Bulle-Bulle/ Aji-aji/ Azimat Dari Oppung

Simpul jahitan tangan yang menyatukan kedua sudut kain itu kini sudah lepas. Tiga sayatan gunting lagi maka benang-benang perekat mulut kantung kecil yang terbuat dari kain itu akan terpotong-potong dan isi dari buntelan kecil yang besarnya hampir setengah korek api itu akan segera ketahuan.

Benda itu bukan sembarang benda, benda itu pemberian oppung, katanya buat pelindung badan,. “Baju-baju untuk pertahanan tubuh” Begitu Oppung Pio menyebutnya.

Tentu saja bukan baju dalam arti sebenarnya. Bahasa gamblangnya adalah bulle-bulle, aji-aji, azimat.

Sejenak aku ragu melanjutkan guntingan itu, Mencoba mengingat-ingat kembali pantangan yang tidak boleh saya langgar dan mencoba membayangkan petaka apa yang saya terima jika berusaha mencari tahu rahasia “kesaktian” bulle-bulle ini.

“Tidak ada pantangannya, itulah kelebihan obat dari oppung”, Begitu kata Oppung waktu itu, mungkin sekalian promosi.

“Hanya saja!,Lanjutnya. kalau baju-baju ini sedang kamu pakai, Jangan pernah lewat dibawah jemuran yang ada pakaian dalam Inang-inang”…

“Yeee.. itu mah namanya ada pantangannya! Gimana sih?. Malah itu pantangan yang aneh!” Protesku,

“Kalo suatu saat kita harus lewat dibawah jemuran, Bagaimana membedakan itu pakaian mama-mama atau pakaian anak gadis? ”.

“Nah, biar aman, jangan lewat sekalian dibawah jemuran” Pungkasnya tak mau kalah. Entah dia sekadar bercanda atau benar-benar serius saya tidak tahu, tapi yang pasti sejak saya bulle-bulle ada pada saya, saya selalu menghindari jemuran apalagi kalo ada pakaian dalam yang berbentuk penutup dada wanita atau pakaian dalam yang ada bordirannya. Takut aji-aji ini tarsubang.

Dan seingat saya pantangan itu tidak pernah saya langgar, Jadi jelas, bukan karena nabrak pantangan makanya bulle-bulle ini sama sekali tidak ampuh.

Kurang lebih tiga bulan yang lalu.

Oppung Pio, yang atas undangan bapauda karena anaknya naik sidi/malua berkunjung ke Medan. Beberapa hari sebelum acara naik sidi yang akan dilakukan pada hari Minggu, Oppung Pio sudah tiba di Medan, kesempatan itu saya gunakan untuk mengajaknya ke warung kopi milik saya. Sejarah berdirinya warung kopiku ini  bukan sebuah cerita manis. Bermula dari krisis moneter yang membenamkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing berdampak pada kacaunya perekonomian, perusahaan banyak yang gulung tikar, harga-harga melambung tidak terkendali. Sialnya tahun itu pula saya menyelesaikan kuliah, menjadi mahasiswa abadi sekedar menghindari status penganggur dan memperpanjang gaji buta dari kampung jelas tidak mungkin, sistem kuliah yang berpaket memaksa harus selesai tiga tahun. Jadilah untuk menyambung hidup setiap hari saya ikut angkot teman yang bernasib lebih baik, bapaknya yang toke jeruk di tanah Karo membelikannya mobil angkutan umum.

Nasib baik, setelah sebulan, ada berita pembukaan trayek dan pangkalan angkutan kota yang baru, itu artinya bisa jadi lahan baru untuk jualan sekadar jualan rokok atau kopi. Jadilah dengan berbekal hutang kanan-hutang kiri warung kopi dan rokok berdiri “Hmm..lumayan untuk merubah status, minimal tidak setiap hari bertemu dengan teman-teman bekas satu sekolah dalam keadaan berstatus kernet” Gumamku ketika warung itu sudah berdiri.

Tapi rupanya nasib baik itu tidak berlangsung lama. Sebulan setelah berdiri, mulai terjadi perebutan lahan antar kelompok preman di daerah itu, pangkalan angkot memang lahan cukup basah.

Terang saja, jumlah mereka yang datang selalu gerombolan, bergantian dari kelompok yang berbeda, dilengkapi dengan peralatan perang,dan dalam keadaan mabuk membuat nyaliku keder. Mau tidak mau setiap kali mereka beroperasi kalau tidak duit maka minimal beberapa bungkus rokok harus pindah tangan.

Rupanya cerita saya membuat oppung Pio prihatin buktinya sebelum saya antar pulang, dia berpesan, “Secepatnya pulang dulu kau ke kampung, jumpai oppung, ada yang mau oppung berikan”.

Seminggu kemudian setelah pesannya, saya pulang kampung. Sesuai pesannya saya menjumpai dia begitu sampai malam harinya.

Setelah bercerita-cerita sebentar, dia lalu masuk ke kamar.

Oppung Pio ini memang terkenal sebagai pangubati, datu huta, dukun. Kata orang-orang, ilmunya dia dapatkan dari hariau yang tertangkap masuk kampung karena mengejar kerbau buruannya dari jampalan sampi ke mulut desa, Konon katanya Oppung Pio mangaroro aru-aru harimau itu, dan setelah mati, kumis dan kuku harimau itu masih dia simpan. Cerita orang sejak kejadian itulah itulah Oppung Pio punya kemampuan supranatural.

Sebenarnya saya tidak terlalu mempercayai cerita-cerita semacam itu, apalagi ilmu macam-macam yang sepertinya diluar akal sehat seperti tahan tallik, tahan tikam, dorma sahuta, tinju marulak, tapi pengalaman sebulan lebih hampir setiap hari berhadapan dengan orang mabuk nyaris gila bawa peralatan berburu, mau tidak mau membuatku mencoba ilmu alternatif ini.

Beberapa menit kemudian, Oppung Pio keluar, berpakaian serba hita hitam pakai topi haji, membawa kantung entah berisi apa.

Dia lalu duduk bersila dihadapanku, mengeluarkan sebuah benda bulat dibungkus kain hitam. Satu persatu benda benda entah apa, seperti benda-benda klenik, dia letakkan diatas kain putih yang sudah dia bentangkan sebelumnya. “ Benda-benda ini datang dan pergi dengan sendirinya”, Katanya tanpa saya tanya. “Kalau mereka suka akan datang memenuhi panggilan teman-temannya yang sudah lebih dulu disini tapi akan pergi kalau ada yang memanggilnya dari tempat lain” Lanjutnya.

Dia lalu mengambil sesuatu dari kantongnya. Benda buntelan kecil berwarna putih, besarnya hampir setengah korek api, lalu meletakkannya dihadapannya.

“Ini yang akan saya berikan pada kamu, sekarang kita isi” Katanya sambil menunjuk benda sebesar separuh kotak korek api itu. Setelah komat-kamit sebentar seperti merapal doa, dia lalu mengambil benda bulat hitam yang berbungkus kain hitam tersebut, mendekatkannya ke benda berwarna putih sebesar setengah korek tersebut. Setelah berjarak kurang lebih sepuluh centimeter dia hentikan, tiba-tiba benda putih tersebut mulai bergetar, semakin lama getarannnya semakin kuat bahkan seperti mau meloncat meraih benda bulat hitam itu…

Saya terkagum-kagum memandang peristiwa itu, “Wah..luar biasa!, tentulah sedang terjadi proses pentransferan energi dari benda bulat yang dibungkus kain hitam itu ke dalam benda putih sebesar setengah korek api ini”. Batinku.

Setelah kurang lebih dua menit kejadian itu berlangsung dia lalu menghentikannya.

Setelah menghela napas tanda proses pengisian itu selesai, dia berkata “Jago do nadi ho on!, cocok do tu ho on”

Saya terseyum senang bercampur kagum.

Setelah meyerahkan benda itu ke tanganku, Oppung Pio lalu berpesan, “Benda ini akan membuatmu lebih berani, membuat orang akan berpikir berkali-kali berbuat yang buruk terhadapmu kalau dia memandang wajahmu selama benda ini ada dengan kamu”. “Taruh di dompet atau lilitkan di pinggang”

Dang bulle-bulle manang aji-aji on, alai baju-bajum do on, panjaga ni daging” Lanjutnya lagi. Dia lalu membereskan peralatannya.

Setelah semuanya beres saya memberanikan diri bertanya.

“Ada pantangan obat ini  ngga Oppung?” Tanyaku

“Tidak ada pantangannya, itulah kelebihan obat dari oppung” Jawabnya, seperti berpromosi.

“Holan ido, unang suruk panjomuran na adong pahean ni ina-ina diginjang ! ” Lanjutnya sambil tersenyum.

“Ba berarti adong do pantanganna, muse molo tarpaksa ikkon manuruk iba boa mai? Muse sian dia botoon na na celana ni ina-inan manang anak boru nadisini” Kucoba protes, aku tau ini hanya guyonan.

“Unang sai ganggu roham, ba unang olo ho antong manuruk jomuran,  ” Katanya sambil tersenyum.

Begitulah, berbekal bulle-bulle dari oppung Pio, saya kembali menekuni usaha warung kopi itu.

Tapi, seminggu kemudian, kejadian yang sama berulang lagi, para gerombolan sialan itu tetap saja melakukan aksinya, seperti tanpa rasa takut. Pada pertama kali kedatangan mereka, mungkin tersugesti oleh perasaan bahwa bulle-bulle ini akan melindungi saya, saya berusaha menenangkan diri, tapi tetap saja tidak ada pengaruh!

“ Oh mungkin karena mereka sedang mabuk, yang bekerja adalah alam bawah sadar mereka, sehingga bulle-bulle ini tidak bekerja” Ucapku pada diri sendiri, menghibur diri..

Tapi di lain hari mereka datang tidak dalam keadaan mabuk, tetap saja kejadian yang sama terulang..

Begitu beberapa kali berlangsung. Kini saya menganggapnya benda aneh yang tidak memberi manfaat.

Kejadian tadi sore adalah puncaknya. Gerombolan sialan dari kelompok lain datang, Saya putuskan untuk menghadapi mereka dengan cara laki-laki, tanpa bulle-bulle tanpa aji-aji. Setelah melalui kejadian yang cukup menegangkan, meski tanpa bentrok fisik, saya,dibantu oleh sopir-sopir yang merasa simpati menolak permintaan mereka, untuk pertama kali, gerombolan sialan itu pulang dengan tangan kosong.  

 

Malam ini, dengan segala resikonya saya putuskan cari tau apa sebenarnya isi buntelan kecil bernama aji-aji ini,

Tanganku kembali memegang gunting, dengan mantap kugunting benang-benang penjahit mulut kantung kecil itu.

Kini terbuka sudah, dari dalam ada aroma wangi menyeruak, isinya kukeluarkan kubuka satu persatu :

Dibagian luar ada daun sirih, dua helai sebagai pembungkus..

Dibagian dalam ada sepotong daun pandan..hmm ini sumber wanginya.

Dibagian paling dalam, ada sepotong besi, kuangkat dan kuamati, kudekatkan pada lampu..ternyata SEPOTONG MAGNET, BESI BERANI.

Arrgghh… ternyata proses pengisian ilmu yang luar biasa itu hanya proses segumpal besi bulat yang didekatkan pada sepotong kecil magnet, wajar saja magnet kecil ini menari-nari bahkan hampir meloncat-loncat. Sialan !! Ha..ha..ha, aku tertawa menyadari kebodohan diri sendiri.

 

Kuambil sebotol minyak lampu, menyiramkannya ke atas benda itu lalu kusulut api..BLUSSSHH..!!  sebentar kemudian aji-aji, bulle-bulle itu sudah terpanggang..!

Terbuktilah apa yang orang-orang katakan mengenai dukun, DATU (DUKUN), DATU=DAng Tutu = Tidak Benar

2 Responses

  1. ces… molo dang sala ompung Pio i marga sitorus do kan…??????

  2. Ido, tingki poso pangota do hurasa tingki naposo malo do mar-monsak haliang bogas ompung i🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: