Tokoh PKI itu Terbaring di Lumbanrau, Sebuah Clipping Mengenang G30S-1965

Salib yang berdiri di atas makam yang berada tengah kebun ubi jalar yang berjarak hanya beberapa meter dari pinggir jalan utama desa itu sering menjadi sasaran lemparan batu atau tembakan ketapel anak-anak. Waktu saya masih anak-anak, setiap kali melintas disana,maka bayangan kebengisan dan kebiadaban PKI sebagaimana yang diajarkan oleh guru-guru sekolah kami atau yang kami baca di buku-buku sejarah atau yang kami tonton di televisi selalu melintas, menimbulkan rasa takut yang kerap membuat bulu kuduk berdiri.

Mungkin bayangan kengerian seperti itu jugalah yang hinggap di benak anak-anak atau bahkan orang-orang tua yang melintas disana yang menyebabkan salib yang berdiri di makam itu sering menjadi sasaran lemparan orang-orang.

Kerap tindakan itu disertai dengan makian dan hujatan pada PKI, yang mungkin sebenarnya mereka sendiri tidak paham komunis itu apa. Menurutku, sama seperti jutaan manusia di Indonesia termasuk kita (mungkin – dulu), mereka yang berlaku sedemikian itu adalah korban-korban yang disesatkan oleh propaganda pemerintah mengenai PKI dengan mencekoki rakyat Indonesia dengan sebuah hipotesa.

Ya, sebuah hipotesa! karena ternyata banyak versi ‘fakta yang sebenarnya’ dari sebuah peristiwa yang sama yang berlaku waktu itu. Masing-masing versi mempercayai ‘fakta’-nya sendiri, mencoba mengungkap fakta-nya dan mengajukan teori-teori dan analisis-analisis dengan caranya sendiri. Tapi, kembali, semuanya berujung hanya menjadi sebuah hipotesa. Satu-satunya kesamaan yang dimiliki oleh hipotesa-hipotesa tersebut adalah fakta bahwa peristiwa G30 S itu benar-benar pernah terjadi.

Makam itu terletak di sudut sebuah banjar (sub kampung) di Lumbanrau, Kecamatan Habinsaran. Persisnya di Banjar Godang. Berjarak kurang lebih seratusan meter dari pohon hariara satu marga disana.  

Salah seorang tokoh sentral peristiwa G30S terbaring disana (Saya tidak menyertakan PKI sebagaimana penulisan yang sering kita lihat selama ini, karena tidak lagi percaya pada sebuah hipotesa sebagaimana yang saya percayai dulu, artinya PKI mungkin terlibat tapi bukan otak dan dalang).

 Dialah Peris Pardede, salah seorang tokoh sentral dalam peristiwa Gerakan 30-September (G30 S) 1965. Posisinya sebagai anggota CCPKI (Central-Comitee-Partai Komunis Indonesia) dan calon anggota Politbiro PKI pada waktu itu menjadikan dia menjadi salah seorang saksi kunci sejauh mana sebenarnya keterlibatan Partai Komunis Indonesia dalam peristiwa itu. Begitu pentingnya dia dalam peristiwa itu jika kita coba cari tahu melalui internet, kita akan menemukan namanya diantara tokoh-tokoh dan pimpinan Partai Komunis Indonesia yang terlibat langsung dalam peristiwa itu seperti DN.Aidit, Nyono, Syam Kamaruzaman, Sudisman, Letkol Untung, Latief dll.

Tidak terlalu banyak cerita mengenai sejarah hidupnya yang saya tahu. Dia lahir di Lumbanrau pada tahun 1918. Menjalani karir sebagai jurnalis sampai akhirnya bergabung dengan Harian Rakyat dan Bintang Merah, media resmi PKI. Karir politiknya di PKI mengantarnya ke jajaran anggota CC-PKI (Semacam dewan pimpinan pusat (DPP) pada partai-partai sekarang). Dunia politik itu pulalah yang menenggelamkannya.

Setelah dijatuhi hukuman seumur hidup oleh pengadilan dia hidup dan menjalani hari-harinya di penjara khusus di Tanjung Gusta Medan sampai akhirnya meninggal di sana.

Yang menarik, di tahun-tahun terakhir kehidupannya, dia, seorang komunis sejati menjadi penginjil di penjara.

Tulisan ini tidak bermaksud mengupas bagaimana kisah hidup dan perjalanan politik Peris Pardede termasuk sepak terjang dan peranannya dalam peristiwa G30 S. Nampaknya pemerintah orde baru berhasil mengubur dan mengunci mati informasi mengenai tokoh-tokoh PKI tersebut, terbukti dengan sedikitnya informasi yang dapat ditemukan mengenai mereka kecuali dari sumber-sumber luar negeri. Hal ini kemungkinan didorong oleh paranoia akan munculnya anak-anak muda yang meneladani ideologi, doktrin dan jalan pikiran mereka.

Perlu riset lebih mendalam dan waktu yang cukup lama untuk mengetahui sejarah hidupnya dan menggali pikiran-pikirannya. Sebagai seorang tokoh partai besar dan seorang jurnalis di satu kurun revolusi sebuah bangsa yang besar, saya yakin pemikiran-pemikirannya pasti memiliki substansi yang tidak biasa-biasa saja.

Sekalipun dia dan keluarganya adalah menjadi bagian dari kampung saya, tidak banyak cerita dan kisah mengenai dia, sepertinya stigma/cap buruk baik yang disematkan pemerintah orde baru bagi keluarga yang terlibat dalam peristiwa itu membuat mereka ketakutan dan seperti menutup diri.

Tapi buat saya pribadi, setiap orang yang memberi porsi penting dalam sebuah peristiwa besar adalah orang-orang hebat, demikian juga dengan Peris, terlepas dari hitam putihnya ideologi komunis yang dia pilih sebagai perjalanan karir politiknya, terlepas dari bagaimana fakta yang sebenarnya melatar belakangi peristiwa G30S, dia adalah orang hebat yang telah turut memberi warna dalam sejarah perjalanan hidup bangsa Indonesia.

Tulisan di atas hanya sebuah pengantar dari tulisan-tulisan yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, merangkumnya menjadi sebuah tulisan, sekadar suplemen dalam rangka mengingat peristiwa Gerakan 30 September 1965, 43 tahun yang lalu. 

Mudah-mudahan berguna ! Selamat membaca..

 

Setelah peristiwa G30S terjadi, propaganda hebat dari pemerintah yang secara de-facto sudah berada dibawah kendali Suharto berhasil membuat rakyat Indonesia secara mantap mempercayai bahwa PKI-lah dalang dari gerakan tersebut. Propaganda yang luar biasa ini kemudian disusul dengan pembersihan Indonesia dari unsur-unsur PKI. Ekses yang mengerikan terjadi, sejarah mencatat bahwa sebenarnya peristiwa genosida, pembunuhan massal pernah terjadi di negeri ini. Ratusan ribu hingga hampir satu juta orang-orang yang ‘diduga’ terlibat PKI kehilangan nyawa.

Apakah sebenarnya yang terjadi ? Benarkah PKI adalah dalang utama peristiwa itu?

Ada beberapa teori yang berkembang. Secara garis besar ada 3. Yang pertama, Benedict Anderson dan Ruth McVey pada Januari 1966, menulis Cornell Paper yang mengajukan sebuah hipotesa bahwa menyatakan bahwa peristiwa G30 S PKI adalah masalah internal Angkatan Darat dan tidak ada hubungan dengan PKI. Masalah ini dilatar belakangi ketidakpuasan beberapa perwira menengah di Jawa Tengah yang tidak puas dengan kepemimpinan tentara di pusat yang telah dirusak oleh sifat tamak dan kemewahan.  Teori kedua, G30 S adalah suatu gerakan yang dilakukan kelompok didalam TNI yang keseluruhannya diotaki PKI. Teori ketiga, suatu gerakan yang diintepretasikan sebagai suatu komplotan antara perwira pembelot (menyebut dirinya perwira progressif) dengan pemimpin-pemimpin PKI. Tentu tidak dapat diabaikan peran CIA dan Bung Karno. Teori yang paling kuat, adalah yang terori dari angkatan darat yang secara defacto berada bawah komando Suharto, yakni teori kedua yang mengatakan bahwa PKI-lah dalang dan otak dari peristiwa ini. Teori ini kemudian diperkuat oleh ‘bukti-bukti’ di  ‘pengadilan’ Mahmilub terhadap tokoh-tokoh PKI. Dari bukti-bukti pengadilan yang diberikan tokoh-tokoh penting komunis, bisa ditarik kesimpulan ada tiga interpretasi pokok.
Pertama, Nyono, anggota politbiro PKI dalam persidangan mengakui bahwa ia mendukung perwira pemberontak secara pribadi dan menyusun daftar sejumlah anggota organisasi di bawah PKI untuk dilatih sebagai kekuatan pasukan cadangan, tetapi ia menolak bahwa PKI sendiri terlibat.

Kedua, menurut Sudisman dan Peris Pardede, anggota CC-PKI pemimpin PKI telah mengambil keputusan untuk mendukung usaha coup tetapi mereka mengelak dengan mengatakan bahwa inisiatif gerakan justru datang dari “perwira” progresif, bukan dari PKI.
Ketiga, Ketua Biro Khusus, Syam, memberikan bukti yang mengarah pada kesimpulan bahwa PKI telah merencanakan sejak awal gerakan coup dan bahwa perwira yang terlibat digerakkan PKI.
Menurut Nyono, Politbiro PKI telah mengadakan 3 pertemuan pada bulan Agustus 1965 setelah Aidit kembali lawatan ke luar negeri. Ada tiga masalah yang dilontarkan Aidit.
Pertama, berkaitan dengan sakitnya Presiden Soekarno yang dianggap sebagai hal serius. Kedua, informasi mengenai “Dewan Jenderal” yang berencana melakukan coup (perebutan kekuasaan). Ketiga, prakarsa “perwira progresif” yang bermaksud mengambil tindakan preventif terhadap aksi “Dewan Jenderal”.
Menurut Nyono, dalam pertemuan itu Aidit melontarkan soal apakah PKI lebih baik menyokong “perwira progresif” yang akan melakukan aksi pencegahan atau melaporkan kepada presiden dan menunggu sikap presiden. Pada akhir pertemuan (28 Agustus 1965) itu, Aidit mengaskan bahwa pilihan kedualah (melapor kepada presiden) yang diambil. Tetapi Nyono mengakui bahwa Aidit telah memutuskan untuk melakukan kontak dengan para perwira pembelot itu. Dia juga mengakui, sebagai anggota Politbiro dia telah bekerja sama dengan para perwira pemberontak itu untuk merekrut sukarelawan dari organisasi massa PKI untuk pasukan cadangan yang dilatih disekitar Halim dengan koordinasi Angkatan Udara pada bulan Juli-September 1965.

Peris Pardede, anggota CC-PKI, dalam kesaksian pada pengadilan Nyono menyatakan bahwa dalam rapat tanggal 28 Agustus 1965 ketika akan mengambil sikap terhadap aksi perwira progresif, Aidit melontarkan usul agar masalah itu untuk sementara diserahkan pada Standing Committee Politbiro. Rapat menyetujui usul itu. Kira-kira sepuluh hari kemudian, Pardede menanyakan kepada Sudisman mengenai keputusan itu. Jawab Sudisman, mereka memutuskan untuk mendukung sikap mengambil tindakan preventif yang akan dilakukan oleh para “perwira progresif-Letkol Untung Cs“. Dalam sidang pengadilannya (1967), Sudisman membenarkan kesaksian Pardede itu. Mengikuti keputusan itu, menurut Sudisman, Aidit lalu meminta Nyono untuk merekrut 2000 anggota ormas dibawah PKI untuk menjadi pasukan cadangan yang akan dimanfaatkan untuk melancarkan aksi “perwira progresif” itu.
Pada September 1965 Sudisman mengirim utusan ke Medan, Palembang, Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menginformasikan kemungkinan aksi “Dewan Jenderal” kepada cabang-cabang PKI. Semua pengurus PKI diwilayah diharuskan memantau terus menerus perkembangan di Jakarta lewat radio dan juga “membantu Dewan Revolusi”.

Dengan demikian Sudisman mengakui bahwa pemimpin PKI secara sadar menyokong usaha-usaha coup. Namun dia menyatakan bahwa PKI hanyalah membantu gerakan yang secara nyata dilakukan “perwira-perwira progresif”. Dia menyatakan bahwa keterlibatan para pemimpin PKI dalam gerakan coup itu tidak berarti bahwa partai secara keseluruhan terlibat.

Syam (Kamaruzzaman) menjadi saksi dalam persidangan Sudisman dan dirinya sendiri. Dia adalah Kepala Biro Khusus Politbiro PKI yang dibentuk tahun 1964, yang bertanggungjawab secara langsung kepada Aidit. Banyak langkah yang dibuat Syam yang tidak diketahui pimpinan partai selain Aidit. Dia dicurigai sebagai double agent.
Versi Syam berbeda. Menurutnya, Aiditlah yang mengambil prakarsa dengan mengintruksikan kepada Syam untuk menggalang perwira pemberontak yang bisa diajak untuk menjalankan rencana yang disusun oleh PKI. Jadi menurut Syam, “perwira progresif” tidak memainkan peran independen, mereka hanyalah alat yang siap digunakan apa saja oleh PKI. Jadi, dari uraian singkat di atas tampaknya bisa disimpulkan bahwa banyak pemimpin PKI terlibat dalam usaha coup, namun derajat keterlibatannya masih mengundang interpretasi yang beragam. Yang mengundang pertanyaan adalah pendapat para pemimpin PKI yang menyatakan bahwa keterlibatan mereka itu secara pribadi dan tidak melibatkan partai.  

Peran Suharto

Mengenai peranan Suharto dalam peristiwa itu, saya mengutip hasil penelusuran Karim DP (Mantan Sekjen PWI waktu itu) yang mewawancari beberapa orang yang anggota penting PKI yang dipenjara yang disampaikan presentasinya di Universitas Negeri Manado(UNISMA) di Tondano 12 April 2003.

G30S yang disebut oleh Bung Karno sebagai GESTOK (Gerakan 1 Oktober)yang
langsung dipimpin oleh Soeharto, memang dialah arsiteknya, Dr Soebandrio yang
waktu itu Wakil Perdana Menteri 1 , Menteri Luar Negeri dan Kepala Badan Intelijen (BPI) menambahkan bahwa prestasi gemilang Soeharto tidak terlepas dari dukungan Amerika Serikat , yang memang sudah lama berusaha menggulingkan Bung Karno dan sekaligus menghancurkan PKI , seperti yang terungkap dalam buku “Foreign Relations of the United States” yang diterbitkan dan dicetak oleh percetakan Negara AS, tapi yang ditarik kembali oleh Departemen Luar Negeri
dari peredaran , karena isinya masih harus dirahasiakan . Tetapi sudah banyak yang lolos ke luar negeri , dan saya menerima copynya dari sahabat saya di Australia, Prof. Dr. Angus Mc Intyre.

Pembuktian lain bahwa Soeharto adalah sang arsitek , menurut pengakuan Untung , 3 minggu sebelum M meletusnya G30S , ia dan Kol. Latief , masing masing sebagai Komandan Batalion 1 Tjakrabirawa dan Komandan Brigade Infanteri 1 Kodam V Jaya, sudah merundingkan dengan Soeharto langkah-langkah yang perlu diambil.

Untung dan Latief kedua-duanya bekas anak buah Soeharto , dan persahabatan mereka terus berkelanjutan . Kunjungan Latief ke RSPAD “Gatot Subroto” pada malam gerakan akan dilancarkan 4 jam kemudian, menemui Soeharto sedang menemani isterinya menunggui anak bungsu mereka Tommy yang sedang dirawat di sana karena kena guyur sup mendidih, anak kesayangannya yang diyakini membawa rezeki , adalah kontak terakhir pelaksana gerakan, untuk melaporkan bahwa gerakan segera dilaksanakan (4 jam kemudian) , yang diterimanya dengan penuh keseriusan. Belakangan Kolonel Latief mengakui dalam bukunya edisi ke II bahwa laporan yang
sama disampaikan juga kepada Panglima Kodam V Jaya, Umar Wirahadikusuma.
Jadi, kedatangan Latief ke RSPAD “Gatot Subroto” pada tanggal 30 September 1965 pukul 11.00 malam , samasekali bukan untuk membunuh Soeharto seperti yang pernah dikatakannya kepada seorang wartawan Jerman , tapi untuk membuat laporan akhir mengenai gerakan. Dalam kesempatan itu, menurut Kolonel Latief, dia menyampaikan kepada Pak Harto bahwa dalam waktu yang amat dekat akan terjadi penjemputan paksa terhadap beberapa jenderal yang tergabung dalam Dewan Jenderal yang diyakini akan melakukan kudeta terhadap Bung Karno. Para jenderal itu akan dibawa kehadapan Bung Karno untuk diinterogasi.  Menanggapi laporan itu, menurut Kolonel Latief, Pak Harto hanya menjawab telah mengetahui hal itu dari seorang bekas anak buahnya bernama Subagiyo. Oey Tjoe Tat, seorang menteri diera Bung Karno, dalam memoirnya menyatakan bahwa dia bertemu Subagiyo di dalam tahanan yang mengatakan bahwa dia memang bertemu Pak Harto dan meyampaikan informasi seperti di atas. Menurut seorang saksi, segera sesudah itu, Soeharto berangkat ke KOSTRAD untuk konsolidasi pasukan dan keliling kota melihat-lihat keadaan, lewat di depan RRI, kantor Telkom dan TVRI. 

Rencana ini diperhitungkan dengan cermat untuk menjamin kesuksesannya, dengan seminggu sebelum pelaksanaan, Soeharto sebagai Panglima KOSTRAD mendatangkan 3 (tiga) Batalion pasukan tempur berpengalaman , masing masing dari Semarang, Madiun dan Bandung yang berada dibawah komando KOSTRAD . Kapten Kuncoro, kepala staf Batalion 454/Diponegoro yang ditahan satu sel dengan saya di blok isolasi Blok N penjara Salemba (Jakarta), menceritakan bahwa ketika batalyonnya tiba di Jakarta menumpang serentetan kereta api panjang memuat prajurit, kendaraan, senjata ringan dan berat serta peluru yang cukup untuk pertempuran 10 hari sebagaimana diinstruksikan, Soeharto datang mengucapkan “selamat datang” dan meng-inspeksi pasukan serta perlengkapan-perlengkapannya. Kendaraan yang sudah tua diganti dengan yang baru, begitu juga senjata-senjatanya.
Semua tidak ada yang dilaporkan oleh Soeharto kepada atasannya, padahal persiapan gerakan ini beresiko tinggi, sehingga tidak ada secuilpun tindakan
untuk mencegah di bunuhnya 6 Jenderal teras Angkatan Darat yang diculik oleh gerakan militer yang sudah dipersiapkan dengan baik. Ternyata Jenderal yang diculik lalu dibunuh itu, adalah musuh-musuhnya Soeharto, demikian diterangkan oleh Dr. Soebandrio.

Pengakuan lain yang menguatkan keterlibatan Suharto adalah pengakuan Kolonel Untung (Komandan Cakrabirawa). (Saya kutip dari buku kesaksian Subandrio: “Kesaksianku tentang G30 S ….Untung di jemput dari selnya di penjara Cimahi oleh beberapa
sipir penjara. Diberitahukan bahwa ia akan di eksekusi. Itulah saat-saat terakhir Untung menjalani hidupnya.
Saya dan Untung yang sudah akrab selama berada dalam satu penjara di Cimahi, benar-benar hanyut dalam suasana haru. Saya bukan saja terharu, tapi juga panik, sebab Ahmad Durmawel, SH, oditur militer yang mengadili saya, saat itu memberitahukan bahwa saya akan mendapatkan giliran 4 hari kemudian. Saya ingat saat itu hari selasa, berarti saya akan di eksekusi pada hari sabtu.

Sebelum Untung di jemput untuk dibawa ke luar penjara, saya sempat menemuinya. Saat itu ia sudah ditanya tentang permintaan terakhir seperti lazimnya bagi orang yang akan di eksekusi. Mungkin karena Untung panik, ia tidak minta apa-apa. Untung juga sudah tahu bahwa saya akan dieksekusi hari sabtu. Maka pertemuan saya dengan Untung benar-benar luar biasa. Kami memang hanya
berhadap-hadapan dengan pakaian seragam narapidana, namun hati kami tidak keruan. Untung segera akan ditembak, sedangkan saya saya 4 hari lagi.

Saat itu ada kalimat perpisahan dari Untung yang saya ingat sampai sekarang. Bahkan saya ingat suasana hening saat itu, ketika Untung menyampaikan kata-kata perpisahannya kepada saya. Para sipir dan tentara berwajah angker lengkap dengan senjata mautnya, dalam sikap siaga mengawal Untung dan mengawasi saya dari jarak yang agak jauh. Mereka seperti maklum dan memberikan kesempatan terakhir kepada Untung untuk berpesan kepada saya, kata Soebandrio. Untung mangatakan demikian : “Pak Ban , selamat tinggal, jangan sedih, empat hari lagi kita bertemu di sana”, sambil menunjuk kelangit. Untung mengucapkan kata perpisahannya dengan suara bergetar. Matanya kelihatan berkaca-kaca. Perwira yang gagah berani itu, pahlawan pembebasan Irian Barat yang di terjunkan dari udara, tidak menangis, tapi saya lihat dia dalam kondisi sangat panik. Ia benar-benar tidak menyangka akan di khianati oleh Soeharto. Jika menengok hari-hari sebelumnya, Untung begitu sering mengatakan kepada saya, bahwa tidak mungkin Soeharto akan mengkhianatinya. Sebab ia adalah sahabat Soeharto dan ia mengulangi lagi bahwa Soeharto sangat mengetahui rencana G30S, bahkan memberikan bantuan pasukan. Karena itu ia sangat yakin tidak akan di khianati oleh Soeharto. Tapi toch kenyataannya berakhir demikian.
Menanggapi keyakinan Untung, saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya mengangguk-angguk. Para sipir dan tentara yang mengawal kami, menyaksikan semua adegan singkat tapi mengharukan ini.

 

Demikian suplemen yang cukup panjang ini, mudah-mudahan berguna. Satu peristiwa kelabu dalam sejarah perjalanan bangsa sudah terjadi. Peristiwa lain dengan skenario dan pelaku yang berbeda mungkin saja terjadi lagi. Tugas setiap kitalah, sebagai anak bangsa untuk mencegah kejadian yang sama terulang lagi..

 

Klinik Iman

Agak ragu sebenarnya saya memposting ini, takut kualat he..he. Yang pasti niat saya bukan men-judge mereka2 yang berbuat, agak ngerasa ganjil aja..
Kemarin ketemu iklan yang ga biasa menurut saya di salah satu berita harian Indonesia. Iklan itu bertitle :Klinik Iman”. Intinya, mengenai orang yang membuka praktek pengobatan yang mampu menyembuhkan SEGALA MACAM PENYAKIT, tidak tau akan dimasukkan ke kategori pengobatan apa, yang pasti bukan alternatif dan juga bukan medis.
Ketika saya coba telpon sekedar cari tahu, megurangi rasa penasaran, ternyata metode pengobatannya adalah dengan BERDOA dengan satu syarat si pasien harus sepenuhnya percaya, percaya dalam pengertian yang bagaimana, itu yang kurang jelas. Mereka mengaku bukan paranormal juga bukan tenaga medis, tapi dari cara mereka menerangkan dan dari model iklan jelas terlihat bahwa mereka adalah ‘praktisi-praktisi’ yang punya konfidensi tingkat tinggi dengan keampuhan doa mereka.
Saya bukan orang yang anti komunitas karismatik. Hanya saja merasa prihatin dengan kenyataan bahwa pengajaran atau doktrinasi yang over confident dari orang-orang yang mengandalkan karisma tidak jarang menghasilkan manusia-manusia yang over confident juga, yang sering bertindak di luar akal sehat sehingga seringkali menimbulkan kerugian bagi mereka sendiri dan orang-orang yang berinteraksi dengan mereka.
Melihat iklan itu, pertanyaan yang sama saat melihat KKR penyembuhan yang nampaknya spektakuler kembali mampir di pikiran saya: Kalau memang bisa, mengapa mereka tidak berkujung ke rumah-rumah sakit saja ? Atau di pinggir-pinggir jalan dimana begitu mudah menemukan orang yang putus asa karena sakit.
Pernahkan pertanyaan yang sama mampir juga di pikiran mereka-mereka?
Kembali kepada iklan tersebut, satu pertanyaan lain berlalu di pikiran saya, kalau sudah begini, apa bedanya dengan klinik-klinik paranormal yang juga ramai dikoran-koran? Mungkinkah motivasi sama tapi dengan cara dan terminologi yang berbeda?
Melihat nama salah satu ‘praktisi’-nya yang provokatif : P’Rasul Paulus’, Jika dibandingkan dengan paranormal yang berbasis ajaran agama dari Arab setingkatlah dengan Kiai H. M. Allahuma Singadimeja kangkung genjer.., dan itu semakin membuat saya ragu akan niat dan motivasi mereka yang sesungguhnya.

Tapi..entahlah, semoga saja saya yang salah.

Angka Najolo i di Huta (Cerita yang tersisa dari Perkebunan Teh)

1. Senteng Kobun

Keadaan benar-benar tegang, tidak ada yang berani bicara, Si Napit, si centeng kebun itu lagi ngamuk!. Laporan-laporan dari anak buahnya yang dia tempatkan di beberapa sektor barak-barak itu benar-benar membuatnya naik pitam. Si Bukkit, preman kota yang berasal dari desa mereka pulang kampung dan melakukan pungutan liar (pungli) ketika gajian kebun kemarin, akibatnya mereka tidak mendapat setoran lagi, padahal jelas-jelas pungutan itu adalah jatahnya. “Pokokna holan mullop annon di pintu i, hutallik!” (“pokoknya begitu dia (si Bukkit) nongol di pintu, saya bacok!”) Sesumbarnya. Mendengar itu si Sangkot pemilik kedai ketakutan, sebenarnya ia tidak ingin ada keributan di warungnya tapi tidak berani bicara, reputasi si Napit ini memang sudah terkenal di seantero kecamatan sebagai preman bahkan katanya sudah beberapa kali membunuh orang,  meskipun itu masih sebatas cerita mulut ke mulut, belum ada yang pernah menyaksikan langsung.

Keadaan masih tetap sama, mencekam! Si Napit sudah buka baju, memamerkan perut besanya, parang besar, panjang dan kelihatannya sangat tajam ditaruh di atas meja. Aroma alkohol menambah suasana panas. “Pokokna holan mullop hutallik, bereng hamu!, unang adong na lao sian kode on (“Pokoknya, begitu dia muncul, saya bacok..!, Kalian lihat nanti! Jangan ada yang keluar dari warung!” ) Katanya berulang kali. Hari mulai gelap, keadaan di luar juga gelap, hanya lampu gas yang menerangi ruangan kedai itu.

“…Horas!! “, tiba-tiba terdengar suara bariton (besar) di arah pintu masuk kedai, semua serentak menoleh ke arah sumber suara. Itu si Bukkit!.  Tinggi besar, kumis tebal melintang, memakai seragam jaket dan celana jeans, ciri khas preman batak. Semua menahan nafas, beberapa detik lagi akan ada adegan pembantaian di depan mereka. Si Napit berdiri, begegas ke pintu, berjalan ke arah si Bukkit mengulurkan tangannya ke arah Bukkit dan berkata : “Bah naung ro do Lae, Beta, tusan ma hita hundul!” Katanya sambil menyalami si Bukkit, lalu merangkulnya. Lalu berkata ke sangkot setengah berteriak ”Lae, buat jo galas ni lae on ..!” (“Bang ambilkan gelas buat bang Bukit”.) Sambil menuntun Bukkit ke mejanya, Si Napit melirik ke arah si Lampet yang senyum-senyum penuh arti, dalam hati Napit mengutuki “Parmatem ma annon Lampet hurang ajar, didok ho nga mulak ibana (si Bukkit) tu Medan..!” (Kurang ajar kau Lampet!, kumatikan kau nanti, kau bilang dia sudah balik ke Medan)

Ohooo… anggo hata i ” holan mullop hutallik!!”

Sejak itu digelarliah dia “Si Napit Te!”

2. Mandor Perumahan

Akhir-akhir ini perumahan karyawan kebun yang tidak dihuni semakin sering kebongkaran. Karena rumah kosong yang hilang tentu saja bukan isinya yang hilang tetapi bagian rumahnya, papan, daun jendela, daun pintu dan atapnya (seng). Hal ini sampai ke telinga Pak Asep, Asistant Kebun. Maka tidak lama diangkatlah si Ogel, berandalan desa jadi mandor perumahan. Si Ogel, berandalan tapi anak-anak muda desa yang ditengarai melakukan pencurian itu segan dan hormat kepadanya. Sebenarnya Ogel tidak puas dengan gaji yang ditawarkan “Tapi untuk sementara daripada nganggur terima saja” pikirnya. Begitulah, dua bulan setelah si Ogel jadi mandor berita pembongkaran rumah tidak terdengar lagi. Tapi di bulan ketiga mulai muncul lagi dan lama-lama frekuensinya semakin sering. Dipanggillah si Ogel sama Pak Asep, meminta laporan ”Ogel, bagaimana ini ?, itu pencuri perumahan beraksi lagi malah semakin sering, gimana kerjamu?”. Dengan santai si Ogel menjawab “Ai kan holan arian na di digaji hamu au, ba bodari do ditangkoi i “. (“Loh, saya kan digaji siang hari aja Pak, Nah itu perumahan dibongkar malam hari”). Si asistant terdiam. Si Ogel tersenyum karena gajinya kini dua kali lipat, dia digaji siang dan malam :)

3. Naposobulung

Konon semakin banyaknya pekerja kebun yang datang dari tempat lain membuat suasana kampung kami semakin ramai. Seperti kebiasaan halak hita jika lebih dari lima orang kalau tidak mendirikan gereja, ya mendirikan punguan (kumpulan). Demikian juga halnya ketika itu. Maka atas saran guru huria dibentuklah naposo bulung baru yang anggotanya sebagian besar karyawan kebun. Suatu malam sehabis marguru (latihan) di rumah salah satu anggota sambil menunggu pulang mereka pun ngobrol-ngobrol. Tapi karena sering ketemu sepertinya bahan obrolan sudah habis. “Paganjang-ganjang goar ma hita” (“Kita main panjang-panjangin nama saja” ). Usul Tigor. “Olo” “Baik” sahut Enos.

Tigor..tigor. ” Sejenak Enos berpikir..Tigor : TInggal GOReng(an), lanjutnya. “Ha..ha ha” Yang lain tertawa, ramai. yang paling kuat ketawa si Maruba.  
Satima : SAntapan TIkus MAlam.. Ha..ha. semua tertawa. Satima, cewek anggota mereka juga tidak lepas.
Enos ma jo.. (Enos dululah).. Enos..Enos.. Engkau Nanti Orang Senang. O..cocok..cocok ujar Enos sambil tersenyum, agak bagus soalnya.
Tulus.. Tukkang Ullus (tukang tiup). Ha.ha.. masih ketawa Maruba yang paling kuat,
“Memang cocok do baion gabe partiga-tiga ballon, holan na mangullu ballon ma annon baion” (“Memang dia ini cocok jadi tukang jual balon, kerjanya nanti hari-hari niup balon”) sambung Maruba sambil nunjuk Tulus. Sekarang Maruba.. Maruba.. apa ya? “Agak sulit ini..” Maruba.. masih belum ketemu. “Dia boi paganjangon muna i, goarna ma goa sipajou-joun puang”, “Mana bisa kalian panjangin, itu kan nama yang populer”. Maruba merasa menang, tidak seorang pun yang bisa memberi kepanjangan pada namanya.
Agak lama…
Tiba-tiba Tulus, menyelutuk ” Maruba..MAnusia RUpa Babi”.. Ha..ha..ha serempak tertawa, kecuali Maruba yang mukanya memerah..

4. Di Saku ki ma Buat (Ambil aja di Kantongku)


Si Maruba ini, anggota naposo bulung yang kena batunya tadi memang terkenal jahil, tapi sebetulnya hatinya baik. Selain jahil kadang-kadang juga licik. Timbangan daun tehnya pun selalu lebih tinggi dari yang lain padahal jumlah pausehon (menuang dari keranjang petik ke bisnet (tempat penampungan daun teh yang sudah dipetik untuk ditimbang) selalu sama). Ketika punya kesempatan ikut dia memetik daun teh, kutanya apa rahasianya, ternyata dibawah bisnetnya yang terbuat dari kain goni, dia buat kantung dan dimasukkan pasir. Jadi sebelum diisi saja berat bisnetnya sudah lima kilo, apalagi kkalau hari hujan :) .
Suatu hari ada pesta orang tua meninggal. Sebagai naposobulung, mereka wajib ikut jadi parhobas(membantu persiapan pesta) terutama memasak.
Begitulah, sambil menunggui perapian mereka bercengkerama. Maruba seperti mengulum sesuatu, seperti permen. Tiba-tiba si Tiur, temannya Naposo datang mendekat, “Holan ito on do mangallang permen, bagi jo” (“Abang ini kok makan sendiri, bagi permennya dunk..!”). Si Maruba bangkit, lalu berkata “Di sakku ki ma buat”, (Ambil aja sendiri di kantong ku”). “Sakku na dia?” (“Kantong yang mana?”)Tanya Tiur. “Sakku celana-ki, sakku jolo, adong do disi permen Union”, (“Di kantong depan celanaku, ada permen Union”). Katanya sambil menyebut nama permen rasa mint yang populer kala itu. Si Tiur lalu merogoh kantong Maruba.. Tiba-tiba, Tiur menjerit “..Babi..babi babiiii, maup ma ho, Maruba babiiii…!!” Si Tiur menjerit histeris, rupanya kantong si Maruba bolong dan…dia sama sekali tidak pakai celana dalam.. :) . Si Maruba mellarikan diri sambil tertawa-tawa…
Tiur benar-benar shock!, karena dia sama sekali tidak menemukan permen union seperti yang disebutkan Maruba..melainkan sebatang coklat :)

Masih ada lagi…

Bulle-Bulle/ Aji-aji/ Azimat Dari Oppung

Simpul jahitan tangan yang menyatukan kedua sudut kain itu kini sudah lepas. Tiga sayatan gunting lagi maka benang-benang perekat mulut kantung kecil yang terbuat dari kain itu akan terpotong-potong dan isi dari buntelan kecil yang besarnya hampir setengah korek api itu akan segera ketahuan.

Benda itu bukan sembarang benda, benda itu pemberian oppung, katanya buat pelindung badan,. “Baju-baju untuk pertahanan tubuh” Begitu Oppung Pio menyebutnya.

Tentu saja bukan baju dalam arti sebenarnya. Bahasa gamblangnya adalah bulle-bulle, aji-aji, azimat.

Sejenak aku ragu melanjutkan guntingan itu, Mencoba mengingat-ingat kembali pantangan yang tidak boleh saya langgar dan mencoba membayangkan petaka apa yang saya terima jika berusaha mencari tahu rahasia “kesaktian” bulle-bulle ini.

“Tidak ada pantangannya, itulah kelebihan obat dari oppung”, Begitu kata Oppung waktu itu, mungkin sekalian promosi.

“Hanya saja!,Lanjutnya. kalau baju-baju ini sedang kamu pakai, Jangan pernah lewat dibawah jemuran yang ada pakaian dalam Inang-inang”…

“Yeee.. itu mah namanya ada pantangannya! Gimana sih?. Malah itu pantangan yang aneh!” Protesku,

“Kalo suatu saat kita harus lewat dibawah jemuran, Bagaimana membedakan itu pakaian mama-mama atau pakaian anak gadis? ”.

“Nah, biar aman, jangan lewat sekalian dibawah jemuran” Pungkasnya tak mau kalah. Entah dia sekadar bercanda atau benar-benar serius saya tidak tahu, tapi yang pasti sejak saya bulle-bulle ada pada saya, saya selalu menghindari jemuran apalagi kalo ada pakaian dalam yang berbentuk penutup dada wanita atau pakaian dalam yang ada bordirannya. Takut aji-aji ini tarsubang.

Dan seingat saya pantangan itu tidak pernah saya langgar, Jadi jelas, bukan karena nabrak pantangan makanya bulle-bulle ini sama sekali tidak ampuh.

Kurang lebih tiga bulan yang lalu.

Oppung Pio, yang atas undangan bapauda karena anaknya naik sidi/malua berkunjung ke Medan. Beberapa hari sebelum acara naik sidi yang akan dilakukan pada hari Minggu, Oppung Pio sudah tiba di Medan, kesempatan itu saya gunakan untuk mengajaknya ke warung kopi milik saya. Sejarah berdirinya warung kopiku ini  bukan sebuah cerita manis. Bermula dari krisis moneter yang membenamkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing berdampak pada kacaunya perekonomian, perusahaan banyak yang gulung tikar, harga-harga melambung tidak terkendali. Sialnya tahun itu pula saya menyelesaikan kuliah, menjadi mahasiswa abadi sekedar menghindari status penganggur dan memperpanjang gaji buta dari kampung jelas tidak mungkin, sistem kuliah yang berpaket memaksa harus selesai tiga tahun. Jadilah untuk menyambung hidup setiap hari saya ikut angkot teman yang bernasib lebih baik, bapaknya yang toke jeruk di tanah Karo membelikannya mobil angkutan umum.

Nasib baik, setelah sebulan, ada berita pembukaan trayek dan pangkalan angkutan kota yang baru, itu artinya bisa jadi lahan baru untuk jualan sekadar jualan rokok atau kopi. Jadilah dengan berbekal hutang kanan-hutang kiri warung kopi dan rokok berdiri “Hmm..lumayan untuk merubah status, minimal tidak setiap hari bertemu dengan teman-teman bekas satu sekolah dalam keadaan berstatus kernet” Gumamku ketika warung itu sudah berdiri.

Tapi rupanya nasib baik itu tidak berlangsung lama. Sebulan setelah berdiri, mulai terjadi perebutan lahan antar kelompok preman di daerah itu, pangkalan angkot memang lahan cukup basah.

Terang saja, jumlah mereka yang datang selalu gerombolan, bergantian dari kelompok yang berbeda, dilengkapi dengan peralatan perang,dan dalam keadaan mabuk membuat nyaliku keder. Mau tidak mau setiap kali mereka beroperasi kalau tidak duit maka minimal beberapa bungkus rokok harus pindah tangan.

Rupanya cerita saya membuat oppung Pio prihatin buktinya sebelum saya antar pulang, dia berpesan, “Secepatnya pulang dulu kau ke kampung, jumpai oppung, ada yang mau oppung berikan”.

Seminggu kemudian setelah pesannya, saya pulang kampung. Sesuai pesannya saya menjumpai dia begitu sampai malam harinya.

Setelah bercerita-cerita sebentar, dia lalu masuk ke kamar.

Oppung Pio ini memang terkenal sebagai pangubati, datu huta, dukun. Kata orang-orang, ilmunya dia dapatkan dari hariau yang tertangkap masuk kampung karena mengejar kerbau buruannya dari jampalan sampi ke mulut desa, Konon katanya Oppung Pio mangaroro aru-aru harimau itu, dan setelah mati, kumis dan kuku harimau itu masih dia simpan. Cerita orang sejak kejadian itulah itulah Oppung Pio punya kemampuan supranatural.

Sebenarnya saya tidak terlalu mempercayai cerita-cerita semacam itu, apalagi ilmu macam-macam yang sepertinya diluar akal sehat seperti tahan tallik, tahan tikam, dorma sahuta, tinju marulak, tapi pengalaman sebulan lebih hampir setiap hari berhadapan dengan orang mabuk nyaris gila bawa peralatan berburu, mau tidak mau membuatku mencoba ilmu alternatif ini.

Beberapa menit kemudian, Oppung Pio keluar, berpakaian serba hita hitam pakai topi haji, membawa kantung entah berisi apa.

Dia lalu duduk bersila dihadapanku, mengeluarkan sebuah benda bulat dibungkus kain hitam. Satu persatu benda benda entah apa, seperti benda-benda klenik, dia letakkan diatas kain putih yang sudah dia bentangkan sebelumnya. “ Benda-benda ini datang dan pergi dengan sendirinya”, Katanya tanpa saya tanya. “Kalau mereka suka akan datang memenuhi panggilan teman-temannya yang sudah lebih dulu disini tapi akan pergi kalau ada yang memanggilnya dari tempat lain” Lanjutnya.

Dia lalu mengambil sesuatu dari kantongnya. Benda buntelan kecil berwarna putih, besarnya hampir setengah korek api, lalu meletakkannya dihadapannya.

“Ini yang akan saya berikan pada kamu, sekarang kita isi” Katanya sambil menunjuk benda sebesar separuh kotak korek api itu. Setelah komat-kamit sebentar seperti merapal doa, dia lalu mengambil benda bulat hitam yang berbungkus kain hitam tersebut, mendekatkannya ke benda berwarna putih sebesar setengah korek tersebut. Setelah berjarak kurang lebih sepuluh centimeter dia hentikan, tiba-tiba benda putih tersebut mulai bergetar, semakin lama getarannnya semakin kuat bahkan seperti mau meloncat meraih benda bulat hitam itu…

Saya terkagum-kagum memandang peristiwa itu, “Wah..luar biasa!, tentulah sedang terjadi proses pentransferan energi dari benda bulat yang dibungkus kain hitam itu ke dalam benda putih sebesar setengah korek api ini”. Batinku.

Setelah kurang lebih dua menit kejadian itu berlangsung dia lalu menghentikannya.

Setelah menghela napas tanda proses pengisian itu selesai, dia berkata “Jago do nadi ho on!, cocok do tu ho on”

Saya terseyum senang bercampur kagum.

Setelah meyerahkan benda itu ke tanganku, Oppung Pio lalu berpesan, “Benda ini akan membuatmu lebih berani, membuat orang akan berpikir berkali-kali berbuat yang buruk terhadapmu kalau dia memandang wajahmu selama benda ini ada dengan kamu”. “Taruh di dompet atau lilitkan di pinggang”

Dang bulle-bulle manang aji-aji on, alai baju-bajum do on, panjaga ni daging” Lanjutnya lagi. Dia lalu membereskan peralatannya.

Setelah semuanya beres saya memberanikan diri bertanya.

“Ada pantangan obat ini  ngga Oppung?” Tanyaku

“Tidak ada pantangannya, itulah kelebihan obat dari oppung” Jawabnya, seperti berpromosi.

“Holan ido, unang suruk panjomuran na adong pahean ni ina-ina diginjang ! ” Lanjutnya sambil tersenyum.

“Ba berarti adong do pantanganna, muse molo tarpaksa ikkon manuruk iba boa mai? Muse sian dia botoon na na celana ni ina-inan manang anak boru nadisini” Kucoba protes, aku tau ini hanya guyonan.

“Unang sai ganggu roham, ba unang olo ho antong manuruk jomuran,  ” Katanya sambil tersenyum.

Begitulah, berbekal bulle-bulle dari oppung Pio, saya kembali menekuni usaha warung kopi itu.

Tapi, seminggu kemudian, kejadian yang sama berulang lagi, para gerombolan sialan itu tetap saja melakukan aksinya, seperti tanpa rasa takut. Pada pertama kali kedatangan mereka, mungkin tersugesti oleh perasaan bahwa bulle-bulle ini akan melindungi saya, saya berusaha menenangkan diri, tapi tetap saja tidak ada pengaruh!

“ Oh mungkin karena mereka sedang mabuk, yang bekerja adalah alam bawah sadar mereka, sehingga bulle-bulle ini tidak bekerja” Ucapku pada diri sendiri, menghibur diri..

Tapi di lain hari mereka datang tidak dalam keadaan mabuk, tetap saja kejadian yang sama terulang..

Begitu beberapa kali berlangsung. Kini saya menganggapnya benda aneh yang tidak memberi manfaat.

Kejadian tadi sore adalah puncaknya. Gerombolan sialan dari kelompok lain datang, Saya putuskan untuk menghadapi mereka dengan cara laki-laki, tanpa bulle-bulle tanpa aji-aji. Setelah melalui kejadian yang cukup menegangkan, meski tanpa bentrok fisik, saya,dibantu oleh sopir-sopir yang merasa simpati menolak permintaan mereka, untuk pertama kali, gerombolan sialan itu pulang dengan tangan kosong.  

 

Malam ini, dengan segala resikonya saya putuskan cari tau apa sebenarnya isi buntelan kecil bernama aji-aji ini,

Tanganku kembali memegang gunting, dengan mantap kugunting benang-benang penjahit mulut kantung kecil itu.

Kini terbuka sudah, dari dalam ada aroma wangi menyeruak, isinya kukeluarkan kubuka satu persatu :

Dibagian luar ada daun sirih, dua helai sebagai pembungkus..

Dibagian dalam ada sepotong daun pandan..hmm ini sumber wanginya.

Dibagian paling dalam, ada sepotong besi, kuangkat dan kuamati, kudekatkan pada lampu..ternyata SEPOTONG MAGNET, BESI BERANI.

Arrgghh… ternyata proses pengisian ilmu yang luar biasa itu hanya proses segumpal besi bulat yang didekatkan pada sepotong kecil magnet, wajar saja magnet kecil ini menari-nari bahkan hampir meloncat-loncat. Sialan !! Ha..ha..ha, aku tertawa menyadari kebodohan diri sendiri.

 

Kuambil sebotol minyak lampu, menyiramkannya ke atas benda itu lalu kusulut api..BLUSSSHH..!!  sebentar kemudian aji-aji, bulle-bulle itu sudah terpanggang..!

Terbuktilah apa yang orang-orang katakan mengenai dukun, DATU (DUKUN), DATU=DAng Tutu = Tidak Benar

Hemat Energy Bersama Google Hitam

Saat ini, disadari atau tidak, bagi sebagian besar pengguna internet, Google.com sudah seperti otak kedua. Tingginya angka pengguna google site menginspirasi mereka membuat versi hitam google sebagai bagian dari kampanye penyelamatan lingkungan hidup melalui hemat energy.
“Do the small things to save the earth”. So jika anda peduli lingkungan hidup, mulailah beralih ke search engine Blackle.com. Jangan takut, sama powerfull dengan Google.com.
Save our Planet, Save our Future! http://blackle.com/

How is Blackle saving energy?

Blackle was created by Heap Media to remind us all of the need to take small steps in our everyday lives to save energy. Blackle searches are powered by Google Custom Search.

Blackle saves energy because the screen is predominantly black. “Image displayed is primarily a function of the user’s color settings and desktop graphics, as well as the color and size of open application windows; a given monitor requires more power to display a white (or light) screen than a black (or dark) screen.” Roberson et al, 2002

In January 2007 a blog post titled Black Google Would Save 750 Megawatt-hours a Year proposed the theory that a black version of the Google search engine would save a fair bit of energy due to the popularity of the search engine. Since then there has been skepticism about the significance of the energy savings that can be achieved and the cost in terms of readability of black web pages.

We believe that there is value in the concept because even if the energy savings are small, they all add up. Secondly we feel that seeing Blackle every time we load our web browser reminds us that we need to keep taking small steps to save energy.

How can you help?

We encourage you to set Blackle as your home page (click to set). This way every time you load your Internet browser you will save a little bit of energy. Remember every bit counts! You will also be reminded about the need to save energy each time you see the Blackle page load.

Help us spread the word about Blackle by telling your friends and family to set it as their home page. If you have a blog then give us a mention. Or put the following text in your email signature: “Blackle.com – Saving energy one search at a time”.

Have a look at our energy saving tips page for ideas on steps you can take to save energy.

There are a lot of great web sites about saving energy and being more environmentally friendly. They are full of great tips covering the little things that we can all do to make a difference today. Try Blackling “energy saving tips” or visit one of the many great blogs dedicated to environmental awareness.

Batak si Rentenir

Batak si RENTENIR.

Nampaknya bakal ada lagi (atau sudah?) profesi tidak terhormat yang bakal disematkan pada kita (orang Batak) setelah beberapa stigma jelek berhasil kita (Batak) sandang selama ini seperti: Preman, tukang copet, garong, black lawyer, tukang oplos oli/minyak, sitangko soban (illegal logging) sampai koruptor, yaitu : RENTENIR alias LINTAH DARAT, bahasa professional bataknya : SIPADALAN HEPENG !!

Dibanding orang (di) Jawa atau daerah/suku lain yang sudah menjalani profesi ini sejak jaman feodal dulu, profesi ini memang masih termasuk profesi baru bagi halak hita, tapi seperti biasa untuk urusan/pekerjaan yang berbau kelicikan dan beraroma intimidasi biasanya halak hita cepat tanggap dan menguasai pasar termasuk yang profesi yang satu ini.

Krisis ekonomi yang berkepanjangan yang dialami negara kita ditambah semakin sering tidak terkendalinya harga-harga membuat “kalkulasi” keuangan masyarakat terutama golongan bawah sering meleset, nah..akibatnya mereka sering dihadapkan pada keadaan terpojok dan tidak punya pilihan selain berhutang / mencari pinjaman entah dari siapa dan mengorbankan apa. Kondisi inilah yang dikelola dengan sangat baik oleh para rentenir tadi.

Pekerjaan rentenir ini dijalankan dengan beberapa medote: ada yang berkedok usaha berbadan usaha berupa Koperasi Simpan-Pinjam dan ada juga yang mengelolanya secara  pribadi yang menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama atau sebagai usaha sampingan. Rentenir yang berkedok koperasi SIMPAN-PINJAM memiliki SURAT IZIN Usaha yang diterbitkan oleh pemerintah setempat, berpegangan surat izin ini, mereka melakukan praktek PINJAM-SITA. Jenis pinjaman yang disajikan bermacam, mulai dari yang tanpa agunan, surat-surat becak, motor, ijazah hingga surat tanah. Lamanya jangka pinjaman bervariasi mulai yang dipungut harian, mingguan hingga bulanan. Tapi bagaimanapun modusnya, seperti apapun dikelola tujuannya satu : MENARIK “BUNGA” SEBESAR-BESARNYA.

Beberapa waktu yang lalu saya berbincang-bincang dengan seorang teman, ada saudaranya yang menelepon untuk minta bantuan. Ceritanya, si saudara TERPAKSA meminjam dari rentenir sebesar Rp. 10 juta  untuk biaya pengobatan orangtuanya yang harus secepatnya dibawa ke rumah sakit. Si rentenir (yang –tentu saja- halak hita) dengan senang hati memberi “bantuan” dengan memberi pinjaman. Perjanjiannya si –peminjam/si saudara ini “hanya perlu” membayarkan bunganya setiap bulan hingga ia bisa melunasi utangnya yang 10 juta. Dengan prinsip “ bayar bunganya saja dulu, pokok pinjaman pikirkan belakangan” kelihatannyan tidak membenani si peminjam. Padahal dengan pembenanan bunga yang tidak tanggung-tanggung : 20 % dari sisa pokok / hutang, sipeminjam sebenarnya sedang menjerat tali semakin sesak dilehernya.

Bayangkan besarnya beban yang harus ditanggung si peminjam. Jika setiap bulan ia hanya sanggup membayar 2 juta maka dalam setahun ia sudah menyumbang 24 juta pada si rentenir sementara pokok hutangnya masih tetap 10 juta rupiah!  

Madu manis ini nampaknya benar-benar diminati oleh manusia-manusia bergenetika vampire sehingga semakin hari jumlahnya semakin banyak , sialnya sebagian besar golongan itu didominasi halak hita  terutama di kota-kota besar.

 

Gereja dan Organisasi Marga/Punguan Mengapa diam ?

Gereja atau punguan-punguan berbasis massa halak hita / batak, entah mengetahui fenomena ini entah tidak yang pasti tidak pernah sekalipun merasa terusik dengan kenyataan ini. Padahal kerap anggota punguan atau jemaat/ruas, anggota punguan ama/ina bahkan pengurus gereja terlibat dalam praktek-praktek bisnis tak bermoral tersebut. Anehnya mereka bisa hidup dengan normal bahkan merasa memiliki kualitas rohani yang lebih baik dari sesamanya.

Gereja atau punguan, entah karena rentenir-rentenir tersebut kerap menjadi “sumber dana” dan donatur dalam kegiatan-kegiatan gereja/organisasi seolah tutup mata. Sebagai persekutuan yang kudus, gereja harus berani mengambil tindakan atas jemaat yang melakukan penipuan berkedok bisnis. Kalau perlu buat aturan yang melarang jemaat/anggota punguan melakukan praktek simpan pinjam (rentenir), jangan hanya membuat peraturan yang mengatur syahwat jemaat.Salah satu kelemahan terbesar gereja dan punguan halak hita saat ini adalah terlalu permisif terhadap hal-hal semacam ini.

PERHATIAN !!!! UMUR 17 Tahun kebawah..

Sekadar mengisi waktu menunggu jam gua balik ke ladang iseng-iseng saya main ke warnet deket rumah (ya ampun baru nyadar, ternyata nyaris enam tahun terakhir ngga pernah mampir ke warnet!). Sambil menunggu loading page yang leletnya minta ampun, saya pandangi dinding cube  saya. Ada satu banner page yang menarik perhatian : PERHATIAN !!!! Umur 17 Tahun kebawah dilarang keras buka situs porno. SANKSI akan dikeluarkan dari WARNET ini.

Lalu saya lirik kiri-kanan, hmm di PC sebelah kanan ada bocah seumuran anak kelas satu SMP : wajah tegang, keringetan, mata sekali-kali lirik om penjaga warnet..gelisah! Dari mimik wajah dan bahasa tubuhnya jelas nyata dia sedang berbuat dosa :)  !.

Website Pemkab Toba Samosir, Website Seribu Baju

WEB

Entah apa yang ada di benak tim PDE Pemkab Tobasa saat mendesign website Pemkab Tobasa ini. Melihat dari tampilan dan content-nya yang (-maaf-tak lebih dari situs pribadi seorang anak SMP) ada beberapa asumsi yang muncul di benak saya. Pertama,  Staff PDE Pemkab Tobasa hanya sekadar melakukan pekerjaan, sekadar mengisi jam kerja tanpa motivasi yang sungguh-sungguh dan tidak mengetahui dengan benar apa tujuan pembuatan situs ini. Jika ini masalahnya maka tidak ada cara lain anda harus mengubah pola pikir anda, dan sadari bahwa anda digaji oleh rakyat. Kedua, staf PDE kekurangan resources bisa kekurangan staff atau staff banyak tapi kemampuan / skill kurang. Jika ini masalahnya, Staff PDE harus banyak-banyak belajar lagi tentang pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung kemajuan organisasi berbasis pemerintahan termasuk bagaimana mendesign situs pemerintahan dengan benar. Di Sitolu Ama, Laguboti ada Politeknik Informatika DEL. Anda boleh konsultasi dengan mereka, sebagai sebuah istitusi pendidikan yang bervisi kepada kemajuan bonapasogit saya yakin mereka akan dengan senang hati membantu. Ketiga, Pemkab Tobasa tidak memberi dukungan berupa data yang memadai, akurat dan benar dan dana yang cukup. Jika ini alasannya, bupati tobasa harus mengubah cara pandangnya terhadap teknologi informasi, denan membuat alokasi dana pada anggaran belanja kantor pemkab Tobasa untuk peningkatan skill dan kemampuan staff PDE berupa training atau studi banding.  Lalu tempatkan tim teknologi informasi (anda menyebutnya PDE) sebagai salah satu tim inti dalam organisasi pemkab Tobasa, bukan di level kedua atau ketiga.

Penilaian saya ini sebenarnya tidak muncul serta merta atau tiba-tiba, dari beberapa tahun yang lalu kondisinya sudah seperti itu, hanya saja saya dan mungkin banyak warga Tobasa lain menduga situs ini pada masa itu masih dalam pengembangan sehingga menganggapnya sesuatu yang wajar. Tapi mengingat usia Kabupaten Tobasa yang sudah hampir sepuluh tahun, kok rasanya mustahil ya pengembangan situs makan waktu yang begitu lama. Sejauh yang saya ikuti selama ini, memang perubahan hanya di bagian kulit luar. Tampilan, theme, baju cukup sering berubah, dalam dua tahun terakhir mungkin sudah tiga atau empat kali tukar baju, makanya situs ini saya sebut situs seribu baju.
Tampilan, theme, baju berubah tapi esensi terlupakan karena kontent/isi tetap.

Apapun itu alasannya, Pemkab Tobasa tidak bisa berlama-lama membiarkan keadaan ini. Sebagai sebuah situs yang menjadi jendela Kabupaten Tobasa bagi dunia luar seharusnya bisa menyajikan informasi lengkap dan bisa menjadi rujukan (referensi) bagi masyarakat luas yang ingin mengetahui situasi, potensi dan kemungkinan investasi di sana. Sediakan data yang lengkap, benar dan akurat tidak bias seperti data sekarang. Seandainya saya seorang pengusaha dan bermaksud mencari lahan investasi yang lain, saya tidak akan bersedia menanamkan modal saya di Tobasa karena saya TIDAK MELIHAT ADA PELUANG disana, karena informasinya terlalu sedikit dan bias. Atau ada teman yang bermaksud membawa koleganya yang dari luar negeri untuk berwisata disana, tentu saja dia akan ragu untuk promosi, bagaimana dia bisa promosi jika tidak ada suatu BUKTI yang bisa dia tunjukkan, minimal figure/gambaran lokasi yang akan mereka kunjungi.

Di jaman yang berubah serba cepat ini kemampuan mendapatkan informasi yang tepat dan akurat menjadi salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam bisnis. Ini harus benar-benar disadari pemerintah kabupaten tobasa jika ingin program-program, visi dan misi yang mereka rancang, TOBAMAS 2010 tercapai

Hits
Hit

Sedikit bermain angka-angka. Saya melihat pengunjung/visitor situs ini sebenarnya cukup ramai, dari September 2007 saja ada 23550, katakanlah dari 23550 tersebut ada 1000 pengunjung yang unik (angka 1000 ini tinggi, tapi saya yakin akurasinya cukup tinggi karena biasanya setelah mengunjungi situs Pemkab Tobasa orang MALAS berkunjung lagi, mengingat informasi yang miskin, berita jarang diupdate dan tampilan yang kurang bagus, jadi memberi angka kunjungan ynang unik sampai 1000 sy rasa acceptable). Dari 1000 orang katakanlah ada 10 persen orang berduit maka jumlahnya 100, jika dari 100 orang ini ada 5 % saja yang tertarik berinvestasi maka dalam 3 bulan  ada 5 calon investor baru. Hal yang sama berlaku untuk pariwisata, dari 1000 orang ada 50 persen yang hobby jalan-jalan maka ada 500 orang yang mempertimbangkan untuk melakukan perjalanan wisata ke Tobasa, dengan catatan tentu saja infrastruktur pariwisata di Tobasa layak dikunjungi.
“Adik” kita, Kabupaten Samosir nampaknya cukup menyadari hal ini. Tidak ada salahnya berkunjung ke situs mereka, belum terlalu lengkap sih tapi saya pikir bolehlah liat-liat , sekadar supaya ada gambaran:
http://www.samosir.go.id/

Oh..sedikit saran lagi : Lain kali kalau ada baju baru lagi, tolong kedua bapak-bapak yang di banner itu kalau bisa ngga usah nampang lagi deh.. :-)

Candra HP Siregar
Warga Lumbanrau,
Kecamatan Habinsaran
Toba Samosir

I Was.., Years to Remember-Tahun-tahun Untuk Diingat

Akhir tahun atau awal tahun adalah semacam check point dalam perjalanan hidup kita, karena itulah banyak orang di akhir tahun atau di awal tahun membuat resolusi-resolusi atau komitmen-komitmen untuk satu tahun ke depan, resolusi adalah komitmen, yang berhulu pada keinginan dan bermuara pula pada keinginan yang bernama kualitas hidup yang lebih baik. Resolusi bisa macam-macam, bagi yang sedang kuliah dan menunggak beberapa SKS, tahun ini berjanji akan melunasinya, bagi yang gendut atau overweight membuat resolusi untuk menjalani diet ketat buat mendapat body ideal, yang jomblo dan jablay membuat resolusi untuk mendapatkan pacar tahun ini, bagi yang sedang bekerja membuat beberapa program untuk perbaikan karir, bagi ayah atau ibu membuat resolusi-resolusi untuk bisa lebih membahagiakan keluarga. Intinya resolusi yang dibuat orang macam-macam mulai dari yang iseng, realistis sampai yang rasanya mustahil. Tapi ini bukan cerita resolusi di tahun baru, walaupun saya pikir pertengahan Januari belum terlalu terlambat  bicara mengenai resolusi. Hanya saja, saya mulai belajar, berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, resolusi yang saya buat di akhir atau awal tahun sering sekali tidak terpenuhi bahkan sering sama sekali tidak saya jalankan. Kesimpulannya : “It didn’t work with me, Resolusi tidak cocok untuk saya J ”.  Berdasar itu pula tahun ini saya putuskan tidak membuat resolusi apa-apa, kenyataan hidup yang saya alami sering tidak terduga dan berada di luar rancangan saya. Sebagian bernilai tidak terlalu bagus, tapi di bagian lain sangat saya nikmati…but most of all I think my life is great, Thanks Lord. Mungkin itu cara Tuhan untuk menunjukkan kebenaran firmanNya pada saya bahwa rancangan kita bukan rancanganNya, sekaligus mengingatkan untuk menjalani hidup ini mengalir apa adanya.
Daripada bicara mengenai resolusi, maka saya putuskan untuk bercerita perjalanan hidup dalam penggalan decade-per sepuluh tahunan-, barangkali saja ada pelajaran yang bisa diambil, kalaupun tidak ada anggap saja ini ceracau dari sebuah radio rusak alias radio nasega-sega
J 
Sekarang tahun 2008, buat saya ini tahun yang berarti karena saya menginjak dekade ketiga dalam perjalanan hidup saya, kadang-kadang saya agak lancang, sok-sok-an istilah orang Medan sekaligus ketar-ketir dan merasa tak berguna jika membandingkan diri dengan Yesus Kristus yang menurut penelitian sejarah memulai perjalanannya – mengajar pada umur yang kurang lebih sama 30 tahun. Jika pada umur ini Yesus – terlepas dari fakta bahwa Dia Tuhan-, sudah bisa membuat langkah dan gerakan dari sebuah perjalanan singkat yang kelak membawa perubahan terhebat dan terdahsyat dalam sejarah perjalananan kehidupan umat manusia di bumi, bagaimana dengan saya ? what I have done? Apa yang sudah saya lakukan ? Nothing, belum apa-apa.. Tapi saya bersyukur, setidaknya itu saya sadari masih pada saat sekarang dengan segala keterbatasan saya, belum pada usia senja saya saat saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi bagi sesama, saat saya sudah menjadi beban bagi kemanusiaan.  Kembali kepada penggalan cerita dekade-an tadi…Saya mulai dari tahun 1988. Tahun ini adalah tahun istimewa bagi saya. Ini adalah tahun pertama sekali saya bisa melewati desa Galung (satu kampung kecil di pinggir jalan besar yang harus dilewati jika dalam perjalanan dari Parsoburan ke Medan). Sebelumnya daerah terjauh yang pernah saya jalani adalah desa ini, Galung, tidak pernah lewa karena begitu sampai disini (Galung) saya dan Bapak atau Ibu saya dan saudara-saudara yang lain –jika ada ulaon/ adat – harus turun dari mobil / bus untuk segera melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke kampung tulang saya : Lumban Ruhap.Bisa ikut ke kampung Tulang, Lumban Ruhap inipun adalah sudah satu kesempatan langka.Ada Ada semacam kebiasaan anak-anak dikampung kami, yang waktu itu sering membuatku banyak diam : menceritakan perjalanan terjauh yang pernah dialami. Ada teman yang sudah sampai ke tempat bapa tuanya, atau bapa udanya atau tulangnya di Balige, di Medan, Pekanbaru, Jakarta bahkan ada salah seorang yang abangnya ada yang di “Amerka” (dia menyebutnya amerka, bukan Amerika J) , kalau topik pembicaraan sudah ini saya selalu jadi pecundang, pernah sekali saya menyebut tempat terjauhadalah Galung, saya malah diolok-olok dengan berkata “Ah..dang terkenal, hira goarni horbo, horbo sihalung” (“Ah..itu tidak terkenal, mirip nama kerbau, kerbau Halung” *) kata salah seorang. Akhirnya daripada menjadi bahan olok-olok lebih baik saya diam. Sebelum tahun 1988 ini “kota tebesar “ yang saya jalani adalah Parsoburan, Ibukota Kecamatan, itupun setelah kelas tiga SD dibolehkan ikut “martanggal tujubelas”, sebutan untuk merayakan tujuh belasan”. Pertama sekali menginjak Parsoburan, saya berlama-lama memandangi jabu ni “Si Sinton na martigkat” J, “Jabu ni Si Sinton na martingkat ini semacam legenda bagi kami anak-anak di kampung pada waktu itu. Jabu ni Si Sinton na martingkat adalah sebutan bagi salah satu rumah bertingkat milik seorang juragan di Parsoburan. Rumah itu membuat saya terkagum-kagum, rumah bertingkat, tinggi, lebar dan panjang yang didesign mengikuti design rumah di kota besar lengkap dengan hiasan bunga-bunga di lantai atas. Rumah itu juga berpintu besi di depan dan di belakang, pokoknya tidak sembarang orang bisa masuk. “Pasti orang-orang di dalam rumah itu setiap hari bisa makan daging dan makan makanan yang enak-enak..”   Tahun itu saya masih kelas V (lima) SD, kesempatan untuk memecahkan rekor perjalanan terjauh : Galung, terbuka lebar ketika saya dan dua orang teman lain, setelah sebelumnya menjadi juara tingkat rayon, berhasil menumbangkan :)  tim SD Negeri 1 Parsoburan dan SD St.Pius sebagai group unggulan dalam lomba cerdas tangkas tingkat SD se-kecamatan, SD kami, SD 01735 Lumbanrau (nomor Sekolah kami waktu itu) mewakili Kecamatan Habinsaran ke tingkat Kabupaten yang akan diadakan di Balige.Sebagai juara se-kecamatan, yang tentunya akan membawa nama kecamatan di tingkat kabupaten tentu saja kami diperlakukan bak raja, makan yang enak, uang jajan secukupnya dan perlengkapan disediakan dan disumbangkan oleh bapak camat, memang bukan pak camatnya yang kasih langsung, pak guru kami, dia berkata “Ini pemberian dari pak camat”, entah itu benar atau blow up supaya kami makin semangat..tidak tau. Waktu tidak terlalu memikirkan itu..Dan tentu saja, pemberian itu tidak cuma-cuma, ada igil-igilnya, ada maunya, harus menang atau minimal jangan malu-maluin, “Paling tidak unang pailahon..”

Begitulah, hari itu kami berangkat ke Balige, diantar oleh motor ni camat (Sebutan untuk mobil camat), saya masih ingat waktu itu mobilnya kijang petak, warna orange. Bisa naik mobil camat seperti dalam mimpi, karena biasanya kami hanya bisa melihatnya melintas di depan rumah, pada hari Sabtu atau Selasa..

Ada satu cerita lucu yang saya ingat persis hingga kini ketika dalam perjalanan ke Balige, mungkin karena terbawa euphoria-kesenangan luar biasa-, selama perjalanan saya tidak terlalu memperhatikan kta-kata guru yang mendampingi kami, termasuk kepala sekolah yang ketika sampai di Matio (satu huta/kampung kecil di puncak bukit, sehingga pemandangan ke daerah Toba terlihat jelas) berkata : “Candra, nian ma tao Toba , nian na di toru an”, (“Candra, Itulah Danau Toba, itu yang dibawah itu”). Danau Toba juga hanya ada dalam khayalan saya selama ini, tapi cerita keindahan dan betapa luasnya waktu itu sudah sering saya baca dan dengar. Saya tidak memperhatikan tangan guru saya menunjuk ke arah mana, dia sebut di bawah, saya melihat ke bawah.. Sambil memandangi “danau” dihadapan saya, yang agak jauh dibawah, saya berpikir keheranan sambil membatin …”Kenapa orang-orang mengagumi danau toba?, apanya yang hebat? biasa saja.., tidak luas.., airnya juga putih,.orang-orang bodoh, bapak saya juga punya danau seperti itu !”. Hingga kira-kira satu menit kemudian, secara tidak sengaja mata saya memandang jauh ke depan..jauh.., saya terkaget-kaget, sontak takjub dan kagum.. itu laut atau danau? Kekaguman saya disusul kesadaran itulah Danau Toba.Rupanya “danau toba” yang saya lihat tadi di belakang adalah “tobat”, empang, tempat penangkaran atau pembiakan ikan mas..pantas  saja airnya putih..Oala…Mengingat kebodohan itu saya seyum-seyum sendiri..malu J. Sampai sekarang kalau ingat itu masih suka seyum sendiri.Sekitar satu jam lebih kemudian kami sampai di Balige, istirahat sebentar, makan lalu langsung ke Aula sebuah sekolah menengah tempat cerdas tangkas tingkat kabupaten akan dimulai..pertandingan akan segera di mulai… Kadang-kadang belakangan ini saya suka mengagumi saya ketika masih anak-anak dan bertanya-tanya mengapa dulu saya bisa berhasil (sekalipun untuk skala yang sempit dan kecil). Banyak hal yang saya lakukan yang membuat orang tua saya bangga. Membuat sekolah dan guru-guru saya bangga. Membuat jemaat gereja saya bangga ketika gereja kami yang kecil bisa jadi juara cerdas-tangkas sekolah minggu, mengalahkan gereja yang digembalakan seorang pendeta. Mengemban tugas membawa nama baik kecamatan Habinsaran di tingkat kabupaten juga bukan tugas mudah.Dan keberhasilan-keberhasilan masa kecil itu tidak pernah dengan lewat resolusi-resolusi atau semacam komitmen di akhir tahun, baru saya sadari, kuncinya adalah ketulusan dan kemauan menjalani hidup apa adanya, tanpa ambisi aneh-aneh yang kadang diluar akal sehat sampai untuk mencapinya kadang-kadang harus mengorbankan sesama. Dan tentu saja iman dan kesediaan berserah pada satu kuasa : Tuhan. Seperti mungkin kebanyakan anak kecil, kadang-kadang pada malam sebelum pembagian rapor saya bangun tengah malam, berdoa supaya Tuhan memberikan nilai-nilai baik di rapor atau menjadikan tetap rangking, padahal rapor tersebut sudah selesai diisi oleh guru dua hari yang lalu? Looks silly but somehow it works.. Lalu bagaimana hasil cerdas tangkas tingkat kabupaten tadi? Dari sepuluh group yang bertanding, kami hanya menempati urutan keempat, tidak terlalu bagus memang tapi paling tidak minumun requirement dari “pak camat” masih dapat kami penuhi : “Jangan malu-maluin”, “Unang Pailahon I think..1988 adalah tahun yang pantas saya kenang karena waktu itu saya boleh mengemban tugas dari kampung saya: Habinsaran,Tahun itu juga tahun kemenangan secara khusus buat saya karena bisa memecahkan rekor perjalanan terjauhku selama ini, sekaligus menyadari bahwa jabu ni si Sinton adalah rumah biasa saja, tak perlu jadi sebuah legenda…  Continued to Tahun 1998..        

Dos Do Nangkok Na Jala Dos Do Nang Tuatna Anggo Diparngoluon On