Prosa Sang Waktu 3

Aku hanya melihat airmata,…Airmata karena cinta dan putus asa,airmata yang membawa rasa rindu yang terungkapkan dan air mata dari hati yang terluka karenanya.Dinginnya udara disana telah membekukan hati seorang Shiva.
Hari hari berjalan sangat lambat baginya…setiap saat gelisah membakar jiwanya…dan kebekuan hati yang memilukan rasa.Di matanya ada bayangan dan pesona dari masa lalu, yang tercipta dari seorang wanita dari wangsa kuru.
Perkara ini telah membuat hidup Shiva separuh tak berarti, dimana air terasa hambar dan makanan telah membuatnya sakit….Memcoba menghapus rasa ini dan memberi rasa lain, yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan kemudian shiva pun berharap resah itu tak menyentuhnya lagi.
Tubuh dan jiwanya sekarat, lalu kemanakah ia akan membawa langkahnya saat ini….ketika terasa hidup tanpanya akan lebih tak tertahankan, dan dimana keramaian membuatnya jengah serta ia makan dan minum dari piring dan gelas yang kosong.
Aku tahu….Shiva masih menghormati hidup, setidaknya itu alasannya ia masih ada di antara kita. Shiva hanya takut pada dirinya sendiri, takut tak dapat mengatasi perkara ini. Haruskah ia mematikan cahayanya….. Akan tetapi ketika cahaya itu mati….maka ia tak akan dapat membuat cahaya yang sama lagi, dan itu akan membuatnya menjadi layu !Penderitaan itu sangat
mengganggunya, Dan selalu ia rasakan dalam setiap helai napasnya, mengalir di dalam darahnya…tak dapat kita rasakan …dan tak dapat ku gambarkan… Dia terjebak dalam rasa bersalah yang tak berkesudahan namun dia tak kuasa untuk membencinya.
Kurasakan….masih ada kehidupan dalam genggaman tangannya….tidak
begitu kuat….sedang saja….lemah barang kali….!
Kemudian haripun gelap lagi…dimana bintang bintang tampak berhamburan terpandang dari tepi pantai…dimana Shiva berdiri menatap langit berbatas laut…berharap menemukan jiwanya yang hilang….dan…suara angin kencang dan deburan ombak berirama dengan suasana hatinya yang dipenuhi oleh gejolak rasa.

Shiva berlari kencang menyusuri tepi pantai ….melawan angin dan berteriak sekuatnya untuk mengalahkan suara ombak …aku sang waktu…melihat dengan jelas…ada amarah keluar dari dalam dirinya…amarah yang selama ini ia jaga untuk tak keluar…namun kini batas kemampuannya untuk menahannya telah lewat…amarah itu keluar tak terkendali…..menghantam pasir dengan kepalan tangannya yang lemah bertubi-tubi…peluh dan darah bercampur mengalir bagaikan tak dirasakannya… menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi…meneriakan protes hati…Shiva tak pernah berharap cinta ini ada dalam dirinya….Dan ia pun terjaga dalam kebingungan hatinya.
Disini…tak kulihat airmata lagi…dan tak kulihat terbukanya mata
hati…tak ada yang bijak yang kurasakan dalam perkara ini…dan tak ada kata yang bisa ku katakan…dan hanya ada diam serta murka hati.
Aku sang waktu merasakan arti dari sebuah jiwa yang terambil.Aku sang waktu mencoba untuk mengerti derita ini baginya.Aku sang waktu yang tak mampu memutar kembali dari setiap perkara yangtelah terjadi.
Shiva Butuh di mengerti….Kucoba untuk melihat perkara ini dari kacamata Shiva, tentang kecantikan dan pesona dari wanita wangsa kuru,sehingga rahasia daya tariknya akan bisa kuketahui.
Jika cerita tentang pesona seorang wanita dari wangsa kuru terdengar di telinga semua orang….melalui bisikan daun-daun tentang pesona yang akan dikeluhkan kepada alam.
Wahai para sahabat, akan ku katakan kepadamu tentang apa yang tidak kamu lihat…sehingga kamu akan tahu, apa yang telah memikat hati seorang Shiva.
Dia butuh dimengerti dan dipahami…membiarkan rasa itu tetap ada dalam hatinya….dan biarkan rasa itu pergi bila saatnya tiba.Sekalipun dia tak pernah mau cinta itu ada di alam hatinya…akan tetapi …cinta itu telah hadir tampa pernah ia sadari sebelumnya.
Dan janganlah kamu menentang cinta.
Karena itu adalah anugrah bagi jiwamu.
Cobalah bertahan atas derita ini…dari malam ke malam dari siang ke siang Tapi semua gairahmu telah lenyap bersama rambut hitamnya.
Shiva….adalah hati yang tak berjiwa, terpisah…tak dapat
diubah…..kosong.
Akhirnya kebijakan hati telah datang dengan segala kepahamannya
Matahari menghiasi pagi dengan sinar keemasannya, menggantikan malam-malam yang penuh dengan bintang bintang keperakan. Pagi yang segar mengilhami kekuatan pada diri Shiva, untuk mencoba menempatkan masa lalu di belakang
jalannya…dan aku sang waktu telah melihat senyum itu datang lagi..senyum dengan seratus syair indah yang keluar dari sebuah pencerahan hati yang terluka…
Kurasakan ia telah berdamai dengan hati dan jiwanya
Dan Kurasakan…..
Tak ada lagi gejolak jiwa
Tak ada lagi pertentangan hati
Dan tak ada lagi resah diri
Semua telah diterima untuk menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Apakah ini adalah akhir sebuah cerita hidupnya !
Bukan….Kurasakan ini bukan sebuah akhir…
Namun….INI AWAL DARI KEBESARAN JIWA DAN HATI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: