“Atik Naung Holan Na Marsodap-sodap Do Halak i..” ?

Gomgom masih memandangi Kalender didepannya..ingatannya melayang ke kejadian satu setengah tahun yang lalu..

“Pokoknya Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga kumpulan harus direvisi, kumpulan ini sudah cukup mendapat malu, dalam 2 tahun ini ada 5 kasus!!” seru Bona tidak dapat menyembuyikan kegeramannya.

“Unang tutu holan na paborhat naung bunting dohot na tarsosak hita sian kumpulan on, padenggan ma i anggaran i” Junjung yang jarang bicara tapi suka bicara apa adanya buka suara.

Mendengar itu yang lain senyam senyum.. 

Hampir satu jam mereka berdiskusi mengenai perlu tidaknya penggantian ketua kumpulan di tengah jalan dan perlu tidaknya AD/ART direvisi mengingat masa kepengurusan yang tinggal 3 bulan lagi.

“Baiklah..!”, Amang Pasaribu sebagai penasehat umum yang sengaja mereka undang pada partangiangan kali ini, mencoba menengahi.”Jadi, saya pikir memang AD/ART itu sudah perlu direvisi, kita perlu membuat AD/ART yang lebih tegas!”.” Begitu juga untuk kepengurusan, kita akan lakukan penggantian hari ini juga!”

Begitulah, pada hari itu diputuskan untuk mengganti Tigor sang ketua yang dirasa sudah tidak layak  lagi menjabat ketua mengingat tindakannya yang mengharuskan dia menikah tarosak (mendadak), karena, sesuai pengakuannya setelah diminta keterusterangannya mengenai alasannya menikah mendadak, pacarnya Ratna sudah hamil dan menuntut untuk dinikahi segera. Secara halus, penasehat memintanya mengundurkan diri.

Bona yang dirasa paling pantas menggantikan posisi ketua, yang juga menjabat wakil ketua hari itu disahkan menjadi ketua yang baru.

Setahun kemudian, dengan alasan kesibukan pekerjaan Bona mengundurkan diri dari kepengurusan. Sesuai AD/ART organisasi, Gomgom yang menjabat wakil ketua, mengambil alih jabatan ketua.

Setelah itu Bona menghilang, tidak pernah datang partangiangan atau sekadar berkunjung ke sekretariat. Teman-temannya satu pekerjaanpun tidak ada yang tahu dia tinggal dimana. Sebagian bilang dia pindah ke ruli (rumah liar), sebagian lagi berkata dia pindah ke ruko (rumah toko).

Hingga seminggu sebelum menikah dia berkunjung ke sekretariat memberitahukan rencana pernikahannya. “Dengan Dahlia, teman satu kampung kita juga, tapi dia tidak masuk keanggotaan kumpulan” Katanya menjelaskan ketika ditanya siapa calonnya.

“Ooo..boru ni parhangir ido?” Tanya Sudung memperjelas..”Iya..iya benar Lae” jawab Bona.

Seminggu kemudian mereka pulang kampung untuk melangsungkan pernikahan, diberangkatkan dengan doa-doa dan ibadah singkat.

 

“Ayo Lae, ngga berangkat bareng?” Tanya Maju sambil menyorongkan kepalanya dari pintu, membuyarkan lamunannya. “Ya..ya, duluan saja..nanti saya menyusul” kata Gomgom sambil terus memandangi kalender di depannya. Sejurus kemudian Maju sudah berlalu dengan motornya.

Matanya kini beralih ke Buku AD/ART hasil revisi pada masa awal kepengurusan saat Bona menjadi ketua, mencari pasal 9 ayat 5 mengenai keanggotaan : “Barangsiapa diantara anggota kumpulan yang tinggal berdua serumah dengan teman perempuan atau laki-laki yang bukan keluarganya, maka Pengurus berhak memberi teguran pertama.

Ayat 6 : Jika dalam satu bulan setelah teguran pertama diberikan, kehidupan serumah dengan teman perempuan atau laki-laki tersebut masih diteruskan maka pengurus berhak melakukan teguran kedua.Ayat 7: Jika Dalam dua minggu setelah teguran kedua diberikan, kehidupan  seruma masih diteruskan maka Pengurus akan memberikan teguran ketiga sekaligus menyatakan anggota yang bersangkutan dikeluarkan /dipabali dari kumpulan. Dengan demikian pula berarti segala tindakan, perbuatan anggota yang bersangkutan di luar tanggung jawab kumpulan.  

Gomgom kembali mengalihkan pandangannya ke kalender di depannya, memandanginya dengan tatapan kosong hingga dia dikejutkan bunyi handphonenya.

“Halo..Lae Gomgom?” Suara Bona dari seberang. “Iya..” Sahutnya. “Sudah kumpul semua Lae, tinggal nunggu Lae, Udah kelaparan semua nih anggota” Lanjut Bona.

“Masa ini undangan esek-esek pertama dari saya ngga datang semua?, Tadi rombongan punguan Parsahutaon Natua-tua sudah lebih dulu dari sini” Lanjut Bona lagi seolah menekankan bahwa acara makan bersama dalam rangka esek-esek boru panggoarannya sangat penting, karena itulah acara esek-esek ini dia buat bersamaan dengan partangiangan bulanan naposo dan natua-tua hari ini. “Asa boi Rap Udur ro” Mungkin begitu pikirannya.

“Maaf Lae, saya ngga bisa datang..saya mau istirahat dulu..besok banyak pekerjaan, Sori jo ate !” Ujarnya sambil menutup handpone tanpa menunggu kalimat Bona lebih lanjut.

Sebelum keluar dari ruangan sekretariat itu, sekilas dia memandang sekalilagi pada kalender di depannya:

“Sekarang Bulan April.. Bona dan Dahlia menikah bulan November” gumamnya perlahan sambil melipat jari-jarinya satu persatu..seperti menghitung.. “. “Baru lima bulan.. dan sekarang sudah mar-esek-esek”

“Harusnya tadi saya menolak undangan maresek-esek itu..” Batinnya

Kembali ucapan Sudung yang memang terkenal suka bergurau, Sebulan sebelum Bona muncul..

Atik naung holan na marsodap-sodap do dohot hallet nai, ise pabereng-bereng i di ruli (rumah liar) an? ”

 Buat anak dan boru Batak yang tinggal di Pulau Batam, kota industri dengan fenomena kumpul kebonya  yang semakin marak dan angka kehamilan di luar nikah yang semakin meningkat, tak terkecuali di halak hita.. Anehnya disana banyak kumpulan/organisasi batak tapi sepertinya tutup mata dengan fenomena ini…

* esek-esek =Syukuran pada masyarakat Batak atas lahirnya putera/puteri dengan mengundang sanak family dan saudara untuk makan bersama. Biasanya dilakukan pada hari ke 7 setelah kelahiran si anak. 

* ruli=rumah liar, bangunan/rumah yang didirikan tanpa izin dari pemerintah, biasanya didirikan di lokasi yang jauh dari jalan raya. Dibangun dengan bahan seadanya, dinding dari kayu lapis tipis atau papan bekas, atapnya terbuat dari karet/getah, tanpa sanitasi yang memadai.

One Response

  1. kisah nyata doon kan lae..dikumpulan muna…
    memang hampir sude kumpulan do mangalami on, kumpulan marga nang parsahutaon, porlu do memang revisi AD/RT alai sudenai berpatokan to jolmana do, anggo tingki tabo nai nang di paboa tu kumpulan, alai dung kasus, ro ma mangalu-alu tu kumpulan, kan pailahon, anggo aua lae hupasombu namai, asa jora tu na asing…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: