I Was.., Years to Remember-Tahun-tahun Untuk Diingat

Akhir tahun atau awal tahun adalah semacam check point dalam perjalanan hidup kita, karena itulah banyak orang di akhir tahun atau di awal tahun membuat resolusi-resolusi atau komitmen-komitmen untuk satu tahun ke depan, resolusi adalah komitmen, yang berhulu pada keinginan dan bermuara pula pada keinginan yang bernama kualitas hidup yang lebih baik. Resolusi bisa macam-macam, bagi yang sedang kuliah dan menunggak beberapa SKS, tahun ini berjanji akan melunasinya, bagi yang gendut atau overweight membuat resolusi untuk menjalani diet ketat buat mendapat body ideal, yang jomblo dan jablay membuat resolusi untuk mendapatkan pacar tahun ini, bagi yang sedang bekerja membuat beberapa program untuk perbaikan karir, bagi ayah atau ibu membuat resolusi-resolusi untuk bisa lebih membahagiakan keluarga. Intinya resolusi yang dibuat orang macam-macam mulai dari yang iseng, realistis sampai yang rasanya mustahil. Tapi ini bukan cerita resolusi di tahun baru, walaupun saya pikir pertengahan Januari belum terlalu terlambat  bicara mengenai resolusi. Hanya saja, saya mulai belajar, berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, resolusi yang saya buat di akhir atau awal tahun sering sekali tidak terpenuhi bahkan sering sama sekali tidak saya jalankan. Kesimpulannya : “It didn’t work with me, Resolusi tidak cocok untuk saya J ”.  Berdasar itu pula tahun ini saya putuskan tidak membuat resolusi apa-apa, kenyataan hidup yang saya alami sering tidak terduga dan berada di luar rancangan saya. Sebagian bernilai tidak terlalu bagus, tapi di bagian lain sangat saya nikmati…but most of all I think my life is great, Thanks Lord. Mungkin itu cara Tuhan untuk menunjukkan kebenaran firmanNya pada saya bahwa rancangan kita bukan rancanganNya, sekaligus mengingatkan untuk menjalani hidup ini mengalir apa adanya.
Daripada bicara mengenai resolusi, maka saya putuskan untuk bercerita perjalanan hidup dalam penggalan decade-per sepuluh tahunan-, barangkali saja ada pelajaran yang bisa diambil, kalaupun tidak ada anggap saja ini ceracau dari sebuah radio rusak alias radio nasega-sega
J 
Sekarang tahun 2008, buat saya ini tahun yang berarti karena saya menginjak dekade ketiga dalam perjalanan hidup saya, kadang-kadang saya agak lancang, sok-sok-an istilah orang Medan sekaligus ketar-ketir dan merasa tak berguna jika membandingkan diri dengan Yesus Kristus yang menurut penelitian sejarah memulai perjalanannya – mengajar pada umur yang kurang lebih sama 30 tahun. Jika pada umur ini Yesus – terlepas dari fakta bahwa Dia Tuhan-, sudah bisa membuat langkah dan gerakan dari sebuah perjalanan singkat yang kelak membawa perubahan terhebat dan terdahsyat dalam sejarah perjalananan kehidupan umat manusia di bumi, bagaimana dengan saya ? what I have done? Apa yang sudah saya lakukan ? Nothing, belum apa-apa.. Tapi saya bersyukur, setidaknya itu saya sadari masih pada saat sekarang dengan segala keterbatasan saya, belum pada usia senja saya saat saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi bagi sesama, saat saya sudah menjadi beban bagi kemanusiaan.  Kembali kepada penggalan cerita dekade-an tadi…Saya mulai dari tahun 1988. Tahun ini adalah tahun istimewa bagi saya. Ini adalah tahun pertama sekali saya bisa melewati desa Galung (satu kampung kecil di pinggir jalan besar yang harus dilewati jika dalam perjalanan dari Parsoburan ke Medan). Sebelumnya daerah terjauh yang pernah saya jalani adalah desa ini, Galung, tidak pernah lewa karena begitu sampai disini (Galung) saya dan Bapak atau Ibu saya dan saudara-saudara yang lain –jika ada ulaon/ adat – harus turun dari mobil / bus untuk segera melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke kampung tulang saya : Lumban Ruhap.Bisa ikut ke kampung Tulang, Lumban Ruhap inipun adalah sudah satu kesempatan langka.Ada Ada semacam kebiasaan anak-anak dikampung kami, yang waktu itu sering membuatku banyak diam : menceritakan perjalanan terjauh yang pernah dialami. Ada teman yang sudah sampai ke tempat bapa tuanya, atau bapa udanya atau tulangnya di Balige, di Medan, Pekanbaru, Jakarta bahkan ada salah seorang yang abangnya ada yang di “Amerka” (dia menyebutnya amerka, bukan Amerika J) , kalau topik pembicaraan sudah ini saya selalu jadi pecundang, pernah sekali saya menyebut tempat terjauhadalah Galung, saya malah diolok-olok dengan berkata “Ah..dang terkenal, hira goarni horbo, horbo sihalung” (“Ah..itu tidak terkenal, mirip nama kerbau, kerbau Halung” *) kata salah seorang. Akhirnya daripada menjadi bahan olok-olok lebih baik saya diam. Sebelum tahun 1988 ini “kota tebesar “ yang saya jalani adalah Parsoburan, Ibukota Kecamatan, itupun setelah kelas tiga SD dibolehkan ikut “martanggal tujubelas”, sebutan untuk merayakan tujuh belasan”. Pertama sekali menginjak Parsoburan, saya berlama-lama memandangi jabu ni “Si Sinton na martigkat” J, “Jabu ni Si Sinton na martingkat ini semacam legenda bagi kami anak-anak di kampung pada waktu itu. Jabu ni Si Sinton na martingkat adalah sebutan bagi salah satu rumah bertingkat milik seorang juragan di Parsoburan. Rumah itu membuat saya terkagum-kagum, rumah bertingkat, tinggi, lebar dan panjang yang didesign mengikuti design rumah di kota besar lengkap dengan hiasan bunga-bunga di lantai atas. Rumah itu juga berpintu besi di depan dan di belakang, pokoknya tidak sembarang orang bisa masuk. “Pasti orang-orang di dalam rumah itu setiap hari bisa makan daging dan makan makanan yang enak-enak..”   Tahun itu saya masih kelas V (lima) SD, kesempatan untuk memecahkan rekor perjalanan terjauh : Galung, terbuka lebar ketika saya dan dua orang teman lain, setelah sebelumnya menjadi juara tingkat rayon, berhasil menumbangkan🙂  tim SD Negeri 1 Parsoburan dan SD St.Pius sebagai group unggulan dalam lomba cerdas tangkas tingkat SD se-kecamatan, SD kami, SD 01735 Lumbanrau (nomor Sekolah kami waktu itu) mewakili Kecamatan Habinsaran ke tingkat Kabupaten yang akan diadakan di Balige.Sebagai juara se-kecamatan, yang tentunya akan membawa nama kecamatan di tingkat kabupaten tentu saja kami diperlakukan bak raja, makan yang enak, uang jajan secukupnya dan perlengkapan disediakan dan disumbangkan oleh bapak camat, memang bukan pak camatnya yang kasih langsung, pak guru kami, dia berkata “Ini pemberian dari pak camat”, entah itu benar atau blow up supaya kami makin semangat..tidak tau. Waktu tidak terlalu memikirkan itu..Dan tentu saja, pemberian itu tidak cuma-cuma, ada igil-igilnya, ada maunya, harus menang atau minimal jangan malu-maluin, “Paling tidak unang pailahon..”

Begitulah, hari itu kami berangkat ke Balige, diantar oleh motor ni camat (Sebutan untuk mobil camat), saya masih ingat waktu itu mobilnya kijang petak, warna orange. Bisa naik mobil camat seperti dalam mimpi, karena biasanya kami hanya bisa melihatnya melintas di depan rumah, pada hari Sabtu atau Selasa..

Ada satu cerita lucu yang saya ingat persis hingga kini ketika dalam perjalanan ke Balige, mungkin karena terbawa euphoria-kesenangan luar biasa-, selama perjalanan saya tidak terlalu memperhatikan kta-kata guru yang mendampingi kami, termasuk kepala sekolah yang ketika sampai di Matio (satu huta/kampung kecil di puncak bukit, sehingga pemandangan ke daerah Toba terlihat jelas) berkata : “Candra, nian ma tao Toba , nian na di toru an”, (“Candra, Itulah Danau Toba, itu yang dibawah itu”). Danau Toba juga hanya ada dalam khayalan saya selama ini, tapi cerita keindahan dan betapa luasnya waktu itu sudah sering saya baca dan dengar. Saya tidak memperhatikan tangan guru saya menunjuk ke arah mana, dia sebut di bawah, saya melihat ke bawah.. Sambil memandangi “danau” dihadapan saya, yang agak jauh dibawah, saya berpikir keheranan sambil membatin …”Kenapa orang-orang mengagumi danau toba?, apanya yang hebat? biasa saja.., tidak luas.., airnya juga putih,.orang-orang bodoh, bapak saya juga punya danau seperti itu !”. Hingga kira-kira satu menit kemudian, secara tidak sengaja mata saya memandang jauh ke depan..jauh.., saya terkaget-kaget, sontak takjub dan kagum.. itu laut atau danau? Kekaguman saya disusul kesadaran itulah Danau Toba.Rupanya “danau toba” yang saya lihat tadi di belakang adalah “tobat”, empang, tempat penangkaran atau pembiakan ikan mas..pantas  saja airnya putih..Oala…Mengingat kebodohan itu saya seyum-seyum sendiri..malu J. Sampai sekarang kalau ingat itu masih suka seyum sendiri.Sekitar satu jam lebih kemudian kami sampai di Balige, istirahat sebentar, makan lalu langsung ke Aula sebuah sekolah menengah tempat cerdas tangkas tingkat kabupaten akan dimulai..pertandingan akan segera di mulai… Kadang-kadang belakangan ini saya suka mengagumi saya ketika masih anak-anak dan bertanya-tanya mengapa dulu saya bisa berhasil (sekalipun untuk skala yang sempit dan kecil). Banyak hal yang saya lakukan yang membuat orang tua saya bangga. Membuat sekolah dan guru-guru saya bangga. Membuat jemaat gereja saya bangga ketika gereja kami yang kecil bisa jadi juara cerdas-tangkas sekolah minggu, mengalahkan gereja yang digembalakan seorang pendeta. Mengemban tugas membawa nama baik kecamatan Habinsaran di tingkat kabupaten juga bukan tugas mudah.Dan keberhasilan-keberhasilan masa kecil itu tidak pernah dengan lewat resolusi-resolusi atau semacam komitmen di akhir tahun, baru saya sadari, kuncinya adalah ketulusan dan kemauan menjalani hidup apa adanya, tanpa ambisi aneh-aneh yang kadang diluar akal sehat sampai untuk mencapinya kadang-kadang harus mengorbankan sesama. Dan tentu saja iman dan kesediaan berserah pada satu kuasa : Tuhan. Seperti mungkin kebanyakan anak kecil, kadang-kadang pada malam sebelum pembagian rapor saya bangun tengah malam, berdoa supaya Tuhan memberikan nilai-nilai baik di rapor atau menjadikan tetap rangking, padahal rapor tersebut sudah selesai diisi oleh guru dua hari yang lalu? Looks silly but somehow it works.. Lalu bagaimana hasil cerdas tangkas tingkat kabupaten tadi? Dari sepuluh group yang bertanding, kami hanya menempati urutan keempat, tidak terlalu bagus memang tapi paling tidak minumun requirement dari “pak camat” masih dapat kami penuhi : “Jangan malu-maluin”, “Unang Pailahon I think..1988 adalah tahun yang pantas saya kenang karena waktu itu saya boleh mengemban tugas dari kampung saya: Habinsaran,Tahun itu juga tahun kemenangan secara khusus buat saya karena bisa memecahkan rekor perjalanan terjauhku selama ini, sekaligus menyadari bahwa jabu ni si Sinton adalah rumah biasa saja, tak perlu jadi sebuah legenda…  Continued to Tahun 1998..        

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: