Alusi Au*

Setelah ini, jangan lagi ada kata menunggu diantara kita. Cukuplah aku dengan bayanganku yang berbincang-bincang di ruang sunyi bertembok sepi, diterangi lentera redup. Aku lelah walau hanya duduk. Aku letih walau tidak kemana-mana. Jiwaku terlalu sering gelisah karenamu. Dia merintih pedih digores belati kata yang menyiratkan cinta. Cukup sampai di sini, di ruang tunggu ini. Suatu saat aku akan mengirimimu hasrat yang telah ku makamkan di tanah gersang, ditumbuhi bunga-bunga kerta bertuliskan puisi kecewa terhadap kenyataan. Agar kau tau, aku marah pada perbuatanmu yang mempermalukan keluargaku. Aku mengira senyum adalah isyarat agar bersama selamanya, aku juga menganggap setiap untai katamu adalah alunan irama cinta kasih kudus yang melantunkan lirik lagu mesra. Namun, yang kudapatkan adalah sebaliknya. Senyummu hanya indah untuk dilukiskan di atas kanvas berbingkai duka. Lirik lagumupun hanya pantas dituliskan di atas kertas dengan pena bertinta airmata. Seandainya, dulu aku tidak mengenalmu. Mungkin penantian yang akan kurasakan bercampur harapan. Bukan penantian bernapaskan kegelisahan. Tetapi, di atas takdir, tertulis pertemuan kita, yang diikat oleh hubungan darah yang harus menyatu antara aku dan kau. Kita hanya generasi yang diminta untuk menyambung sebuah keakraban, yang telah lebih dahulu dimulai kedua orang tua kita. Aku tidak ingin seperti mereka, yang harus mati oleh karena mencintai perempuan. Bagiku, itu seorang pecundang yang tidak memiliki tujuan hidup. Tetapi, aku juga tidak tahu jalan menuju tujuanku. Karena aku tau, hanya kaulah jalan menuju tujuan itu. Terkadang aku bosan melihat airmata ibuku yang menetes oleh karena keinginan yang tidak terujut. Aku dapat menerima sebuah penolakan. Karena cinta tidak dapat dipaksakan. Namun, yang aku sesalkan adalah sebuah kata yang tidak pernah terucap dari mulutmu, tentang kau, tentang aku, untuk kita. Di depan gelap aku berusaha melihat banyanganku. Pada awan hitam aku bercermin, mencoba melihat bagaimana aku yang sebenarnya. Menerka mimpi-mimpi yang ada dalam tidur ibuku. Pariban, aku menghargai jawaban apa yang kau berikan untuk setiap pertanyaan dan permintaan ibuku. Aku sadar, bahwa keberadaan pariban bukanlah jamin untuk kepemilikan cinta akanmu. Zaman ini bukan lagi milik mereka-mereka yang hidup diam dalam aturan adat. Bagiku yang terpenting, bagaimana aku dapat mempertahankan nilai yang tersirat dalam setiap aturan-aturan yang ada pada masa-masa leluhur dulu. Aku meletakkan cinta di atas segalanya. Aku juga menempatkan kasih sebagai awal dari segalanya. Hingga pada akhirnya, aku menempatkan Dahlian Na Tolu* sebagai landasan untuk mengisi hari-hari dan menjalani hidup. Dan karena perintah-perintah yang terkandung di sanalah aku datang bersama ibuku yang diundang oleh ayahmu untuk membuat sebuah kesepakatan ikatan, antara aku dan kau. “Apakah sudah ada seorang lelaki yang mengisi ruang hatimu?,” itulah yang ditanyakan ibuku kepadamu. Kau diam dan tidak satu katapun kau ucapkan untuk menjawab pertanyaan itu. “Ada apa denganmu, Anggi*? Kalau ada katakan saja. Siapapun nanti yang menjadi pendampingmu, itu akan menjadi anak Namboru*”. Sepertinya ada ketakutan dihatimu untuk menjawab ya atau tidak. Entah apa yang dilakukan oleh Tulang* padamu, hingga setiap pertanyaan ibuku kau jawab dengan kebisuan. Kau bukan milikku, karena itulah kau yang harus menentukan sikap untuk dirimu sendiri. Bukan Tulang ataupun Nantulang*, sekalipun itu untuk aku dan ibuku. Karena kami bukan datang dari sebuah kerajaan yang mengharuskan setiab warganya tunduk pada perintah sang penguasa. Kami juga menyadari bahwa sejak dahulu kala, leluhur kita sudah membuat aturan adat yang menghargai sebuah demokrasi. Adat tidak mengikat kita dengan hukuman. Tetapi, adat menata kehidupan kita untuk lebih baik. Sekalipun saat ini semua itu hampir ditenggelamkan zaman. -o0o- Aku tidak mengerti dengan semua ini, apa yang telah dilakukan inang pangin tubu* untuk menyatukan kita adalah sebuah kesisiaan. Demikian juga dengan damang parsinuan* berharap dapat melihat kita bersatu dalam pemberkatan kudus, ketika lantunan lagu Ave Maria mengiringi langkah kita menuju altar tempat seorang hambaNya menyabut kita dengan senyum. “Dainang manodo, ho do parumaen na*,” Itulah dalam hatiku, hingga kebisuanmu seakan telah memberikan jawaban “ya” kepadanya. Jikalau saja ada sepatah kata yang kau ucapkan untuk pertanyaan ibuku. Mungkin dia akan berpikir panjang untuk mendesak pernikahan kita. Demikian juga tulang, yang juga berharap agar kita melanjutkan kekerabatan ini. “Maenmu*, tidak dapat menjawabnya. Sebaiknya kita bicarakan saja tetang adat yang akan kita laksanakan. Kira-kira, kapan dongan tubu* ito* datang untuk marhusip*?”. Pertanyaan tulang memberikan keyakinan pada ibu, bahwa kau bukan takut. Melainkan, kau malu untuk menjawab “ya”. Pariban, aku merasa airmatamu adalah jawaban untuk setiap holong* yang ada dihatiku. Padahal, sesungguhnya itulah ungkapan kebisuaanmu. Kau tidak mengungkap yang sebenarnya. “ Secepatnya ito*, aku dan lae* mu akan membicarakannya nanti. Kami akan segera mengirimkan dongan tubu kami untuk marhata sinamot*,” Seperti itulah jawab ibuku untuk pertanyaan tulang itu. Pariban, kau yang membuat ibuku kini menderita. Demikan juga dengan ayahku yang kini untuk menyapa orang lainpun malu. Semuanya telah kau hancurkan, semuanya telah kau musnahkan. Akupun tidak yakin suatu saat ini akan kembali baik seperti dulu. Ayahmu kini ketakutan untuk bertemu dengan saudara perempuannya sendiri oleh karena perbuatanmu. Dia lebih banyak bersembunyi di ruang perenungan tempat yang dipilihnya untuk menangis. Taukah kau, ayahmu kini tak pernah lagi menginjakkan kaki di bait suci. Bahkan untuk menyebut nama Tuhanpun dia ketakutan. Aku sudah menemuinya, dan mengajaknya untuk bersama memuji dan memuliakan Tuhan. Membaca Mazmur dan melantunkan kidung agung. Tetapi, dia memilih untuk memenjarakan tubuh lesunya dalam kamar pengap, agar tidak seorangpun dapat melihat dia dengan penyesalannya. Jikalau kita tidak dapat bersama, menyatu lewat pemberkatan kudus. Tidaklah menjadi sebuah permasalahan besar. Aku akan tetap somba marhula-hula*, sekalipun perbuatanmu sangat menyakitkan. Karena pesan orang tuaku, hula-hula adalah raja yang meletakkan ulos sipalas tondi* di atas punggungku. -o0o- Pariban, aku telah melupakan bayanganmu. Bahkan senyummu yang begitu indahpun telah aku buang di lautan airmata, yang berombakkan kemarahan. Aku belum dapat mengiklaskan semua yang terjadi ini. sekalipun firman Tuhan berkata bahwa segala sesuatu itu, indah pada waktunya. Terlalu pedih luka jiwa yang disayat belati kehidupan. Hingga tidak ada yang dapat mengobati semua perih yang kami rasakan. Ibuku, menyesalkan kepergiaanmu yang disebabkan oleh pertunangan kita. Seandainya kau jujur kepada kami tentang semua yang ada dalam hatimu, mungkin ini tidak akan terjadi. Tetapi, kau membisu. Takut untuk mengatakan kebenaran yang sesungguhnya akan dirimu. Hingga, dengan bahagianya mereka menyambuh hari pernikahan yang telah tertulis dalam lembaran kertas undangan. Mereka akan menjadikan hari pernikahan anaknya sebagai hari terindah. Mimpi-mimpi yang ada dalam setiap pembaringannya telah membuat mereka buta akan dirimu. Pariban, kau pikirkankah berapa banyak yang menjadi korban dari perbuatanmu. Atau kau hanya tau mengukur nikmatnya dunia yang mungil ini. Tidakkah engkau tau jalan yang kau pilih itu salah. Kau tidak pernah memahami makna dari kehidupan, zaman telah menenggelamkanmu. Kemajuan telah membawa pada mahligai yang rapuh. Hingga kau memilih jalan sesaat yang sesat. Mengapa kau tidak bertekuklutu di altar dan meminta pentunjuk dari Tuhan yang kita sembah melalui doa. Dia senantiasa menyertai kita hingga akhir zaman tiba, bahkan tidak sekalipun Dia membiarkan kita jatuh dalam pencobaan. Tinggal bagaimana kita maknai kehadiranNya untuk membawa kita menuju kehidupan kekal. Bukan kehidupan yang berakhir dengan sebuah penderitaan. Tuhan menciptakan manusia untuk mengisi dan memenuhi seluru penjuru dunia. Menjadikan manusia itu berpasang-pasangan hingga lahir generasi-generasi baru yang melanjutkan kehidupan. Dia yang menetukan hidup dan mati umatNya. Bukan kita, seklaipun kita sanggup untuk mengahiri setiap nafas yang dianugrahkan Tuhan kepada kita. Kita hanya hamba yang semestinya menapaki hidup di atas jalan firmanNya. Aku tidak tau harus berkata apa lagi. Aku kehilangan jejakmu ketika ingin menggapaimu, aku buta saat ingin menatapmu, aku bisu ketika suara hatimu ingin mengumandangkan sebuah kebenaran tentangmu. Hingga, akupun bertanya-tanya, di manakah kau berada kini, setelah dimakamkan dengan ketidakwajaran. Pariban, aku datang bersama keluargaku, membawa sinamot* dan appang* sebagai bagian dari ritual yang harus dilaksanakan untuk menjemput mempelai perempuan. Kami datang dengan kerendahan hati. Berharap akan disambut dengan besar hati oleh keluargamu, bukan dengan kerumunan orang-orang yang menangis pedih karena tinggal ditinggal mati. -o0o- Aku sadar setelah tiba di sana. Ternyata kebisuanmu adalah ungkapan ketakutan untuk mengatakan yang sebenarnya tentang dirimu. Semestinya, kau menolak lamaran ibuku saat datang meminangmu untuk menjadi menantunya. Kau katakan saja yang sebenarnya tentang dirimu. Karena, kebisuan bukanlah jawaban untuk pertanyaan. Sekalipun itu dapat menjadi sebuah pernyataan akan ketidak setujuan. Katakan kebenaran tentang dirimu, walaupun itu akan menimbulkan amarah di hati ayahmu. Karena itulah jalan satu-satunya untuk menyelamatkanmu yang telah terperangkap dalam lembah yang menghadiahkanmu kenikmatan. Katakana saja kau sudah memiliki pilihan hidup. Bahkan ceritakan juga, jika dalam rahimmu telah ada benih cinta diantara kalian, sekalipun itu akan mencoreng wajah keluarga. Aku hanya dapat melihatmu terakhir kali, saat tubuhmu membiru dan mulutmu mengeluarkan buih-buih putih. Apakah kau tidak sadar itu dosa, mengahiri hidup dengan sebuah keterpaksaan. Bahkan, anak yang tidak berdosa di dalam rahimmupun harus ikut tiada sebelum menatap dunia, oleh karena kekonyolan ibunya. Pariban, seperti malam kehilang rembulan. Demikian juga kehilangan jejakmu. Aku tau, kabut di hatimu membuatmu kalut. Hingga tidak dapat melihat jalan benar menuju alamatNya. Aku kini belum dapat menentukan jalan hidupku. Takut mengatakan pada ibu untuk menikahkanku, karena dia akan menangis jika aku minta menemaniku untuk manulangi tulang[23]. Saat ini aku masih sendiri, walau sudah beberapa perempuan pergi meninggalkanku karena tidak kunjung kupinang. Pariban, aku resah menanti si rokkap ni tondi*. *Di Dia Rokkap Hi: Dimana jodohku; judul lagu ciptaan Dakka Hutagalung * Pariban: Anak perempuan dari Tulang kita, anak perempuan dari hula-hula kita * Dahlian Na Tolu: Tungku yang memiliki tiga peyangga; Tiga perintah yang menjadi landasan hidup masyarakat Batak Toba * Anggi: Adik, namun dapat juga sebagai panggilan akrab seorang namboru dengan maennya; *Maen: anak perempuan dari saudara laki-laki. *Namboru: Saudara perempuan dari ayah kita. * Tulang: Saudara Laki-laki dari ibu kita *Nantulang: Istri dari Tulang kita *Inang Pangintubu: Ibu kandung, ibu yang melahirkan kita *Amang Parsinua : Ayah kandung *Dainang manodo, ho do parumaen na: Ibuku yang memilih kau untuk menjadi menantunya. *Manodo: sebuah kata yang memiliki arti keinginan; keinginan yang ada dari hati yang paling dalam. *Maen: Keponakan perempuan, anak perempuan dari saudara laki-laki. *Dongan Tubu: Kerabat semarga, sesama kerabat yang membuat kesepakatan terkait mengenai adat-istiadat. Baik dalam hal apapun. *Ito: saudara perempuan atau saudara laki-laki; kerab digunakan sebagai panggilan untuk lawan jenis *Marhusip: membicarakan segala yang berkaitan dengan sebuah pernikahan; setelah marhusip, akan dilanjutkan pada Marhata Sinamot. Kemudian disambung dengan Martuppol, hingga tiba pada pernikahan. *Cinta *Ito: saudara perempuan atau saudara laki-laki; kerab digunakan sebagai panggilan untuk lawan jenis *Lae: Sepupu; Besan *Sianmot: Harga; lebih sering digunakan sebagai istilah untuk mas kawin. Marhata Sinamot, membicarakan mas kawin. *Somba marhula-hula: Salah satu isi dari Dalian Na Tolu; Hula-hula : Sebutan bagi keluarga dari pihak perempuan. *Ulos : Pakayan adat batak toba, Si Palas : Penghangat, Tondi : Jiwa; Roh. Ulos Si Palas Tondi : Ulos yang memberikan kehangatan pada jiwa. *Sinamot : Uang, kata sinamot lebih sering digunakan sebagai istilah untuk mas kawin. *Appang : Keranjang besar yang terbuat dari rotan. Appang digunakan sebgai tempat makan yang akan dipersembahkan pada pihak perempuan pada saat menjempu mempelai wanita. *Manulangi Tulang : meminta doa restu pada saudar laki-laki ibu atau tulang, serta meminta ijin untuk menikah dengan perempuan lain yang bukan pariban kita. * Si rokkap ni tondi : Mempelai jiwa.  *Alusi Au: Beri Aku Jawaban

6 Responses

  1. Horas lae,
    Bah ai tudia horoa lao lae rokkap tai………??
    Hahaaaa rap mangaluluima hita lae.

  2. Bah….. ai gambar ni dolok di huta nami do on!! Sian dia do dapot muna on lae? na disebelah kiri i ima dolok siparbue na disebelah kanan i ima dokol purbatua. Ima inganan ni iba tingki metmet lao mar mahan horbo.

    Berarti na sahuta do hita Laekku🙂, ai ipe dolok-dolok ni huta nami do i, Par Lumbanaru do Au, Par Habinsaran. Nabinuat do photo ni dolok i tingki mulak na jungka tu huta. Apala didia ma ia hutamuna molo songoni?

  3. molo huta nami di batunabolon hian, i ma napaling jonok tu dolok i. kebetulan terbereng au blog muna on, jala gambarna pe gambar na biasa parmeaman ni iba na baru on, gabe sihol roha naeng laho tusi

  4. *Maen: anak perempuan dari saudara laki-laki.
    **Maen: Keponakan perempuan, anak perempuan dari saudara laki-laki.

    Sepertinya masih kurang lengkap penjelasannya lae.
    seharusnya:
    *Maen: anak perempuan dari saudara laki laki ibu kita atau istri kita.
    **Maen adalah keponakan perempuan dari saudara laki laki ibu kita atau istri kita.

    >keponakan perempuan ibu kita dari saudaranya laki laki adalah maen ibu kita (orangtua kita), dan keponakan perempuan istri kita dari saudaranya laki laki adalah maen istri kita (maen kita).

    Maaf Lae, Mengikuti pengertian yang lae tambahkan disini, berarti MAEN memiliki 2 arti begitu ya? Katakanlah posisi kita sebagai Bapak maka
    1. Maen=Bakal Parumaen/Pariban Anak Kita/Anak dari saudara laki-laki istri kita
    2. Maen=Pariban(??), karena, masih menurut Lae, Maen juga adalah anak perempuan dari saudara laki-laki Ibu kita..Kalau itu benar maka itu pengetahuan baru bagi saya, mauliate

  5. Bah Ces…..

    Tamba mantaf do bah blog mon…
    unang pa pikkir hu tu dead line ate..!!!
    molo nga arina jumpang do muse.

  6. Rokkap ni tondi.. Didia do ho.. Jou tondikku, na sai malungun on.. Tinggildo rohakku.. Umbege soaram.. Didia.. Alusi ma au…. Dst,

    alai pos ma roha ni lae, songon nidok ni angka natua-tua, anggiat ma antong ( sirokkap ni tondi ) pintor hatop makkirap sian nadao, manjou sian najonok.. Ate lae..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: