Prosa sang Waktu 2

Sebuah hati yang lembut serta langkah yang bijak…dimana kata katanya dapat menenangkan setiap aura yang ada di sekelilingnya…Dia begitu spontan menyikapi hidup ini, dan dalam setiap persoalan yang terjadi dalam hidupnya, dia hanya yakin akan tiga cara.Yang pertama dengan cara yang benar Yang kedua
dengan cara yang salah Dan yang ketiga dengan caranya sendiri.
Aku Sang waktu mengakui kekerasan hatinya dan juga kelembutannya merupakan hasil dari apa yang ia lalui dalam kehidupan ini. Kepercayaan diri yang kuat telah membentuk dirinya menjadi kokoh seperti gunung, serta kasih dan cintanya mengalir bagaikan air di sungai yang jernih.Semua ada dalam dirinya …diri seorang “SHIVA”.
Shiva memiliki semua hal yang membahagiakan hidupnya, sebuah kombinasi yang kadang membuat orang disekelilingnya bingung dan tak pernah tahu apa yang sedang ia rencanakan… dan dia begitu spontan meyikapi hidup ini.

Dia memiliki seorang istri seperti Dewi Kunti, dimana kesabaran dan kebijaksanaan menjadi takdirnya, dan dia selalu menjadi inspirasi dalam kehidupan shiva, selalu memberi rasa yang sama sejak pertama Shiva bertemu. Seorang istri yang dicintainya.
Dan dia memiliki seorang Putri seperti Drupadi, dimana pesonanya dapat memikat setiap orang yang memandangnya, Seorang putri yang akan mewarisi semua yang telah Shiva bangun dalam kerajaannya.
Hidup begitu indah dengan berbagai warna-warna, yang selalu digoreskan diatas sebuah peta putih dari sebuah perjalanan yang sangat panjang.
Tapi… apa yang terjadi…sulit bagiku untuk memulai kisah ini, namun iniadalah kenyataannya, tentang hal yang tak dapat dihindari, meskipun oleh orang sekuat Shiva sekalipun.
Aku…sang waktu…dapat merasakan ada pesona yang menjerat hatinya,pesona yang tak semestinya harus ada, pesona yang tercipta dari seorang wanita dari Wangsa Kuru.Wanita yang telah memberikan secawan anggur diperjalanan hidup Shiva,dimana ketika lelah itu ada, serta dahaga yang menyeratkan jiwa, cawan
anggur itu selalu tersedia baginya…. Tapi… di Saat waktunya telah tiba, dimana cawan anggur dalam genggamannya tak memancar lagi, Shiva harus jatuh dalam kelelahan… untuk
mengharap dan mencari…sesuatu yang telah pergi.
Shiva mulai gelisah, tak sekejappun ia sanggup memejamkan mata. Jika malam telah tiba, dia pun pergi meninggalkan rumah, berjalan tak tentu arah, menerobos semak belukar, menuju padang belantara dengan langkah yang gontai, dia mencari sesuatu yang tak akan pernah ia temui lagi,kenangan pada wanita dari wangsa kuru telah membuat Shiva tak perduli akan segala bahaya yang akan menghadang. Dadanya dipenuhi akan kesedihan dan Jiwanya yang terluka
berbicara, mengisahkannya pada alam dan cakrawala,pada malam-malam yang hening, pada bulan yang berjaga, dan pada bintang-gemintang, pada semuanya ia kabarkan betapa Cinta telah membelenggunya, bagaimana kerinduan telah memadamkan harapan dan mimpinya.
Disini… aku sang waktu…telah menyaksikan sejarah dari seorang anak manusia, yang mempunyai segala kelebihan dalam hidupnya dan kemudianjiwanya harus jatuh dalam Pencobaan yang kelak akan memberikan banyak hal, yang tak dapat terbeli oleh harta yang ia miliki dan tak tergantikan oleh jaman ini, dan tak dapat dirasakan oleh siapapun meski oleh diriku sendiri…..
Apa yang telah terjadi pada Shiva……. Hatinya terbagi-bagi tak utuh lagi, dimana serpihan hati telah berserakan dibawah kakinya, ada sebagian yang terjerat kuat, sehingga begitu kuatnya, shiva harus menahan kepedihan dan duka ini….seorang diri…!
Berlalulah masa dimana orang-orang meminta pertolongan darinya…dan sekarang…adakah seorang penolong yang akan mengabarkan rahasia jiwanya pada wanita dari wangsa kuru !
Lihat …. lihatlah kenyataan ini…dimana cinta telah membuat Shiva yang kuat menjadi lemah tak berdaya…seperti anak yang hilang dari ibunya…dan tak memiliki harta…Cinta laksana air yang menetes di atas bebatuan…dan waktuku terus berjalan dan akhirnya bebatuan akan hancur berserakan seperti hatinya…Pria manakah yang dapat selamat dari api cinta ?
Ada kecewa, amarah, resah, lelah hati, kebimbangan mencari arti, kasih dan cinta, ada juga rindu bertalian cemburu, ada harapan yang hilang dan duri dari rasa bersalah atas semua ini, semua bercampur dalam keagungan dan rasa yang telah tercipta di dalam hatinya.
Shiva coba untuk berdiri diatas kaki yang telah menjadi lemah, mencoba untuk keluar dari setiap jengkal perkara ini…seorang diri…dan dengan caranya sendiri…
Shiva mulai beradu dengan maut…melukai hati orang-orang
disekelilingnya, membingungkan pikirannya sendiri, dan kemudian ketika matahari memerah memancarkan warnanya, seperti ikut memendam duka, dan Shiva pun berlari menuju bukit dengan sebuah pengharapan, dinginnya udara di atas sana akan memupuskan setiap jengkal perkara yang ada dalam dirinya.Dan apa yang terjadi !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: