Can’t Help Fallin in Love with U – UB40


When I said I love U.. I really mean it

Tahun Baru..

Bapa di surga.. tahun duaributujuh telah tiga hari telah berlalu
Terimakasih buat segala berkat materi luar biasa sepanjang tahun itu, luar biasa sehingga saya tidak bisa dan tak ingin menghitung dan menyebutnya dalam angka. Terimakasih buat kesehatan yang boleh saya miliki sepanjang tahun itu, Luar biasa..karena tak seharipun saya terbaring di tempat tidur karena sakit.
Terimakasih buat keluarga yang luar biasa yang boleh saya miliki sepanjang tahun itu, luar biasa karena kami hidup dalam damai sejahtera dan dalam kasih sayang yang dalam.
Terimakasih buat pekerjaan yang boleh saya miliki saat ini dengan segala keunikannya.
Terima kasih buat segala pergumulan hidup yang boleh saya alami sepanjang tahun itu, karena dengan begitu aku memalingkan wajah pada-Mu, melipat tangan dan berlutut memohon pertolongan.
Terimakasih buat sahabat-sahabat yang setia mendukungku sepanjang tahun ini.
Terimakasih juga buat beberapa “teman” yang boleh saya kenal sepanjang tahun itu, They’re so great

Bapa di Surga..
Di atas lutut rapuh yang terlipat..
Ampuni aku..jika ucapan syukur-ku lebih sering terucap lewat mulut daripada perbuatan nyata..
Ampuni aku atas makian dan kata-kata kasar tersembur dari mulutku yang membuat sesamaku terluka..
Ampuni aku..jika sepanjang tahun itu banyak keluhan di hatiku

Bapa di surga kini tahun duaribudelapan ada di hadapanku..
Masih dari-Mu

Saya tidak meminta Tuhan jauhkan aku dari segala kesukaran, karena aku tau itu akan membuatku sombong
Saya tidak meminta Tuhan jauhan aku dari masalah, karena itu akan membuatku meluupakanMu
Tapi saya memohon Tuhan hadir memberi pertolongan di saat masalah dan kesukaran itu datang, mengangkat saya setiap kali jatuh, supaya tetap sadar dan tau diri bahwa sesungguhnya aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
Dan jadikan aku baru, aku jenuh dengan warna bias ini..

Amin

“Atik Naung Holan Na Marsodap-sodap Do Halak i..” ?

Gomgom masih memandangi Kalender didepannya..ingatannya melayang ke kejadian satu setengah tahun yang lalu..

“Pokoknya Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga kumpulan harus direvisi, kumpulan ini sudah cukup mendapat malu, dalam 2 tahun ini ada 5 kasus!!” seru Bona tidak dapat menyembuyikan kegeramannya.

“Unang tutu holan na paborhat naung bunting dohot na tarsosak hita sian kumpulan on, padenggan ma i anggaran i” Junjung yang jarang bicara tapi suka bicara apa adanya buka suara.

Mendengar itu yang lain senyam senyum.. 

Hampir satu jam mereka berdiskusi mengenai perlu tidaknya penggantian ketua kumpulan di tengah jalan dan perlu tidaknya AD/ART direvisi mengingat masa kepengurusan yang tinggal 3 bulan lagi.

“Baiklah..!”, Amang Pasaribu sebagai penasehat umum yang sengaja mereka undang pada partangiangan kali ini, mencoba menengahi.”Jadi, saya pikir memang AD/ART itu sudah perlu direvisi, kita perlu membuat AD/ART yang lebih tegas!”.” Begitu juga untuk kepengurusan, kita akan lakukan penggantian hari ini juga!”

Begitulah, pada hari itu diputuskan untuk mengganti Tigor sang ketua yang dirasa sudah tidak layak  lagi menjabat ketua mengingat tindakannya yang mengharuskan dia menikah tarosak (mendadak), karena, sesuai pengakuannya setelah diminta keterusterangannya mengenai alasannya menikah mendadak, pacarnya Ratna sudah hamil dan menuntut untuk dinikahi segera. Secara halus, penasehat memintanya mengundurkan diri.

Bona yang dirasa paling pantas menggantikan posisi ketua, yang juga menjabat wakil ketua hari itu disahkan menjadi ketua yang baru.

Setahun kemudian, dengan alasan kesibukan pekerjaan Bona mengundurkan diri dari kepengurusan. Sesuai AD/ART organisasi, Gomgom yang menjabat wakil ketua, mengambil alih jabatan ketua.

Setelah itu Bona menghilang, tidak pernah datang partangiangan atau sekadar berkunjung ke sekretariat. Teman-temannya satu pekerjaanpun tidak ada yang tahu dia tinggal dimana. Sebagian bilang dia pindah ke ruli (rumah liar), sebagian lagi berkata dia pindah ke ruko (rumah toko).

Hingga seminggu sebelum menikah dia berkunjung ke sekretariat memberitahukan rencana pernikahannya. “Dengan Dahlia, teman satu kampung kita juga, tapi dia tidak masuk keanggotaan kumpulan” Katanya menjelaskan ketika ditanya siapa calonnya.

“Ooo..boru ni parhangir ido?” Tanya Sudung memperjelas..”Iya..iya benar Lae” jawab Bona.

Seminggu kemudian mereka pulang kampung untuk melangsungkan pernikahan, diberangkatkan dengan doa-doa dan ibadah singkat.

 

“Ayo Lae, ngga berangkat bareng?” Tanya Maju sambil menyorongkan kepalanya dari pintu, membuyarkan lamunannya. “Ya..ya, duluan saja..nanti saya menyusul” kata Gomgom sambil terus memandangi kalender di depannya. Sejurus kemudian Maju sudah berlalu dengan motornya.

Matanya kini beralih ke Buku AD/ART hasil revisi pada masa awal kepengurusan saat Bona menjadi ketua, mencari pasal 9 ayat 5 mengenai keanggotaan : “Barangsiapa diantara anggota kumpulan yang tinggal berdua serumah dengan teman perempuan atau laki-laki yang bukan keluarganya, maka Pengurus berhak memberi teguran pertama.

Ayat 6 : Jika dalam satu bulan setelah teguran pertama diberikan, kehidupan serumah dengan teman perempuan atau laki-laki tersebut masih diteruskan maka pengurus berhak melakukan teguran kedua.Ayat 7: Jika Dalam dua minggu setelah teguran kedua diberikan, kehidupan  seruma masih diteruskan maka Pengurus akan memberikan teguran ketiga sekaligus menyatakan anggota yang bersangkutan dikeluarkan /dipabali dari kumpulan. Dengan demikian pula berarti segala tindakan, perbuatan anggota yang bersangkutan di luar tanggung jawab kumpulan.  

Gomgom kembali mengalihkan pandangannya ke kalender di depannya, memandanginya dengan tatapan kosong hingga dia dikejutkan bunyi handphonenya.

“Halo..Lae Gomgom?” Suara Bona dari seberang. “Iya..” Sahutnya. “Sudah kumpul semua Lae, tinggal nunggu Lae, Udah kelaparan semua nih anggota” Lanjut Bona.

“Masa ini undangan esek-esek pertama dari saya ngga datang semua?, Tadi rombongan punguan Parsahutaon Natua-tua sudah lebih dulu dari sini” Lanjut Bona lagi seolah menekankan bahwa acara makan bersama dalam rangka esek-esek boru panggoarannya sangat penting, karena itulah acara esek-esek ini dia buat bersamaan dengan partangiangan bulanan naposo dan natua-tua hari ini. “Asa boi Rap Udur ro” Mungkin begitu pikirannya.

“Maaf Lae, saya ngga bisa datang..saya mau istirahat dulu..besok banyak pekerjaan, Sori jo ate !” Ujarnya sambil menutup handpone tanpa menunggu kalimat Bona lebih lanjut.

Sebelum keluar dari ruangan sekretariat itu, sekilas dia memandang sekalilagi pada kalender di depannya:

“Sekarang Bulan April.. Bona dan Dahlia menikah bulan November” gumamnya perlahan sambil melipat jari-jarinya satu persatu..seperti menghitung.. “. “Baru lima bulan.. dan sekarang sudah mar-esek-esek”

“Harusnya tadi saya menolak undangan maresek-esek itu..” Batinnya

Kembali ucapan Sudung yang memang terkenal suka bergurau, Sebulan sebelum Bona muncul..

Atik naung holan na marsodap-sodap do dohot hallet nai, ise pabereng-bereng i di ruli (rumah liar) an? ”

 Buat anak dan boru Batak yang tinggal di Pulau Batam, kota industri dengan fenomena kumpul kebonya  yang semakin marak dan angka kehamilan di luar nikah yang semakin meningkat, tak terkecuali di halak hita.. Anehnya disana banyak kumpulan/organisasi batak tapi sepertinya tutup mata dengan fenomena ini…

* esek-esek =Syukuran pada masyarakat Batak atas lahirnya putera/puteri dengan mengundang sanak family dan saudara untuk makan bersama. Biasanya dilakukan pada hari ke 7 setelah kelahiran si anak. 

* ruli=rumah liar, bangunan/rumah yang didirikan tanpa izin dari pemerintah, biasanya didirikan di lokasi yang jauh dari jalan raya. Dibangun dengan bahan seadanya, dinding dari kayu lapis tipis atau papan bekas, atapnya terbuat dari karet/getah, tanpa sanitasi yang memadai.

Ari Natal..Dang Boi Mulak Tu Huta..

Ari Sinen do sadarion, tanggal 24 Desember 2007, Mansai losok rohangku mula ulaon mardomu mai ala ndang boi iba mulak marari Natal alani angka siulaon dohot sihumisik nasoada.. Jadi Songon pasombu lungun, marsarito ma iba jolo taringot pengalaman niiba rupani tingki ari-ari natal najolo uju disi hadanakon dohot sihaposoon. Kisah nyata do on :)

Sarita naparjolo : “Ah..Dang Mar halo-halo Au..!”

Jadi na jolo jarang do rupani adong mik (microphone) di gareja na met-met isara ni huria pagaran. Jadi dilambung jabu nami dihuta adong do sada gareja nametmet, ruasna holan marpiga-piga ruma tangga do. Songon na hudok nangking dang hea marmik dohot marorgan di gareja on, holan martolap tangan pe shuhut marende nunga las rohani ruas i. Jadi tep ma i disana ari pesta adong ma nian ianakkon ni ruas i naung leleng karejo di jakarta, jadi songon hamauliateonna tu gareja dikirim bayon ma sa set microphone lengkap dohot ampli dohot speakerna. Las ma roha ni sintua ni gareja i manjalo, pintor dipasang ma ai marnatal nama bodari.  

Jumpa ma lao marliturgi, parjolo ma angka dakdanak. Jongjong ma angka dakdanak on lao pajojorhon. Urutanna (tangkas dope huingot :) ) : Si Musa, Si Nasib, si Dolok, si Juara, si Rentina dohot si Lasma. Ro ma Simusa, huhut angka hitir ditiop mik on (ai so he adiereng songon i), didokma mansai nanget : “Dimula ni mulana di tompa Debatama langit dohot tano..”, ro ma muse si Nasib didok liturgina. Sahat ma tu si Dolok, dijaloma mik on sia sia Nasib dipajojonok ma tu simanghudapna huhut ma didok “Ah…dang marhalo-halo* au !” ninna huhut dipasahat micropohone i tu si Juara, holan i..dang didok sipajojoronna :)

Mengkel-engkel ma sude namarnatal i..

*Molo dihuta nami mandok Mic dang Mic didok..halo-halo do

Sarita na Paduahon : “Pajempek jo Ompung Celanakkon”

Molo dihuta somal do molo lao ari natal dohot taon baru dituhor natua-tua baju taon baru di ianakkonna. Adong ma dakdanak hombar jabu do on tong, dituhor oma na ma diibana celana, las ma roha ni baion manjalo, pintor di uji ma tu kamar..hape mangajanghu. Ro  ma ibana, didapothon ma omak na, “oma.. maganjanghu do celana i, pajempek jo..!” ninna. “Olo, annon ma adong dope karejokku, jolo sae ma on..” ninna omakna. O.. antong tu ompung nama jo dohononku ninna roha ni baion..didapothon ma ompungna, “Ompung adong dituhor oma celanakku, alai maganjanghu, potong jo..pajempek jo ” ninna ibana.. Ompung na on pe tong adong ulaonna.. ” Adong dope ulaonku, jolo sidung ma on..! Disi ma baen di meja i” ninna ompungna.  “Olo…” ninna bao on huhut di peak hon di meja i, laos lao marmeami. Tep ma i …sidung ma ulaon ni omak na, dibuat omak na on ma celana i huhut diboan tu masin jahit, dipotong ma celana i lao pajempek hon. Sae ma antong..dibaen ma muse tu meja i. Asa sian i dibuat ibana annon ninna roha ni oma na i.., laos lao manguduti ulaonna naasing. Dang sadia leleng sae ma tong ulaon ni ompung na, Hupajempek ma jo celana ni pahompukkon ninna rohana, dibuat ma sian meja i, diboan tu masin jait, digotap ma tong celana i laho pajempenghon, Gabe pajempekhu ma celana i ai nunga dua hali dipajempek..

Sarita na patoluhon : Hasangapon ma di Debata na diginjang..”

Adong ma dongankku, goarna si Bangkit, jadi goarni bapak ni baon si Halomoan. Jadi molo di huta tongka/pantang do goaran natua-tua dang songon di kota nuaeng, goarni bapakna pe dipajou-jou.  Disana ari natal, tingki sikkola minggu dijalo baon ma liturgina. Di jahama : “Hasangapon ma di Debata na diginjang, dame ma di tano on diangka jolma halomoan i..!” Marungkil ma rohana, ai ikkon dohononna goarni bapakna. Diprotes ibana tu guru sikkola minggu : “Dang di au on, goarni bapakhu do on”. “Dang pola boa i, ai hata ni Tuhan do i, dang mabiar bapak mu tu Tuhan?” ninna guru sikkola minggu i, ido tutu ninna roha ni baon.. baenma!.. Pendek hata rupani, sahat ma tingki marnatal. “Gogo dok annon sipajojoronmu amang dah ” ninna bapakna. “Olo..” ninna baon alai sai tong marungkil rohana, bah..goaranhu ma  bapakhu di jolo ni jolma, sai godang ni? ninna rohana.., alai songonon nama dohononkku ninna rohana. Tep ma..ibana na ma lao tu jolo mandok sipajojoronna. Dijalo ma mik on huhut ma didok gogo : “Hasangapon ma di Debata di Ginjang, dame ma di tanoon diangka jolma Bapakku..!”..

Another Story of Christmas..Sebuah Kisah Lain Tentang Natal..

Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain.Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Dia sunguh-sungguh tidak percaya.“Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih,” kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja. “Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya ”

Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka.
“Saya tidak mau menjadi munafik,” jawabnya.“Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang.”Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan.

Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali.

Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.

Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka? Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam.

Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.

Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.

“Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan,” kata pria itu pada dirinya sendiri, “dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman.”

Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi.

Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut

Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata,

“Sekarang saya mengerti,” bisiknya dengan terisak.

“Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia.”

……..SELAMAT NATAL DUNIA….

Nama-nama “Perusahaan” halak Hita :)

Gua tarik dari salah satu postingan gua tahun lalu di salah satu milis..

Gara-gara salah satu postingan dari anggota milis (Ito Veronika) yang nyari montir jadi teringat pengalaman yang sering membuat saya senyum-senyum sendiri..

Ceritanya begini :

Ketika baru sampai di kota tempat saya sekarang bermukim, saya langsung mencari saudara2 yang halak hita..biasa, ketika kenalan dengan salah seorang dari mereka..begitu saya sebut marga : “Siregar”, lantas dia bertanya : Siregar apa ?, saya jawab Silali. Lalu lanjutnya :

“Wah.. saya juga punya Amangboru marga Siregar tapi bukan siregar Silali, dia Siregar Dinamo !”.

Saat itu saya tau dia salah atau sekedar bercanda..tapi tak urung membuat saya bertanya2 dalam hati : ” Siregar Dinamo ?…apa ada ya ??”

Masih penasaran…

Besoknya ketika melintas disalah satu jalan di kota ini..tanpa sengaja saya melihat salah satu bangunan dipinggir jalan dengan plank bertuliskan “Regar Dinamo : Menerima Service Dinamo, Kabel-Kabel, Radiator, Lampu Mobil dll”..Oo..o hh.. :D

Sejak itu setiap kali melihat “perusahaan” khas halak hita (bengkel, rumah makan, tambal ban/isi angin dll) saya selalu melirik nama usahanya :

Dan ini dia temuan-temuan yang sempat saya ingat :

- Regar Dinamo (Siregar tukang dinamo)

- Kalit Tukang Las (Simanungkalit tukang las)

- Purba CERVIX ..kalo ini..asle membuat saya ngakak..spelling Service-nya itu loh..C-E-R-V-I-X.., mungkin maksudnya supaya kedengaran lebih teknikal, padahal tau kan itu apa ? * (anyway…maksudnya adalah Purba bengkel motor)

- Lubis Ikan Mas (Lubis jualan ikan mas)

- Paung Radiator (Marpaung tukang radiator)

- Mora Electronics (Simamora – bengkel elektronik)  

- 766-Hi Bubut (Silalahi Tukang Bubut)

- Tobing Babi Panggang..halah.. :) (Lumbantobing parbabi panggang) 

- Naga TK.Talang (Sinaga Tukang talang)

- dll

Horas..

Siregar Besi tua (halah….ternyata ikutan juga :) )

*Cervix =  mulut rahim

Opera Batak, Riwayatmu Kini…

Pernah dengar Opera batak?Jenis kesenian teater rakyat itu ternyata sempat merajai dunia hiburan di Sumatera Utara. Hingga dekade 1980-an, opera Batak merupakan tontonan menarik meski diadakan di lapangan terbuka dengan  resiko misbar (gerimis bubar : bila gerimis datang maka pertunjukan pun bubar J ).Pada  masa jayanya, group opera jumlahnya mencapai 30-an. Diantaranya : Serindo, Serada, Rompemas, Seribudi, Roos, Ropeda, Serbungas, Roserda, Sermindo dan lain-lain.Opera menyajikan cerita sandiwara yang diselingi lagu-lagu, tari-tarian dan lawak. Musik pengiringnya uning-uningan atau seperangkat alat musik tradisional batak yang terdiri dari serunai, kecapi, seruling, garantung, odap dan hesek. Panggungnya sederhana namun cukup unik. Bentuknya menyerupai rumah adat Batak dan diberi hiasan gorga (ukiran khas batak) serta nama operanya. Panggung sengaja diberi lukisan atau property sebagaimana tuntutan cerita. Sebuah tirai penutup menjadi alat penghubung pergantian adegan atau bila acara berganti ke selingan lagu, tari atau lawak. Makanya, opera batak sama durasinya dengan film India. Apalagi kalau sang primadona mampu menghipnotis penonton hingga saweran banyak mengalir, tak jarang sebuah lagu dilama-lamain. Penonton puas meski pertunjukan usai dini hari. Tak peduli pulang menembus kegelapan malam. Maklum saja, tidak seperti sekarang ini alat penerangan listrik pada masa itu belum menjangkau pelosok pedesaan di Sumatera Utara. Nah suasana panggung opera hanya diterangi lampu petromak yang lazim disebut lampu gas, yang terkadang mesti diturunkan untuk menambah angin atau karena kehabisan minyak. Mirip ludruk atau wayang wong dipulau Jawa, opera Batak biasanya berkeliling dari desa ke desa. Sasarannya tentu desa yang baru selesai panen dengan tujuan agar peluang menyedot penonton lebih terbuka. Lama pementasan di sebuah desa tergantung dari kondisi namun biasanya tidak sampai sebulan. Mengingat dunia hiburan jaman dulu terbilang langka tidak heran bila kehadiran opera selalu ditunggu-tuggu masyarakat.Karena berlokasi di alam terbuka maka bukan suatu kejanggalan bila penontonnya duduk margobar atau mengenakan sarung atau selimut untuk melawan dinginnya angin malam. Yang unik, bila tidak ada uang, tiket bisa digantikan beras atau hasil sawah lading asal sesuai dengan nilai tukar yang disepakati J.

Sehingga sering diplesetkan orang.. monis pe dijalo do.. J

 

Tilhang Gultom

 Membicarakan dunia opera Batak tentu tidak lepas dari nama tokoh Tilhang Gultom. Pria kelahiran Desa Sitamiang, Pulau Samosir ini pantas disebut maestro dan pelopor opera Batak. Tak hanya sekedar pelopor, lewat karya-karyanya lahir ratusan cerita sandiwara, tari-tari dan juga lagu yang menjadi trade mark dalam setiap pementasan opera yang ada di Sumatera Utara, yang bahkan sampai sekarang lagu-lagunya masih akrab di telinga kita..Sejak usia muda, Tilhang telah mengabdikan dirinya pada dunia seni. Tahun 1925, untuk pertama kalinya ia membentuk group trio yang diberi nama Tilhang Parhasapi yang berarti : Tilhang Sang Pemetik Kecapi. Rekannya adalah Pipin Butar-butar (peniup Serunai) dan Adat Raja Gultom (kecapi rythem). Meski belum disebut opera, group inilah yang menjadi cikal-bakal terbentuknya group opera yang pertama : Opera Serindo, Grup yang paling popular hingga teater rakyat itu akhirnya tinggal kenangan. Tak bisa dipungkiri, lahirnya opera batak tidak lepas dari jenis opera yang mulai berkembang sebelumnya di timur jauh, misalnya grup Dardanella dan Miss Tjitjih. Tilhangpun terinspirasi sehingga menambah anggotanya dan mulai menyuguhkan sandiwara, lagu dan tari. Tiga tahun berikutnya grup Tilhang maju pesat bahkan memiliki anggota 50 orang.Surat kabar Pertjatoeran, edisi 15 agustus 1928 menyebutkan, pada bulan tersebut, opera Tilhang telah bermain di pasar malam Balige dan Siborong-borong. Sebagai catatan, pada masa itu pemain opera hanya terdiri dari kaum pria. Kondisi zaman agaknya masih tabu bagi kaum wanita untuk melakoni kehidupan opera. Dasar Tilhang, laki-lakipun dimakeupnya menjadi wanita sehingga penonton sering terkecoh. Tokoh wanita yang cukup popular pada masa itu adalah Johanis Situmorang, yang sering mendapat surat ungkapan rasa cinta dari para penggemarnya. Bahkan di barak mereka Johanis sering pula terpaksa minggat, menghindari fansnya yang ingin ketemu.Setahun kemudian, Tilhang mengganti nama operanya menjadi Batak Sitamiang. Kemudian ganti lagi menjadi Tilhang operaBatak (TOB).Hebatnya tahun 1933, TOB sudah merambag semenanjung Malaka dan tampil di Penang dan Singapura.Tahun 1936 TOB berganti nama lagi menjadi Tilhang Batak Hindia Toneel (TBHT). Kenapa berbau irlandeer, ini akibat instruksi pihak penjajah Belanda. Pada periode tersebut pemainnya mencapai 60 orang. Grup Tilhang gaknya sudah ditakdirkan berganti-ganti nama. Tahun itu juga TBHT berganti nama menjadi Tilhang Toneel Gezalschap (TTG). Dan sejak Jepang menjajah Indonesia TTG berganti menjadi sandiwara Asia Timur Raya. Tilhang tak kuasa membendung intervensi Gun Seikanbu atau Pemerintah Jepang. Faktor ini pula yang membuat Tilhang memilih operanya mati suri daripada menjadi alat propaganda Jepang.

“Sampai bertemu di Yerusalem Baru”..

“Sampai bertemu di Yerusalem Baru”..

Oleh Rev. Richard Ryan

 Hari itu dingin, tidak biasa di bulan Mei. Musim semi telah tiba dan segala sesuatu tumbuh beraneka warna. Aku duduk bersama dua orang teman dekat jendela yang bergambar dalam rumah makan yang unik di pojok taman kota. Makanan dan persahabatan kami terasa istimewa hari itu. Saat kami sedang berbincang-bincang, perhatianku tertarik ke seberang jalan. Di situ tampak seorang lelaki sedang menggendong seluruh barang miliknya pada punggungnya. Ia membawa tanda kusam yang bertuliskan, “Saya mau bekerja untuk dapat makan”. Hatiku terenyuh. Aku mengalihkan perhatian pada kedua temanku dan melihat bahwa orang disekitar kami berhenti menyantap makanannya untuk melihat orang tersebut. Banyak kepala digelengkan dengan kesedihan dan rasa tidak percaya. Kami meneruskan makanan kami, namun bayangannya tidak hilang dari pikiranku. Setelah menyelesaikan makan siang itu, kami berpisah. Ada hal yang harus aku kerjakan dan akupun bergegas hendak menyelesaikannya. Aku menoleh ke arah taman kota, mencari pengunjung aneh itu dengan setengah hati. Aku takut bahwa jika aku melihatnya lagi, aku merasa harus menanggapinya. Aku menyusuri kota dan tidak melihatnya lagi. Aku berbelanja dan kembali ke mobil. Dalam lubuk hatiku, Roh Tuhan terus berbicara padaku: “Jangan kembali ke kantor sebelum engkau mengelilingi taman itu sekali lagi.” Begitulah, dengan sedikit ragu, aku menuju ke kota. Saat aku mengitari tikungan taman, aku melihatnya. Ia sedang berdiri di tangga depan sebuah gereja, memeriksa isi tasnya. Aku berhenti dan memandang, merasa terpanggil untuk berbicara kepadanya, tetapi juga ingin terus melanjutkan perjalananku. Tempat parkir di pojok mungkin sebuah tanda dari Tuhan: undangan untuk parkir. Aku memarkirkan mobil, melangkah keluar, dan menghampiri pengunjung baru di kota ini. “Mencari pendeta, Pak?” tanyaku. “Tidak juga,” sahutnya. “Cuma istirahat.” “Anda sudah makan hari ini?” “Oh, saya makan sedikit tadi pagi.” “Anda mau makan siang dengan saya?” “Apakah Anda punya pekerjaan untuk saya?” “Tidak ada,” sahutku. “Aku datang ke kota ini untuk bekerja, tapi saya ingin mengajak Anda makan siang.” “Baiklah,” sahutnya sambil tersenyum. Selagi ia mulai mengumpulkan barang-barangnya, aku bertanya sebagai ‘basa-basi’: “Anda hendak ke mana?” “St. Louis.” “Asalnya dari mana?” “Oh, dari mana-mana; kebanyakan dari Florida.” “Sudah berapa lama Anda berjalan?” “Empat belas tahun,” begitu jawabnya. Aku tahu bahwa aku telah berkenalan dengan seorang yang tidak biasa. Kami duduk berseberangan dalam rumah makan yang sama dengan yang kutinggalkan beberapa menit sebelumnya. Rambutnya panjang lurus, dan janggutnya yang gelap, dicukur rapi. Kulitnya terbakar matahari, dan wajahnya sedikit lebih tua dari usianya yang 38 tahun. Matanya berwarna gelap, tetapi jernih, dan cara bicaranya fasih dan jelas. Ia membuka jaketnya dan terlihat kaos merah terang bertuliskan, “Yesus Adalah Cerita Tanpa Akhir!” Lalu, cerita Daniel, begitulah namanya, mulai terungkap. Ia mengalami hidup yang keras. Ia telah membuat beberapa pilihan yang salah dan menuai akibatnya. Namun empat belas tahun yang lalu, selagi berkelana melintasi negeri, ia berhenti di sebuah pantai di Daytona. Ia mencoba bekerja bersama beberapa orang yang sedang mendirikan tenda besar dan beberapa peralatan konser. Akhirnya, ia mendapatkan pekerjaan itu, tapi tenda besar itu bukan untuk sebuah konser, melainkan untuk kebaktian. Dalam kebaktian itu ia melihat kehidupan dengan lebih jelas. Ia menyerahkan hidupnya pada Tuhan. “Tidak ada yang sama sejak saat itu,” katanya. “Saya merasa Tuhan menyuruhku terus berjalan, jadi saya meneruskannya sampai empat belas tahun sekarang.” “Pernah merasa ingin berhenti?” “Kadang-kadang, ketika sedang mengalami kesulitan. Tapi, Tuhan telah memberikan panggilan ini. Saya membagikan Alkitab. Itu isi tas saya. Saya bekerja untuk membeli makanan dan Alkitab dan saya berikan Alkitab itu saat Roh-Nya menuntun saya.” Aku duduk tercengang. Temanku yang tunawisma ini ternyata bukan tidak mempunyai rumah. Ia sedang menjalani misi dan hidup seperti ini sebagai pilihan. Pertanyaan berkobar dalam kalbuku beberapa saat. Lantas aku bertanya: “Seperti apa rasanya?” “Apa?” “Berjalan-jalan di kota membawa semua milik Anda di punggung dan menunjukkan tanda itu?” “Oh, awalnya terasa memalukan. Orang pasti menatap dan berkomentar. Pernah ada yang melempar roti yang sudah hampir habis dan memberi isyarat yang menyatakan bahwa saya sama sekali tidak diinginkan berada di sekitar tempat itu. Tapi saya merasa rendah hati ketika saya sadar bahwa Tuhan menggunakan saya untuk menyentuh kehidupan dan mengubah cara pikir seseorang tentang orang-orang seperti saya.” Cara pikirku berubah. Kami menyelesaikan makanan penutup dan mengumpulkan barang-barangnya. Di pintu keluar ia berhenti dan menatapku sambil berkata, “Marilah, hai orang-orang yang diberkati Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan.” Aku merasa berdiri di tanah suci. “Anda mau tambahan Alkitab?” tanyaku. Ia mengatakan bahwa ia ingin memiliki terjemahan tertentu yang mudah dibawa dan tidak berat. Buku itu adalah buku kesukaannya. “Saya sudah membaca Alkitab 14 kali,” katanya. “Saya tidak tahu apakah kami punya terjemahan itu, tapi kita bisa mampir ke gereja dan melihat-lihat. ” Aku berhasil menemukan sebuah Alkitab yang cocok untuk teman baruku, dan ia kelihatan sangat berterimakasih. “Dari sini, Anda hendak kemana?” tanyaku. “Saya menemukan peta kecil di belakang sebuah kupon taman hiburan ini.” “Anda ingin bekerja di sana untuk sementara?” “Tidak. Saya hanya ingin ke sana. Saya rasa ada orang di bawah bintang di sana yang membutuhkan Alkitab, jadi saya akan ke sana.” Ia tersenyum, dan kehangatan jiwanya memancarkan ketulusan misinya. Aku mengantarnya kembali ke taman kota tempat kami bertemu dua jam sebelumnya, dan selagi kami di mobil, hari mulai hujan. Kami memarkir mobil dan menurunkan barang-barangnya. “Anda mau mengisi buku tanda tangan saya?” tanyanya. “Saya suka mengumpulkan pesan dari orang-orang yang saya jumpai.” Aku menulis dalam buku kecilnya bahwa pengabdian pada panggilannya telah menyentuh hidupku. Aku mendorongnya untuk tetap tabah. Dan aku meninggalkan sebait ayat, Yeremia 29:11. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” “Terimakasih, ” katanya. “Saya tahu bahwa kita baru berkenalan dan sebenarnya masih belum kenal benar, namun saya mengasihimu. ” “Saya tahu,” kataku. “Saya juga mengasihimu. ” “Tuhan itu baik.” “Ya, benar. Kapan terakhir kali Anda dipeluk?” tanyaku. “Wah, sudah lama sekali,” sahutnya. Jadi, di tikungan jalan yang sibuk, diiringi hujan gerimis, aku dan teman baruku berpelukan. Aku merasakan di dalam diriku sudah berubah. Ia memanggul tasnya, menyunggingkan senyum kemenangan dan berkata, “Sampai bertemu di Yerusalem Baru.” “Aku pasti ke sana!” jawabku. Ia memulai kembali perjalanannya dan pergi dengan tanda tergantung pada gulungan kasur dan tumpukan Alkitabnya. Ia berhenti dan berbalik serta berkata, “Kalau Anda melihat sesuatu yang mengingatkan Anda pada saya, apakah Anda mau mendoakan saya?” “Pasti!” aku berseru kembali. “Tuhan memberkatimu. ” “Tuhan memberkatimu. ” Dan itulah saat terakhir aku melihatnya. Akhir sore itu, saat aku meninggalkan kantor, angin dingin bertiup kencang. Aku mengenakan pakaian tebal dan bergegas ke mobil. Saat aku duduk dan meraih rem tangan, aku melihat sepasang sarung tangan kerja berwarna coklat yang usang ditaruh dengan rapi pada gagang rem. Aku memungutnya, terpikir akan temanku itu, dan bertanya-tanya, apakah tangannya akan tetap hangat tanpa sarung tangan ini. Aku teringat akan perkataannya: “Kalau Anda melihat sesuatu yang mengingatkan Anda pada saya, apakah Anda mau mendoakan saya?” Hari ini,sarung tangannya ada di atas meja kantorku. Ia telah menolongku melihat dunia dan kemanusiaan dengan cara yang baru, menolongku mengingat dua jam bersama temanku yang unik dan mendoakan misinya. “Sampai bertemu di Yerusalem Baru,” aku teringat akan perkataannya. “Ya, Daniel, kita pasti bertemu!” DUNIA MENGINGINKAN YANG TERBAIK DARI Anda, TETAPI ALLAH MENGINGINKAN SEMUA YANG ADA PADA Anda.

Mengkel Nama Au !~Saya Hanya Bisa Tertawa!

Image Hosted by ImageShack.us

Mengkel Nama Au ~ Tongam Sirait

Akhir-akhir ini ada perubahan yang tidak saya suka dari diri saya, saya jadi melankolis!
Padahal sepanjang yang saya ingat, tanpa bermaksud jumawa, sudah terlalu banyak hal dalam hidup yang saya alami yang sebenarnya cukup untuk membuatku untuk tidak sampai disini, tapi sejauh ini entah dengan kekuatan darimana…masih bisa saya lalui.
Kendati begitu, dua tahun terakhir ini, hingga kini masih terasa, ada beberapa peristiwa yang membuat saya kini sering merenung apa, mengapa begini dan akan kemana arah hidup ini? 
Terus terang saya bukan orang yang cukup religius, yang menurut bahasa yang alkitabiah : memiliki hikmat yang cukup untuk memasrahkan kepada “Satu Kuasa” yang sama sekali tidak dapat saya sentuh, tidak dapat saya lihat. (Atau mungkinkah di “ketidakberhikmatan” itulah sebenarnya sumber kegagalan dan ketidakjelasan arah hidup yang saya alami kini?? Entahlah..).

Kembali ke soal saya jadi seorang yang melankolik tadi, tadi pagi -mumpung hari Sabtu-, sambil melakukan pekerjaan yang tidak seberapa urgent saya menikmati alunan lagu-lagu batak yang terkenal (kebanyakan) melankolis cenderung cengeng. Playlist yang diset play-random menghantar untuk mendengar satu lagu dari Tongam Sirait dari album “Nommensen” bertitel “Mengkel Nama Au”.
Liriknya kurang lebih bercerita tentang ketidakberhasilan atau ketidakpuasan dengan apa yang telah diperoleh dalam hidup pada usia/umur  yang sudah sekian..Sambil menikmati saya bergumam :”hmm..begitulah hidup ini ..”
Selain lagunya memang bagus -tanpa bumbu melankolis :) -, suara tawa Tongam dan lirik kata horas mengakhiri lagu ini dengan manis, akhir unik ini cukup kuat untuk menyiratkan : bahwa banyak hal-hal yang memang tidak dapat kita raih dalam hidup ini, bahwa banyak hal dalam kehidupan ini yang berada diluar jangkauan dan kemampuan kita, jika sudah begitu tidak perlu memaksa diri, tidak perlu bersedih, Tertawalah…!
“…Mengkel nama au unang marsak au..”
“…Mengkel nama au unang holsoan au..
“…Horas..asalma sai horas..”

Lirik lengkapnya :Jumpang Ari, Jumpang Bulan..Jumpang Nang Taon Muse
Ari-ari Tapasuda, So Adong Namoru Hape..
Nunga Lam Suda Ari-Arikku
Nunga Lam Loja Mamingkiri
So Adong Namuba Dope
Hape Umur Nunga Lam Matua So Tarulahan
Hape Daging Pe Nunga Lam Loja So Tarambatan
So Adong Nahudapot dope


Mengkel Nama Au..unang holsoan Au
Mengkel Nama Au ..unang marsak Au
Iee..iee..

Nunga Lam Suda Ari-arikku
Nunga Lam loja mamingkiri
So Adong Namuba Dope
Hape Umur nunga Lam matua so tarulahan
Hape Daging Pe Nunga lam Loja So Tarambatan
So Adong Nahudapot dope
Mengkel Nama Au..unang holsoan Au
Mengkel Nama Au ..unang marsak Au
Iee..iee..
Horas..Horas..
Horas…Horas..
Asal ma Sai Horas..

About the Album :
Album : “Nommensen”
Artist : Viky Sianipar, Featuring : Tongam Sirait
Tahun : 2004
Lagu-lagu dalam album ini bergenre pop rock yang dipadu dengan musik tradisional batak dengan sangat apik oleh Viky Sianipar..
Lagu “Mengkel Nama Au” dalam album ini buat saya pribadi merupakan salah satu lagu batak terbaik yang pernah saya dengar.
Hanya heran..kok nampaknya lagu dan album ini tidak begitu populer ya ?? :(

Mudah-mudahan ada yang penasaran lagunya seperti apa :)
With Thanks to Lae Charlie (Silaban.Net), Nah kalo mau dengar lagunya seperti apa, Silaban.Net, punya podcast-nya. Click saja disini : http://www.silaban.net/podcast.php  lalu pilih menu “sihar”.
Neh screenshot-nya :
Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Si Ben

Si Ben..
Free Image Hosting at www.ImageShack.us