“Sampai bertemu di Yerusalem Baru”..

“Sampai bertemu di Yerusalem Baru”..

Oleh Rev. Richard Ryan

 Hari itu dingin, tidak biasa di bulan Mei. Musim semi telah tiba dan segala sesuatu tumbuh beraneka warna. Aku duduk bersama dua orang teman dekat jendela yang bergambar dalam rumah makan yang unik di pojok taman kota. Makanan dan persahabatan kami terasa istimewa hari itu. Saat kami sedang berbincang-bincang, perhatianku tertarik ke seberang jalan. Di situ tampak seorang lelaki sedang menggendong seluruh barang miliknya pada punggungnya. Ia membawa tanda kusam yang bertuliskan, “Saya mau bekerja untuk dapat makan”. Hatiku terenyuh. Aku mengalihkan perhatian pada kedua temanku dan melihat bahwa orang disekitar kami berhenti menyantap makanannya untuk melihat orang tersebut. Banyak kepala digelengkan dengan kesedihan dan rasa tidak percaya. Kami meneruskan makanan kami, namun bayangannya tidak hilang dari pikiranku. Setelah menyelesaikan makan siang itu, kami berpisah. Ada hal yang harus aku kerjakan dan akupun bergegas hendak menyelesaikannya. Aku menoleh ke arah taman kota, mencari pengunjung aneh itu dengan setengah hati. Aku takut bahwa jika aku melihatnya lagi, aku merasa harus menanggapinya. Aku menyusuri kota dan tidak melihatnya lagi. Aku berbelanja dan kembali ke mobil. Dalam lubuk hatiku, Roh Tuhan terus berbicara padaku: “Jangan kembali ke kantor sebelum engkau mengelilingi taman itu sekali lagi.” Begitulah, dengan sedikit ragu, aku menuju ke kota. Saat aku mengitari tikungan taman, aku melihatnya. Ia sedang berdiri di tangga depan sebuah gereja, memeriksa isi tasnya. Aku berhenti dan memandang, merasa terpanggil untuk berbicara kepadanya, tetapi juga ingin terus melanjutkan perjalananku. Tempat parkir di pojok mungkin sebuah tanda dari Tuhan: undangan untuk parkir. Aku memarkirkan mobil, melangkah keluar, dan menghampiri pengunjung baru di kota ini. “Mencari pendeta, Pak?” tanyaku. “Tidak juga,” sahutnya. “Cuma istirahat.” “Anda sudah makan hari ini?” “Oh, saya makan sedikit tadi pagi.” “Anda mau makan siang dengan saya?” “Apakah Anda punya pekerjaan untuk saya?” “Tidak ada,” sahutku. “Aku datang ke kota ini untuk bekerja, tapi saya ingin mengajak Anda makan siang.” “Baiklah,” sahutnya sambil tersenyum. Selagi ia mulai mengumpulkan barang-barangnya, aku bertanya sebagai ‘basa-basi’: “Anda hendak ke mana?” “St. Louis.” “Asalnya dari mana?” “Oh, dari mana-mana; kebanyakan dari Florida.” “Sudah berapa lama Anda berjalan?” “Empat belas tahun,” begitu jawabnya. Aku tahu bahwa aku telah berkenalan dengan seorang yang tidak biasa. Kami duduk berseberangan dalam rumah makan yang sama dengan yang kutinggalkan beberapa menit sebelumnya. Rambutnya panjang lurus, dan janggutnya yang gelap, dicukur rapi. Kulitnya terbakar matahari, dan wajahnya sedikit lebih tua dari usianya yang 38 tahun. Matanya berwarna gelap, tetapi jernih, dan cara bicaranya fasih dan jelas. Ia membuka jaketnya dan terlihat kaos merah terang bertuliskan, “Yesus Adalah Cerita Tanpa Akhir!” Lalu, cerita Daniel, begitulah namanya, mulai terungkap. Ia mengalami hidup yang keras. Ia telah membuat beberapa pilihan yang salah dan menuai akibatnya. Namun empat belas tahun yang lalu, selagi berkelana melintasi negeri, ia berhenti di sebuah pantai di Daytona. Ia mencoba bekerja bersama beberapa orang yang sedang mendirikan tenda besar dan beberapa peralatan konser. Akhirnya, ia mendapatkan pekerjaan itu, tapi tenda besar itu bukan untuk sebuah konser, melainkan untuk kebaktian. Dalam kebaktian itu ia melihat kehidupan dengan lebih jelas. Ia menyerahkan hidupnya pada Tuhan. “Tidak ada yang sama sejak saat itu,” katanya. “Saya merasa Tuhan menyuruhku terus berjalan, jadi saya meneruskannya sampai empat belas tahun sekarang.” “Pernah merasa ingin berhenti?” “Kadang-kadang, ketika sedang mengalami kesulitan. Tapi, Tuhan telah memberikan panggilan ini. Saya membagikan Alkitab. Itu isi tas saya. Saya bekerja untuk membeli makanan dan Alkitab dan saya berikan Alkitab itu saat Roh-Nya menuntun saya.” Aku duduk tercengang. Temanku yang tunawisma ini ternyata bukan tidak mempunyai rumah. Ia sedang menjalani misi dan hidup seperti ini sebagai pilihan. Pertanyaan berkobar dalam kalbuku beberapa saat. Lantas aku bertanya: “Seperti apa rasanya?” “Apa?” “Berjalan-jalan di kota membawa semua milik Anda di punggung dan menunjukkan tanda itu?” “Oh, awalnya terasa memalukan. Orang pasti menatap dan berkomentar. Pernah ada yang melempar roti yang sudah hampir habis dan memberi isyarat yang menyatakan bahwa saya sama sekali tidak diinginkan berada di sekitar tempat itu. Tapi saya merasa rendah hati ketika saya sadar bahwa Tuhan menggunakan saya untuk menyentuh kehidupan dan mengubah cara pikir seseorang tentang orang-orang seperti saya.” Cara pikirku berubah. Kami menyelesaikan makanan penutup dan mengumpulkan barang-barangnya. Di pintu keluar ia berhenti dan menatapku sambil berkata, “Marilah, hai orang-orang yang diberkati Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan.” Aku merasa berdiri di tanah suci. “Anda mau tambahan Alkitab?” tanyaku. Ia mengatakan bahwa ia ingin memiliki terjemahan tertentu yang mudah dibawa dan tidak berat. Buku itu adalah buku kesukaannya. “Saya sudah membaca Alkitab 14 kali,” katanya. “Saya tidak tahu apakah kami punya terjemahan itu, tapi kita bisa mampir ke gereja dan melihat-lihat. ” Aku berhasil menemukan sebuah Alkitab yang cocok untuk teman baruku, dan ia kelihatan sangat berterimakasih. “Dari sini, Anda hendak kemana?” tanyaku. “Saya menemukan peta kecil di belakang sebuah kupon taman hiburan ini.” “Anda ingin bekerja di sana untuk sementara?” “Tidak. Saya hanya ingin ke sana. Saya rasa ada orang di bawah bintang di sana yang membutuhkan Alkitab, jadi saya akan ke sana.” Ia tersenyum, dan kehangatan jiwanya memancarkan ketulusan misinya. Aku mengantarnya kembali ke taman kota tempat kami bertemu dua jam sebelumnya, dan selagi kami di mobil, hari mulai hujan. Kami memarkir mobil dan menurunkan barang-barangnya. “Anda mau mengisi buku tanda tangan saya?” tanyanya. “Saya suka mengumpulkan pesan dari orang-orang yang saya jumpai.” Aku menulis dalam buku kecilnya bahwa pengabdian pada panggilannya telah menyentuh hidupku. Aku mendorongnya untuk tetap tabah. Dan aku meninggalkan sebait ayat, Yeremia 29:11. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” “Terimakasih, ” katanya. “Saya tahu bahwa kita baru berkenalan dan sebenarnya masih belum kenal benar, namun saya mengasihimu. ” “Saya tahu,” kataku. “Saya juga mengasihimu. ” “Tuhan itu baik.” “Ya, benar. Kapan terakhir kali Anda dipeluk?” tanyaku. “Wah, sudah lama sekali,” sahutnya. Jadi, di tikungan jalan yang sibuk, diiringi hujan gerimis, aku dan teman baruku berpelukan. Aku merasakan di dalam diriku sudah berubah. Ia memanggul tasnya, menyunggingkan senyum kemenangan dan berkata, “Sampai bertemu di Yerusalem Baru.” “Aku pasti ke sana!” jawabku. Ia memulai kembali perjalanannya dan pergi dengan tanda tergantung pada gulungan kasur dan tumpukan Alkitabnya. Ia berhenti dan berbalik serta berkata, “Kalau Anda melihat sesuatu yang mengingatkan Anda pada saya, apakah Anda mau mendoakan saya?” “Pasti!” aku berseru kembali. “Tuhan memberkatimu. ” “Tuhan memberkatimu. ” Dan itulah saat terakhir aku melihatnya. Akhir sore itu, saat aku meninggalkan kantor, angin dingin bertiup kencang. Aku mengenakan pakaian tebal dan bergegas ke mobil. Saat aku duduk dan meraih rem tangan, aku melihat sepasang sarung tangan kerja berwarna coklat yang usang ditaruh dengan rapi pada gagang rem. Aku memungutnya, terpikir akan temanku itu, dan bertanya-tanya, apakah tangannya akan tetap hangat tanpa sarung tangan ini. Aku teringat akan perkataannya: “Kalau Anda melihat sesuatu yang mengingatkan Anda pada saya, apakah Anda mau mendoakan saya?” Hari ini,sarung tangannya ada di atas meja kantorku. Ia telah menolongku melihat dunia dan kemanusiaan dengan cara yang baru, menolongku mengingat dua jam bersama temanku yang unik dan mendoakan misinya. “Sampai bertemu di Yerusalem Baru,” aku teringat akan perkataannya. “Ya, Daniel, kita pasti bertemu!” DUNIA MENGINGINKAN YANG TERBAIK DARI Anda, TETAPI ALLAH MENGINGINKAN SEMUA YANG ADA PADA Anda.

One Response

  1. terima kasih dapat ilmu baru tentang kekristenan kiranya TUHAN BERKATI PELAYANAN ANDA AMIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: