Gulmat..

Dan aku tahu, aku akan rindu kembali pada semua ini

Pada hijau tanah dan embun yg setia membasahi..

Pada angin gunung yang memberi sejuk saat terik mentari menghanguskan kulit

Pada tebu yg setiap buku sama manisnya

Pada belalang yang senikmat lobster lautan Hindia

Pada kopi yg bahkan Starbuks pun tak mampu menandingi kenikmatannya

Pada setiap hal sederhana yg membuatnya jadi istimewa

Disana, setiap hal adalah kenikmatan

Kami menyebutnya Gulmat,

Sebidang tanah diperbatasan dua dusun

Dulu, puluhan tahun yang lalu, disini dua hati melebur oleh cinta

Mereka merintisnya, kelak jadi tanah dimana mereka menyemai dan menuai cinta

Cinta yang menitipkan sembilan insan baru di bumi

Disana, awan mendung kerap membatalkan diri menjadi tetesan hujan, saat dia melihat  manusia pekerja dibawah sedang bergegas menyelesaikan pekerjaaan hari ini, berlomba dengan mentari yang ingin pulang ke peraduan..

Kami menyebutnya GULMAT..

Entah bermakna apa..tapi  kuanggap sebuah nama yang diberi oleh manusia dari negeri para raja

Yang konon dahulu menikmati manisnya madu di tanah para leluhur. Gold-Mud, Lumpur emas…

Tanah merah keemasan yang berubah jadi lumpur

Saat mereka, sang imperialis bolak-balik mengangkut hasil bumi tanah jajahan

….Aku tahu, aku akan rindu kembali pada semua ini

Gulmat, Satu-satunya tempat dimana kesunyian mampu kuhirup tuntas…

belum selesai———-

This poem Suppose to be written on December 24,2010 sore. Ketika aku dgn saudaraku berempat mengunjunginya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: