung yang lucu, tupai dan musang yg bermain terkadang juga di rerimbunan hariara bersarang ular-ular berbisa yang mematikan🙂 salah satu sisi lain dari hariara …. salam kenal lae …

  3. Salam kenal Bang Sahat..kapan nih pulang ke Parsoburan/Habinsaran?, kalo pulang jangan lupa main ke Lumbanrau ya..🙂

  4. osinaga :

    disamping indah dan hijaunya rerimbunan dedaunan, kicau burung yang lucu, tupai dan musang yg bermain terkadang juga di rerimbunan hariara bersarang ular-ular berbisa yang mematikan salah satu sisi lain dari hariara …. salam kenal lae …

    Hmm..ya..juga sih Lae…:) tapi bukankah ular lambang habisuhon🙂 ?
    Salam hangat…

  5. Hariara dikenal juga sebagai media Partungkoan sebelum kampung memiliki sopo partungkoan. Mereka berteduh sambil membahas masalah kemasyarakatan. Tentu saja hariara yang ditanam di Harbangan Huta. Tidak identik dengan tempat pamelean, karena acara doa “partonggoan” dilakukan dibawah pohon rindang di partungkoan itu karena pada jamannya belum ada tenda atau balairung.

    Ada cerita unik tentang haiara.
    Ketika seorang petani pulang dari ladang membawa buah labu (jelok) dia berteduh dibawah pohon hariara sambil tiduran. Dia melihat keatas pohon dan menyaksikan burung pemakan buah sedang rebutan buah yang matang.

    Pada saat itu dia berpikir bahwa Tuhan Tidak adil, karena pohon hariara begitu besar namun diberi buah yang kecil-kecil. Sementara labu tidak memiliki pohon diberi buah yang besar sehingga tidak mampu berdiri.

    Dia tidak mendapat jawaban hingga dia tertidur pulas.
    Tibatiba dia dikejutkan oleh benda yang jatuh pada wajahnya, buah haiara yang matang dan lembut.
    Dia tersentak dan sadar, seraya mohon ampun kepada Tuhan bahwa apa yang diciptakannya sudah tepat.
    Dia berpikir jernih bahwa seandainya buah hariara sebesar buah labu, mungkin dia sudah mati atau setidaknya celaka.

    Orang batak yang martungko dibawah hariara tidak takut ditimpa dahan patah atau buah yang jatuh sehingga aman dan nyaman tempat berlindung.

  6. Semoga blog ini juga menganut filosofi hariara, mengakar kuat dan memberikan wacana-wacana yang rimbun bagi pembacanya. Terus menulis dan salam kenal lae..🙂

  7. Chan udah ikut milis parsoburan itu belum , kalau belum daftar lewat blogku saja udah ada disana fasailitas daftarnya, oh ya ym mu apa yah ?

  8. Hariara adalah simbol penjaga mistis setiap kampung di bonapasogit di masa lalu. Barangkali itulah pohon yang derajadnya paling tinggi di antara semua pohon yang dikenal Bangso Batak.

    salam kenal lae

    Horas

  9. Tancapkan lebih dalam akarmu, supaya semakin kokoh dan semakin tinggi berdiri untuk melindungi lebih banyak orang yang bernaung dibawahmu.
    BTW Jangan seperti “beringin” jaman lalu yang semula dimaksudkan pelindung tapi salah kaprah.
    Horas

  10. sebagai boru pasaribu, pengen juga seh liat pohon itu, tapi kapan ya?????

    horas,

    vanny pasaribu

    Hariara: Wah..niat yang bagus..harus ditunaikan itu🙂

  11. Horas…
    Hariara, berarti kuat dan untuk perlindungan

    Salam kenal

    Admin http://bersamatoba.com
    Ivan N70 Blogger Batak

  12. Sebagai seorang istri dari marga Pasaribu, dan yang dilahirkan oleh boru Lubis, pengen sich mau lihat “Hariara” itu…, masih ada nggak?? hahaha…

  13. hariara selain tinggi dan rindang daunnya podomanni uluk doi dibonana…ha..haa

  14. Hariara indah nan sejuk i hutanami PEAJOLO Samosir di dolokni Simanindo ro ma hmu tusi asa ta bereng godang nai disi Bonani Hariara, Horas bahhhhh…….!!

  15. Horas,, salam kenal
    Anak ni Batunabolon,, Setuju sekali kalau Andaliman asalnya dr Batunabolon,,, persisnya Tombak di dolok sihabu habu,

  16. horas lae
    setahuku hariara nya tinggal satu yg satu uda mati
    kalau dari parsoburan yg sebelah kanan lah yang mat

  17. Bermimpi lah terbang ke bulan, dan menatap dunia kapan saja dengan kesendirian akan ada yg melambaikan tangan dan juga akan ada yg berseru “Bodoh ngapain dia sendiri disana ?” … tetapi semua itu adalah karena mereka memandang dengan pikiran mereka yang berbeda-beda !
    Lanjutkan semangatmu selama masih bisa berbuat … apapun itu ………….

  18. Horas Lae, molo siat pangidoan tolong di kirim lae jolo foto dolok sihabu-habu i. Masihol iba, alana ditingki metmet iba, jala laho tu alaman ni jabu, pintor dolok sihabu-habu do parjolo tarida. mauliate

  19. nunga tarulang blog on ate???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: