4 tanggo dan 8 tanggo..

Hari Sabtu kemarin (1/01/2011) adalah lauk pertama yang dimasak istriku sejak kami menikah, sekaligus juga hidangan pertama di tahun baru pertama.  Sehari sebelumnya saya harus muter2 di kampung2 sekitaran komplek buat nyari ayam kampung sesuai pesanannya sebelum dia kuantar bekerja. Dapat meskipun tidak terlalu besar..

Sayang, berhubung karena suasana tahun baru, pedagang “panutuan” (ulekan bumbu masak) tidak buka, jadilah bumbu jadi (yang diracik dan diulek pakai mesin oleh penjual bumbu) kami beli. Si istri yang konon tidak pernah masak beginian entah memesan bumbu untuk masakan model apa..

Jadilah setelah bantu2 menyembelih ayam dan memotongnya menjadi kerat2 potongan daging (tanggo-tanggo) saya biarkan dia masak sendiri.

Jumlah keratannya tidak terlalu banyak, karena ayamnya tidak terlalu besar, maklum tahun baru, sudah keduluan orang-orang yang juga ingin menikmati tahun baru dengan lauk yang sedikit berbeda dari hari biasa.

Serr..serrr..tang..teng.!!, dia asyik di dapur dan semetara saya asyik membetulkan tumpukan CD yg berserak, bau masakannya sampai ke ruangan tengah..

Mungkin karena kesal, aku tidak mengomentari masakannya dia masuk ke ruang tengah.. “Bang, gimana masakannya? wangi nggak..?” .

“Tidak..!” jawabku jujur, karena memang baunya tidak sesuai dengan bayangan dan harapanku.

“Tapi pasti enak loh..” katanya promosi..  “Kita liat ntar aja..” jawabku. Menghibur dia, aku masuk ke dapur.. “Enak nggaknya kamu liat ntar aja aku makan berapa tanggo (potong)..” kataku.  “Aku hanya akan makan 4  atau 8 tanggo, dan artinya berbeda..” lanjutku sedikit berteka-teki..

………Dan akhirnya., makan siang hari itu kututup dengan memandangi piringku yang penuh dengan holi-holi (tulang2) ayam dari 8 tanggo daging ayam..

Istriku tersenyum puas, senang dan mungkin juga bahagia..

“Tuh kan doyan.., Maknyuss masakanku..” Katanya setelah melihatku “puas”

“Nggak..masakannya biasa saja, tidak enak malah untuk ukuran rasa ayam kampung”..

“Ah, bohong..Itu buktinya habis 8 potong ” protesnya..

“Ya iya, kalo enak aku hanya akan makan 4 tanggo, biar bagian kamu lebih banyak..tapi karena nggak enak ya aku makan 8 tanggo, biar  yang tidak enaknya lebih banyak buat aku..”

Dia diam..aku tidak tahu apa dia memahami maksudku…

One Response

  1. Ah kaw bang…belajar lah memberi yang terindah setiap hari untuk ibu dari seluruh pomparanmu nanti..jangan tunggu dia pergi meninggalkanmu dulu. Teka-teki, kiasan, dsb itu tidak ada gunanya bang..kalau mau bilang cinta ya bilanglah cinta…jangan bilang “akan kuinjak kotoran kuda supaya tak kotor kakimu….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: