Angka Najolo i di Huta (Cerita yang tersisa dari Perkebunan Teh)

1. Senteng Kobun

Keadaan benar-benar tegang, tidak ada yang berani bicara, Si Napit, si centeng kebun itu lagi ngamuk!. Laporan-laporan dari anak buahnya yang dia tempatkan di beberapa sektor barak-barak itu benar-benar membuatnya naik pitam. Si Bukkit, preman kota yang berasal dari desa mereka pulang kampung dan melakukan pungutan liar (pungli) ketika gajian kebun kemarin, akibatnya mereka tidak mendapat setoran lagi, padahal jelas-jelas pungutan itu adalah jatahnya. “Pokokna holan mullop annon di pintu i, hutallik!” (“pokoknya begitu dia (si Bukkit) nongol di pintu, saya bacok!”) Sesumbarnya. Mendengar itu si Sangkot pemilik kedai ketakutan, sebenarnya ia tidak ingin ada keributan di warungnya tapi tidak berani bicara, reputasi si Napit ini memang sudah terkenal di seantero kecamatan sebagai preman bahkan katanya sudah beberapa kali membunuh orang,  meskipun itu masih sebatas cerita mulut ke mulut, belum ada yang pernah menyaksikan langsung.

Keadaan masih tetap sama, mencekam! Si Napit sudah buka baju, memamerkan perut besanya, parang besar, panjang dan kelihatannya sangat tajam ditaruh di atas meja. Aroma alkohol menambah suasana panas. “Pokokna holan mullop hutallik, bereng hamu!, unang adong na lao sian kode on (“Pokoknya, begitu dia muncul, saya bacok..!, Kalian lihat nanti! Jangan ada yang keluar dari warung!” ) Katanya berulang kali. Hari mulai gelap, keadaan di luar juga gelap, hanya lampu gas yang menerangi ruangan kedai itu.

“…Horas!! “, tiba-tiba terdengar suara bariton (besar) di arah pintu masuk kedai, semua serentak menoleh ke arah sumber suara. Itu si Bukkit!.  Tinggi besar, kumis tebal melintang, memakai seragam jaket dan celana jeans, ciri khas preman batak. Semua menahan nafas, beberapa detik lagi akan ada adegan pembantaian di depan mereka. Si Napit berdiri, begegas ke pintu, berjalan ke arah si Bukkit mengulurkan tangannya ke arah Bukkit dan berkata : “Bah naung ro do Lae, Beta, tusan ma hita hundul!” Katanya sambil menyalami si Bukkit, lalu merangkulnya. Lalu berkata ke sangkot setengah berteriak “Lae, buat jo galas ni lae on ..!” (“Bang ambilkan gelas buat bang Bukit”.) Sambil menuntun Bukkit ke mejanya, Si Napit melirik ke arah si Lampet yang senyum-senyum penuh arti, dalam hati Napit mengutuki “Parmatem ma annon Lampet hurang ajar, didok ho nga mulak ibana (si Bukkit) tu Medan..!” (Kurang ajar kau Lampet!, kumatikan kau nanti, kau bilang dia sudah balik ke Medan)

Ohooo… anggo hata i ” holan mullop hutallik!!”

Sejak itu digelarliah dia “Si Napit Te!”

2. Mandor Perumahan

Akhir-akhir ini perumahan karyawan kebun yang tidak dihuni semakin sering kebongkaran. Karena rumah kosong yang hilang tentu saja bukan isinya yang hilang tetapi bagian rumahnya, papan, daun jendela, daun pintu dan atapnya (seng). Hal ini sampai ke telinga Pak Asep, Asistant Kebun. Maka tidak lama diangkatlah si Ogel, berandalan desa jadi mandor perumahan. Si Ogel, berandalan tapi anak-anak muda desa yang ditengarai melakukan pencurian itu segan dan hormat kepadanya. Sebenarnya Ogel tidak puas dengan gaji yang ditawarkan “Tapi untuk sementara daripada nganggur terima saja” pikirnya. Begitulah, dua bulan setelah si Ogel jadi mandor berita pembongkaran rumah tidak terdengar lagi. Tapi di bulan ketiga mulai muncul lagi dan lama-lama frekuensinya semakin sering. Dipanggillah si Ogel sama Pak Asep, meminta laporan “Ogel, bagaimana ini ?, itu pencuri perumahan beraksi lagi malah semakin sering, gimana kerjamu?”. Dengan santai si Ogel menjawab “Ai kan holan arian na di digaji hamu au, ba bodari do ditangkoi i “. (“Loh, saya kan digaji siang hari aja Pak, Nah itu perumahan dibongkar malam hari”). Si asistant terdiam. Si Ogel tersenyum karena gajinya kini dua kali lipat, dia digaji siang dan malam🙂

3. Naposobulung

Konon semakin banyaknya pekerja kebun yang datang dari tempat lain membuat suasana kampung kami semakin ramai. Seperti kebiasaan halak hita jika lebih dari lima orang kalau tidak mendirikan gereja, ya mendirikan punguan (kumpulan). Demikian juga halnya ketika itu. Maka atas saran guru huria dibentuklah naposo bulung baru yang anggotanya sebagian besar karyawan kebun. Suatu malam sehabis marguru (latihan) di rumah salah satu anggota sambil menunggu pulang mereka pun ngobrol-ngobrol. Tapi karena sering ketemu sepertinya bahan obrolan sudah habis. “Paganjang-ganjang goar ma hita” (“Kita main panjang-panjangin nama saja” ). Usul Tigor. “Olo” “Baik” sahut Enos.

Tigor..tigor. ” Sejenak Enos berpikir..Tigor : TInggal GOReng(an), lanjutnya. “Ha..ha ha” Yang lain tertawa, ramai. yang paling kuat ketawa si Maruba.  
Satima : SAntapan TIkus MAlam.. Ha..ha. semua tertawa. Satima, cewek anggota mereka juga tidak lepas.
Enos ma jo.. (Enos dululah).. Enos..Enos.. Engkau Nanti Orang Senang. O..cocok..cocok ujar Enos sambil tersenyum, agak bagus soalnya.
Tulus.. Tukkang Ullus (tukang tiup). Ha.ha.. masih ketawa Maruba yang paling kuat,
“Memang cocok do baion gabe partiga-tiga ballon, holan na mangullu ballon ma annon baion” (“Memang dia ini cocok jadi tukang jual balon, kerjanya nanti hari-hari niup balon”) sambung Maruba sambil nunjuk Tulus. Sekarang Maruba.. Maruba.. apa ya? “Agak sulit ini..” Maruba.. masih belum ketemu. “Dia boi paganjangon muna i, goarna ma goa sipajou-joun puang”, “Mana bisa kalian panjangin, itu kan nama yang populer”. Maruba merasa menang, tidak seorang pun yang bisa memberi kepanjangan pada namanya.
Agak lama…
Tiba-tiba Tulus, menyelutuk ” Maruba..MAnusia RUpa Babi”.. Ha..ha..ha serempak tertawa, kecuali Maruba yang mukanya memerah..

4. Di Saku ki ma Buat (Ambil aja di Kantongku)


Si Maruba ini, anggota naposo bulung yang kena batunya tadi memang terkenal jahil, tapi sebetulnya hatinya baik. Selain jahil kadang-kadang juga licik. Timbangan daun tehnya pun selalu lebih tinggi dari yang lain padahal jumlah pausehon (menuang dari keranjang petik ke bisnet (tempat penampungan daun teh yang sudah dipetik untuk ditimbang) selalu sama). Ketika punya kesempatan ikut dia memetik daun teh, kutanya apa rahasianya, ternyata dibawah bisnetnya yang terbuat dari kain goni, dia buat kantung dan dimasukkan pasir. Jadi sebelum diisi saja berat bisnetnya sudah lima kilo, apalagi kkalau hari hujan🙂.
Suatu hari ada pesta orang tua meninggal. Sebagai naposobulung, mereka wajib ikut jadi parhobas(membantu persiapan pesta) terutama memasak.
Begitulah, sambil menunggui perapian mereka bercengkerama. Maruba seperti mengulum sesuatu, seperti permen. Tiba-tiba si Tiur, temannya Naposo datang mendekat, “Holan ito on do mangallang permen, bagi jo” (“Abang ini kok makan sendiri, bagi permennya dunk..!”). Si Maruba bangkit, lalu berkata “Di sakku ki ma buat”, (Ambil aja sendiri di kantong ku”). “Sakku na dia?” (“Kantong yang mana?”)Tanya Tiur. “Sakku celana-ki, sakku jolo, adong do disi permen Union”, (“Di kantong depan celanaku, ada permen Union”). Katanya sambil menyebut nama permen rasa mint yang populer kala itu. Si Tiur lalu merogoh kantong Maruba.. Tiba-tiba, Tiur menjerit “..Babi..babi babiiii, maup ma ho, Maruba babiiii…!!” Si Tiur menjerit histeris, rupanya kantong si Maruba bolong dan…dia sama sekali tidak pakai celana dalam..🙂. Si Maruba mellarikan diri sambil tertawa-tawa…
Tiur benar-benar shock!, karena dia sama sekali tidak menemukan permen union seperti yang disebutkan Maruba..melainkan sebatang coklat🙂

Masih ada lagi…

4 Responses

  1. AH ADEKKU INI BISA RUPANYA MENULIS, TERUSKAN FREN NANTI KITA TERBITKAN

  2. bisa aja nih adek gua…hehehe

    Horas Kakanda!, Bagaimana kabar?
    Ah..ini cerita biasa aja bang, cerita yang tertinggal dari masa kecil, sekedar mengisi blog, Salam buat Kakak dan Ben !

  3. Horas di Tulang i.
    Taringot ahu tu hutanta dung hujaha cerita i bah…
    Torushon hamu tulang ceritai.

    Tulang Bas boha kabar muna kale.

    Horas
    Tulus P Lubis
    Kaltim

    Horas ma Bere..baen hamu tong sian bariba i🙂

  4. Horas Lae… muuaaanntafff bah… cerita i.. sappe hattcit buhakku mekkel lae, ditanda lae do tahe au..? sahuta do hita lae, sian banjar tonga do au. pasti di ingot lae do kan?

    secara tidak sengaja do lae acak2 internet laos tersonggot au manjaha blog muna on, blog sudah cukup lama alai sangat bagus juga lae, didia halak lae tinggal saonari?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: