sesak

warung kopi dipinggir jalan, adalah gelas besar
melarutkan buntu malam.
Kita yang singgah lama disana..adalah prajurit2 kalah perang
mengisahkan berulang-ulang kemenangan pertempuran2 kecil
berharap mampu menindas sepi

Meja kayu tak bertaplak, lapuk,kaki timpang,
kopi basi, kecoak menari..

Semalam ada penyair disini.
Lari dari sepi: rumah BTN yang menggusurnya
Malam disini kerap mendekapnya, kal sesak melantak

Malam adalah pengasuh yang tak ramah,tapi adakah lain pilihan?
Kita adalah anak-anak kehidupan hilang ayah tak tau dimana ibu,
sampai nanti, pagi memulangkan kita ke panti
dimana harapan yang piatu itu diasuh dan dibesarkan

Kita yang lama mengakrabi sunyi, tak pernah baik mengenal sunyi

bangunan kumuh di bibir jalan adalah ketenangan, tapi, jika dibalik reinkarnasi memang ada jalan, dia pastikan, di kehidupan berikutnya, tak akan pernah mau singgah disini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: