I Was.., Years to Remember-Tahun-tahun Untuk Diingat

Akhir tahun atau awal tahun adalah semacam check point dalam perjalanan hidup kita, karena itulah banyak orang di akhir tahun atau di awal tahun membuat resolusi-resolusi atau komitmen-komitmen untuk satu tahun ke depan, resolusi adalah komitmen, yang berhulu pada keinginan dan bermuara pula pada keinginan yang bernama kualitas hidup yang lebih baik. Resolusi bisa macam-macam, bagi yang sedang kuliah dan menunggak beberapa SKS, tahun ini berjanji akan melunasinya, bagi yang gendut atau overweight membuat resolusi untuk menjalani diet ketat buat mendapat body ideal, yang jomblo dan jablay membuat resolusi untuk mendapatkan pacar tahun ini, bagi yang sedang bekerja membuat beberapa program untuk perbaikan karir, bagi ayah atau ibu membuat resolusi-resolusi untuk bisa lebih membahagiakan keluarga. Intinya resolusi yang dibuat orang macam-macam mulai dari yang iseng, realistis sampai yang rasanya mustahil. Tapi ini bukan cerita resolusi di tahun baru, walaupun saya pikir pertengahan Januari belum terlalu terlambat  bicara mengenai resolusi. Hanya saja, saya mulai belajar, berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, resolusi yang saya buat di akhir atau awal tahun sering sekali tidak terpenuhi bahkan sering sama sekali tidak saya jalankan. Kesimpulannya : “It didn’t work with me, Resolusi tidak cocok untuk saya J ”.  Berdasar itu pula tahun ini saya putuskan tidak membuat resolusi apa-apa, kenyataan hidup yang saya alami sering tidak terduga dan berada di luar rancangan saya. Sebagian bernilai tidak terlalu bagus, tapi di bagian lain sangat saya nikmati…but most of all I think my life is great, Thanks Lord. Mungkin itu cara Tuhan untuk menunjukkan kebenaran firmanNya pada saya bahwa rancangan kita bukan rancanganNya, sekaligus mengingatkan untuk menjalani hidup ini mengalir apa adanya.
Daripada bicara mengenai resolusi, maka saya putuskan untuk bercerita perjalanan hidup dalam penggalan decade-per sepuluh tahunan-, barangkali saja ada pelajaran yang bisa diambil, kalaupun tidak ada anggap saja ini ceracau dari sebuah radio rusak alias radio nasega-sega
J 
Sekarang tahun 2008, buat saya ini tahun yang berarti karena saya menginjak dekade ketiga dalam perjalanan hidup saya, kadang-kadang saya agak lancang, sok-sok-an istilah orang Medan sekaligus ketar-ketir dan merasa tak berguna jika membandingkan diri dengan Yesus Kristus yang menurut penelitian sejarah memulai perjalanannya – mengajar pada umur yang kurang lebih sama 30 tahun. Jika pada umur ini Yesus – terlepas dari fakta bahwa Dia Tuhan-, sudah bisa membuat langkah dan gerakan dari sebuah perjalanan singkat yang kelak membawa perubahan terhebat dan terdahsyat dalam sejarah perjalananan kehidupan umat manusia di bumi, bagaimana dengan saya ? what I have done? Apa yang sudah saya lakukan ? Nothing, belum apa-apa.. Tapi saya bersyukur, setidaknya itu saya sadari masih pada saat sekarang dengan segala keterbatasan saya, belum pada usia senja saya saat saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi bagi sesama, saat saya sudah menjadi beban bagi kemanusiaan.  Kembali kepada penggalan cerita dekade-an tadi…Saya mulai dari tahun 1988. Tahun ini adalah tahun istimewa bagi saya. Ini adalah tahun pertama sekali saya bisa melewati desa Galung (satu kampung kecil di pinggir jalan besar yang harus dilewati jika dalam perjalanan dari Parsoburan ke Medan). Sebelumnya daerah terjauh yang pernah saya jalani adalah desa ini, Galung, tidak pernah lewa karena begitu sampai disini (Galung) saya dan Bapak atau Ibu saya dan saudara-saudara yang lain –jika ada ulaon/ adat – harus turun dari mobil / bus untuk segera melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke kampung tulang saya : Lumban Ruhap.Bisa ikut ke kampung Tulang, Lumban Ruhap inipun adalah sudah satu kesempatan langka.Ada Ada semacam kebiasaan anak-anak dikampung kami, yang waktu itu sering membuatku banyak diam : menceritakan perjalanan terjauh yang pernah dialami. Ada teman yang sudah sampai ke tempat bapa tuanya, atau bapa udanya atau tulangnya di Balige, di Medan, Pekanbaru, Jakarta bahkan ada salah seorang yang abangnya ada yang di “Amerka” (dia menyebutnya amerka, bukan Amerika J) , kalau topik pembicaraan sudah ini saya selalu jadi pecundang, pernah sekali saya menyebut tempat terjauhadalah Galung, saya malah diolok-olok dengan berkata “Ah..dang terkenal, hira goarni horbo, horbo sihalung” (“Ah..itu tidak terkenal, mirip nama kerbau, kerbau Halung” *) kata salah seorang. Akhirnya daripada menjadi bahan olok-olok lebih baik saya diam. Sebelum tahun 1988 ini “kota tebesar “ yang saya jalani adalah Parsoburan, Ibukota Kecamatan, itupun setelah kelas tiga SD dibolehkan ikut “martanggal tujubelas”, sebutan untuk merayakan tujuh belasan”. Pertama sekali menginjak Parsoburan, saya berlama-lama memandangi jabu ni “Si Sinton na martigkat” J, “Jabu ni Si Sinton na martingkat ini semacam legenda bagi kami anak-anak di kampung pada waktu itu. Jabu ni Si Sinton na martingkat adalah sebutan bagi salah satu rumah bertingkat milik seorang juragan di Parsoburan. Rumah itu membuat saya terkagum-kagum, rumah bertingkat, tinggi, lebar dan panjang yang didesign mengikuti design rumah di kota besar lengkap dengan hiasan bunga-bunga di lantai atas. Rumah itu juga berpintu besi di depan dan di belakang, pokoknya tidak sembarang orang bisa masuk. “Pasti orang-orang di dalam rumah itu setiap hari bisa makan daging dan makan makanan yang enak-enak..”   Tahun itu saya masih kelas V (lima) SD, kesempatan untuk memecahkan rekor perjalanan terjauh : Galung, terbuka lebar ketika saya dan dua orang teman lain, setelah sebelumnya menjadi juara tingkat rayon, berhasil menumbangkan :)  tim SD Negeri 1 Parsoburan dan SD St.Pius sebagai group unggulan dalam lomba cerdas tangkas tingkat SD se-kecamatan, SD kami, SD 01735 Lumbanrau (nomor Sekolah kami waktu itu) mewakili Kecamatan Habinsaran ke tingkat Kabupaten yang akan diadakan di Balige.Sebagai juara se-kecamatan, yang tentunya akan membawa nama kecamatan di tingkat kabupaten tentu saja kami diperlakukan bak raja, makan yang enak, uang jajan secukupnya dan perlengkapan disediakan dan disumbangkan oleh bapak camat, memang bukan pak camatnya yang kasih langsung, pak guru kami, dia berkata “Ini pemberian dari pak camat”, entah itu benar atau blow up supaya kami makin semangat..tidak tau. Waktu tidak terlalu memikirkan itu..Dan tentu saja, pemberian itu tidak cuma-cuma, ada igil-igilnya, ada maunya, harus menang atau minimal jangan malu-maluin, “Paling tidak unang pailahon..”

Begitulah, hari itu kami berangkat ke Balige, diantar oleh motor ni camat (Sebutan untuk mobil camat), saya masih ingat waktu itu mobilnya kijang petak, warna orange. Bisa naik mobil camat seperti dalam mimpi, karena biasanya kami hanya bisa melihatnya melintas di depan rumah, pada hari Sabtu atau Selasa..

Ada satu cerita lucu yang saya ingat persis hingga kini ketika dalam perjalanan ke Balige, mungkin karena terbawa euphoria-kesenangan luar biasa-, selama perjalanan saya tidak terlalu memperhatikan kta-kata guru yang mendampingi kami, termasuk kepala sekolah yang ketika sampai di Matio (satu huta/kampung kecil di puncak bukit, sehingga pemandangan ke daerah Toba terlihat jelas) berkata : “Candra, nian ma tao Toba , nian na di toru an”, (“Candra, Itulah Danau Toba, itu yang dibawah itu”). Danau Toba juga hanya ada dalam khayalan saya selama ini, tapi cerita keindahan dan betapa luasnya waktu itu sudah sering saya baca dan dengar. Saya tidak memperhatikan tangan guru saya menunjuk ke arah mana, dia sebut di bawah, saya melihat ke bawah.. Sambil memandangi “danau” dihadapan saya, yang agak jauh dibawah, saya berpikir keheranan sambil membatin …”Kenapa orang-orang mengagumi danau toba?, apanya yang hebat? biasa saja.., tidak luas.., airnya juga putih,.orang-orang bodoh, bapak saya juga punya danau seperti itu !”. Hingga kira-kira satu menit kemudian, secara tidak sengaja mata saya memandang jauh ke depan..jauh.., saya terkaget-kaget, sontak takjub dan kagum.. itu laut atau danau? Kekaguman saya disusul kesadaran itulah Danau Toba.Rupanya “danau toba” yang saya lihat tadi di belakang adalah “tobat”, empang, tempat penangkaran atau pembiakan ikan mas..pantas  saja airnya putih..Oala…Mengingat kebodohan itu saya seyum-seyum sendiri..malu J. Sampai sekarang kalau ingat itu masih suka seyum sendiri.Sekitar satu jam lebih kemudian kami sampai di Balige, istirahat sebentar, makan lalu langsung ke Aula sebuah sekolah menengah tempat cerdas tangkas tingkat kabupaten akan dimulai..pertandingan akan segera di mulai… Kadang-kadang belakangan ini saya suka mengagumi saya ketika masih anak-anak dan bertanya-tanya mengapa dulu saya bisa berhasil (sekalipun untuk skala yang sempit dan kecil). Banyak hal yang saya lakukan yang membuat orang tua saya bangga. Membuat sekolah dan guru-guru saya bangga. Membuat jemaat gereja saya bangga ketika gereja kami yang kecil bisa jadi juara cerdas-tangkas sekolah minggu, mengalahkan gereja yang digembalakan seorang pendeta. Mengemban tugas membawa nama baik kecamatan Habinsaran di tingkat kabupaten juga bukan tugas mudah.Dan keberhasilan-keberhasilan masa kecil itu tidak pernah dengan lewat resolusi-resolusi atau semacam komitmen di akhir tahun, baru saya sadari, kuncinya adalah ketulusan dan kemauan menjalani hidup apa adanya, tanpa ambisi aneh-aneh yang kadang diluar akal sehat sampai untuk mencapinya kadang-kadang harus mengorbankan sesama. Dan tentu saja iman dan kesediaan berserah pada satu kuasa : Tuhan. Seperti mungkin kebanyakan anak kecil, kadang-kadang pada malam sebelum pembagian rapor saya bangun tengah malam, berdoa supaya Tuhan memberikan nilai-nilai baik di rapor atau menjadikan tetap rangking, padahal rapor tersebut sudah selesai diisi oleh guru dua hari yang lalu? Looks silly but somehow it works.. Lalu bagaimana hasil cerdas tangkas tingkat kabupaten tadi? Dari sepuluh group yang bertanding, kami hanya menempati urutan keempat, tidak terlalu bagus memang tapi paling tidak minumun requirement dari “pak camat” masih dapat kami penuhi : “Jangan malu-maluin”, “Unang Pailahon I think..1988 adalah tahun yang pantas saya kenang karena waktu itu saya boleh mengemban tugas dari kampung saya: Habinsaran,Tahun itu juga tahun kemenangan secara khusus buat saya karena bisa memecahkan rekor perjalanan terjauhku selama ini, sekaligus menyadari bahwa jabu ni si Sinton adalah rumah biasa saja, tak perlu jadi sebuah legenda…  Continued to Tahun 1998..        

Tahun Baru..

Bapa di surga.. tahun duaributujuh telah tiga hari telah berlalu
Terimakasih buat segala berkat materi luar biasa sepanjang tahun itu, luar biasa sehingga saya tidak bisa dan tak ingin menghitung dan menyebutnya dalam angka. Terimakasih buat kesehatan yang boleh saya miliki sepanjang tahun itu, Luar biasa..karena tak seharipun saya terbaring di tempat tidur karena sakit.
Terimakasih buat keluarga yang luar biasa yang boleh saya miliki sepanjang tahun itu, luar biasa karena kami hidup dalam damai sejahtera dan dalam kasih sayang yang dalam.
Terimakasih buat pekerjaan yang boleh saya miliki saat ini dengan segala keunikannya.
Terima kasih buat segala pergumulan hidup yang boleh saya alami sepanjang tahun itu, karena dengan begitu aku memalingkan wajah pada-Mu, melipat tangan dan berlutut memohon pertolongan.
Terimakasih buat sahabat-sahabat yang setia mendukungku sepanjang tahun ini.
Terimakasih juga buat beberapa “teman” yang boleh saya kenal sepanjang tahun itu, They’re so great

Bapa di Surga..
Di atas lutut rapuh yang terlipat..
Ampuni aku..jika ucapan syukur-ku lebih sering terucap lewat mulut daripada perbuatan nyata..
Ampuni aku atas makian dan kata-kata kasar tersembur dari mulutku yang membuat sesamaku terluka..
Ampuni aku..jika sepanjang tahun itu banyak keluhan di hatiku

Bapa di surga kini tahun duaribudelapan ada di hadapanku..
Masih dari-Mu

Saya tidak meminta Tuhan jauhkan aku dari segala kesukaran, karena aku tau itu akan membuatku sombong
Saya tidak meminta Tuhan jauhan aku dari masalah, karena itu akan membuatku meluupakanMu
Tapi saya memohon Tuhan hadir memberi pertolongan di saat masalah dan kesukaran itu datang, mengangkat saya setiap kali jatuh, supaya tetap sadar dan tau diri bahwa sesungguhnya aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
Dan jadikan aku baru, aku jenuh dengan warna bias ini..

Amin

“Sampai bertemu di Yerusalem Baru”..

“Sampai bertemu di Yerusalem Baru”..

Oleh Rev. Richard Ryan

 Hari itu dingin, tidak biasa di bulan Mei. Musim semi telah tiba dan segala sesuatu tumbuh beraneka warna. Aku duduk bersama dua orang teman dekat jendela yang bergambar dalam rumah makan yang unik di pojok taman kota. Makanan dan persahabatan kami terasa istimewa hari itu. Saat kami sedang berbincang-bincang, perhatianku tertarik ke seberang jalan. Di situ tampak seorang lelaki sedang menggendong seluruh barang miliknya pada punggungnya. Ia membawa tanda kusam yang bertuliskan, “Saya mau bekerja untuk dapat makan”. Hatiku terenyuh. Aku mengalihkan perhatian pada kedua temanku dan melihat bahwa orang disekitar kami berhenti menyantap makanannya untuk melihat orang tersebut. Banyak kepala digelengkan dengan kesedihan dan rasa tidak percaya. Kami meneruskan makanan kami, namun bayangannya tidak hilang dari pikiranku. Setelah menyelesaikan makan siang itu, kami berpisah. Ada hal yang harus aku kerjakan dan akupun bergegas hendak menyelesaikannya. Aku menoleh ke arah taman kota, mencari pengunjung aneh itu dengan setengah hati. Aku takut bahwa jika aku melihatnya lagi, aku merasa harus menanggapinya. Aku menyusuri kota dan tidak melihatnya lagi. Aku berbelanja dan kembali ke mobil. Dalam lubuk hatiku, Roh Tuhan terus berbicara padaku: “Jangan kembali ke kantor sebelum engkau mengelilingi taman itu sekali lagi.” Begitulah, dengan sedikit ragu, aku menuju ke kota. Saat aku mengitari tikungan taman, aku melihatnya. Ia sedang berdiri di tangga depan sebuah gereja, memeriksa isi tasnya. Aku berhenti dan memandang, merasa terpanggil untuk berbicara kepadanya, tetapi juga ingin terus melanjutkan perjalananku. Tempat parkir di pojok mungkin sebuah tanda dari Tuhan: undangan untuk parkir. Aku memarkirkan mobil, melangkah keluar, dan menghampiri pengunjung baru di kota ini. “Mencari pendeta, Pak?” tanyaku. “Tidak juga,” sahutnya. “Cuma istirahat.” “Anda sudah makan hari ini?” “Oh, saya makan sedikit tadi pagi.” “Anda mau makan siang dengan saya?” “Apakah Anda punya pekerjaan untuk saya?” “Tidak ada,” sahutku. “Aku datang ke kota ini untuk bekerja, tapi saya ingin mengajak Anda makan siang.” “Baiklah,” sahutnya sambil tersenyum. Selagi ia mulai mengumpulkan barang-barangnya, aku bertanya sebagai ‘basa-basi': “Anda hendak ke mana?” “St. Louis.” “Asalnya dari mana?” “Oh, dari mana-mana; kebanyakan dari Florida.” “Sudah berapa lama Anda berjalan?” “Empat belas tahun,” begitu jawabnya. Aku tahu bahwa aku telah berkenalan dengan seorang yang tidak biasa. Kami duduk berseberangan dalam rumah makan yang sama dengan yang kutinggalkan beberapa menit sebelumnya. Rambutnya panjang lurus, dan janggutnya yang gelap, dicukur rapi. Kulitnya terbakar matahari, dan wajahnya sedikit lebih tua dari usianya yang 38 tahun. Matanya berwarna gelap, tetapi jernih, dan cara bicaranya fasih dan jelas. Ia membuka jaketnya dan terlihat kaos merah terang bertuliskan, “Yesus Adalah Cerita Tanpa Akhir!” Lalu, cerita Daniel, begitulah namanya, mulai terungkap. Ia mengalami hidup yang keras. Ia telah membuat beberapa pilihan yang salah dan menuai akibatnya. Namun empat belas tahun yang lalu, selagi berkelana melintasi negeri, ia berhenti di sebuah pantai di Daytona. Ia mencoba bekerja bersama beberapa orang yang sedang mendirikan tenda besar dan beberapa peralatan konser. Akhirnya, ia mendapatkan pekerjaan itu, tapi tenda besar itu bukan untuk sebuah konser, melainkan untuk kebaktian. Dalam kebaktian itu ia melihat kehidupan dengan lebih jelas. Ia menyerahkan hidupnya pada Tuhan. “Tidak ada yang sama sejak saat itu,” katanya. “Saya merasa Tuhan menyuruhku terus berjalan, jadi saya meneruskannya sampai empat belas tahun sekarang.” “Pernah merasa ingin berhenti?” “Kadang-kadang, ketika sedang mengalami kesulitan. Tapi, Tuhan telah memberikan panggilan ini. Saya membagikan Alkitab. Itu isi tas saya. Saya bekerja untuk membeli makanan dan Alkitab dan saya berikan Alkitab itu saat Roh-Nya menuntun saya.” Aku duduk tercengang. Temanku yang tunawisma ini ternyata bukan tidak mempunyai rumah. Ia sedang menjalani misi dan hidup seperti ini sebagai pilihan. Pertanyaan berkobar dalam kalbuku beberapa saat. Lantas aku bertanya: “Seperti apa rasanya?” “Apa?” “Berjalan-jalan di kota membawa semua milik Anda di punggung dan menunjukkan tanda itu?” “Oh, awalnya terasa memalukan. Orang pasti menatap dan berkomentar. Pernah ada yang melempar roti yang sudah hampir habis dan memberi isyarat yang menyatakan bahwa saya sama sekali tidak diinginkan berada di sekitar tempat itu. Tapi saya merasa rendah hati ketika saya sadar bahwa Tuhan menggunakan saya untuk menyentuh kehidupan dan mengubah cara pikir seseorang tentang orang-orang seperti saya.” Cara pikirku berubah. Kami menyelesaikan makanan penutup dan mengumpulkan barang-barangnya. Di pintu keluar ia berhenti dan menatapku sambil berkata, “Marilah, hai orang-orang yang diberkati Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan.” Aku merasa berdiri di tanah suci. “Anda mau tambahan Alkitab?” tanyaku. Ia mengatakan bahwa ia ingin memiliki terjemahan tertentu yang mudah dibawa dan tidak berat. Buku itu adalah buku kesukaannya. “Saya sudah membaca Alkitab 14 kali,” katanya. “Saya tidak tahu apakah kami punya terjemahan itu, tapi kita bisa mampir ke gereja dan melihat-lihat. ” Aku berhasil menemukan sebuah Alkitab yang cocok untuk teman baruku, dan ia kelihatan sangat berterimakasih. “Dari sini, Anda hendak kemana?” tanyaku. “Saya menemukan peta kecil di belakang sebuah kupon taman hiburan ini.” “Anda ingin bekerja di sana untuk sementara?” “Tidak. Saya hanya ingin ke sana. Saya rasa ada orang di bawah bintang di sana yang membutuhkan Alkitab, jadi saya akan ke sana.” Ia tersenyum, dan kehangatan jiwanya memancarkan ketulusan misinya. Aku mengantarnya kembali ke taman kota tempat kami bertemu dua jam sebelumnya, dan selagi kami di mobil, hari mulai hujan. Kami memarkir mobil dan menurunkan barang-barangnya. “Anda mau mengisi buku tanda tangan saya?” tanyanya. “Saya suka mengumpulkan pesan dari orang-orang yang saya jumpai.” Aku menulis dalam buku kecilnya bahwa pengabdian pada panggilannya telah menyentuh hidupku. Aku mendorongnya untuk tetap tabah. Dan aku meninggalkan sebait ayat, Yeremia 29:11. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” “Terimakasih, ” katanya. “Saya tahu bahwa kita baru berkenalan dan sebenarnya masih belum kenal benar, namun saya mengasihimu. ” “Saya tahu,” kataku. “Saya juga mengasihimu. ” “Tuhan itu baik.” “Ya, benar. Kapan terakhir kali Anda dipeluk?” tanyaku. “Wah, sudah lama sekali,” sahutnya. Jadi, di tikungan jalan yang sibuk, diiringi hujan gerimis, aku dan teman baruku berpelukan. Aku merasakan di dalam diriku sudah berubah. Ia memanggul tasnya, menyunggingkan senyum kemenangan dan berkata, “Sampai bertemu di Yerusalem Baru.” “Aku pasti ke sana!” jawabku. Ia memulai kembali perjalanannya dan pergi dengan tanda tergantung pada gulungan kasur dan tumpukan Alkitabnya. Ia berhenti dan berbalik serta berkata, “Kalau Anda melihat sesuatu yang mengingatkan Anda pada saya, apakah Anda mau mendoakan saya?” “Pasti!” aku berseru kembali. “Tuhan memberkatimu. ” “Tuhan memberkatimu. ” Dan itulah saat terakhir aku melihatnya. Akhir sore itu, saat aku meninggalkan kantor, angin dingin bertiup kencang. Aku mengenakan pakaian tebal dan bergegas ke mobil. Saat aku duduk dan meraih rem tangan, aku melihat sepasang sarung tangan kerja berwarna coklat yang usang ditaruh dengan rapi pada gagang rem. Aku memungutnya, terpikir akan temanku itu, dan bertanya-tanya, apakah tangannya akan tetap hangat tanpa sarung tangan ini. Aku teringat akan perkataannya: “Kalau Anda melihat sesuatu yang mengingatkan Anda pada saya, apakah Anda mau mendoakan saya?” Hari ini,sarung tangannya ada di atas meja kantorku. Ia telah menolongku melihat dunia dan kemanusiaan dengan cara yang baru, menolongku mengingat dua jam bersama temanku yang unik dan mendoakan misinya. “Sampai bertemu di Yerusalem Baru,” aku teringat akan perkataannya. “Ya, Daniel, kita pasti bertemu!” DUNIA MENGINGINKAN YANG TERBAIK DARI Anda, TETAPI ALLAH MENGINGINKAN SEMUA YANG ADA PADA Anda.

Mengkel Nama Au !~Saya Hanya Bisa Tertawa!

Mengkel Nama Au ~ Tongam Sirait

Akhir-akhir ini ada perubahan yang tidak saya suka dari diri saya, saya jadi melankolis!
Padahal sepanjang yang saya ingat, tanpa bermaksud jumawa, ada banyak situasi dalam hidup yang saya alami yang sebenarnya cukup untuk membuatku untuk tidak sampai disini, tapi sejauh ini entah dengan kekuatan darimana…masih bisa saya lalui.
Kendati begitu, dua tahun terakhir ini, hingga kini masih terasa, ada beberapa peristiwa yang membuat saya kini sering merenung apa, mengapa begini dan akan kemana arah hidup ini?
Terus terang saya bukan orang yang cukup religius, yang menurut bahasa yang alkitabiah : memiliki hikmat yang cukup untuk memasrahkan kepada “Satu Kuasa” yang sama sekali tidak dapat saya sentuh, tidak dapat saya lihat. (Atau mungkinkah di “ketidakberhikmatan” itulah sebenarnya sumber kegagalan dan ketidakjelasan arah hidup yang saya alami kini?? Entahlah..).

Kembali ke soal saya jadi seorang yang melankolik tadi, tadi pagi -mumpung hari Sabtu-, sambil melakukan pekerjaan yang tidak seberapa urgent saya menikmati alunan lagu-lagu batak yang terkenal (kebanyakan) melankolis cenderung cengeng. Playlist yang diset play-random menghantar untuk mendengar satu lagu dari Tongam Sirait dari album “Nommensen” bertitel “Mengkel Nama Au”.
Liriknya kurang lebih bercerita tentang ketidakberhasilan atau ketidakpuasan dengan apa yang telah diperoleh dalam hidup pada usia/umur  yang sudah sekian..Sambil menikmati saya bergumam :”hmm..begitulah hidup ini ..”
Selain lagunya memang bagus -tanpa bumbu melankolis :)-, suara tawa Tongam dan lirik kata horas mengakhiri lagu ini dengan manis, akhir unik ini cukup kuat untuk menyiratkan : bahwa banyak hal-hal yang memang tidak dapat kita raih dalam hidup ini, bahwa banyak hal dalam kehidupan ini yang berada diluar jangkauan dan kemampuan kita, jika sudah begitu tidak perlu memaksa diri, tidak perlu bersedih, Tertawalah…!
“…Mengkel nama au unang marsak au..”
“…Mengkel nama au unang holsoan au..
“…Horas..asalma sai horas..”

Lirik lengkapnya :Jumpang Ari, Jumpang Bulan..Jumpang Nang Taon Muse
Ari-ari Tapasuda, So Adong Namoru Hape..
Nunga Lam Suda Ari-Arikku
Nunga Lam Loja Mamingkiri
So Adong Namuba Dope
Hape Umur Nunga Lam Matua So Tarulahan
Hape Daging Pe Nunga Lam Loja So Tarambatan
So Adong Nahudapot dope


Mengkel Nama Au..unang holsoan Au
Mengkel Nama Au ..unang marsak Au
Iee..iee..

Nunga Lam Suda Ari-arikku
Nunga Lam loja mamingkiri
So Adong Namuba Dope
Hape Umur nunga Lam matua so tarulahan
Hape Daging Pe Nunga lam Loja So Tarambatan
So Adong Nahudapot dope
Mengkel Nama Au..unang holsoan Au
Mengkel Nama Au ..unang marsak Au
Iee..iee..
Horas..Horas..
Horas…Horas..
Asal ma Sai Horas..

About the Album :
Album : “Nommensen”
Artist : Viky Sianipar, Featuring : Tongam Sirait
Tahun : 2004
Lagu-lagu dalam album ini bergenre pop rock yang dipadu dengan musik tradisional batak dengan sangat apik oleh Viky Sianipar..
Lagu “Mengkel Nama Au” dalam album ini buat saya pribadi merupakan salah satu lagu batak terbaik yang pernah saya dengar.
Hanya heran..kok nampaknya lagu dan album ini tidak begitu populer ya ?? :(

Mudah-mudahan ada yang penasaran lagunya seperti apa :)
With Thanks to Lae Charlie (Silaban.Net), Nah kalo mau dengar lagunya seperti apa, Silaban.Net, punya podcast-nya. Click saja disini : http://www.silaban.net/podcast.php  lalu pilih menu “sihar”.
Neh screenshot-nya :
Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Yang Tersisa Dari (sehabis) Nonton Nagabonar(Jadi)2

Setelah kehabisan bahan gombalan untuk bisa mengajak Tiur supaya bersedia saya “antar” nonton Nagabonar (Jadi) 2, terpaksa saya harus nonton sendiri. Tapi ternyata kesendirian itu tidak mengurangi keasyikan dan kenikmatan menonton film ini. Melihat wajah Dedy Mizwar pada film yang berjudul sama (plus tambahan 2 kata dibelakang) memicu ingatan saya sejenak kembali pada 20 tahun lalu ketika sequel pertama film ini diputar. Waktu itu saya masih kelas 4 SD harus berhimpitan dengan kedua saudara saya ditambah bapak di atas motor-honda bututnya menuju gedung sekolah SMP tempat layar tancap dimana film ini diputar, membeli karcis seharga 50 perak.  
Cerita film pun mulai mengalir……

Setelah puas bernostalgia, tergelak-gelak dengan humor segar yang mengalir ditambah terbawa suasana konflik bathin dalam cerita plus menikmati logat batak yang (menurut saya orang batak asli ada beberapa yang -maaf-terdengar sedikit agak dipaksakan :) ) .

Penonton pun bubar…

Sampai kemudian tiba di kafe kecil di sekitar studio, sambil menyeruput kopi saya kembali teringat salah satu dialong di film : Dialog yang terjalin antara Nagabonar dan Monita di sebuah taman ketika Bonaga Cs asyik dugem. “Mengapa kau mencintai Bonaga?” Tanya Nagabonar – tentang anak tunggalnya pada Monita, gadis cantik partner kerja anaknya yang ia tau diam-diam mencintai anaknya.. Dengan ekspresi penuh antusiasme Monik menjawab :  “Bonaga itu masih muda, lulusan S2 luar negeri. Memiliki karier yang bagus. Kaya dan ganteng. Itu sudah cukup jadi alasan bagi wanita manapun untuk jatuh cinta padanya..”, ujarnya sambil tersenyum disambung tawa kecil.. Nagabonar lalu mengeluarkan sebuah foto lusuh dari dompetnya. Lecek, kusam dan hampir pudar dimakan usia.. “Ini foto Kirana, Emaknya Bonaga, Istriku yang paling Aku cintai”, Nagabonar tua mulai bernostalgia. “Kamu tahu, dia adalah gadis yang paling diidamkan di kampung waktu itu. Cantik dan pintar, anak seorang dokter, Lahir dari keluarga yang berkecukupan pula” lanjutnya “Tapi mengapa ia memilih aku sebagai suaminya? Seorang tukang copet, berandal, tidak ganteng, bukan dari keluarga kaya, bahkan tidak bisa mengaji pula?” Setelah terdiam sejenak, seperti mencoba mencari kata yang tepat, Monita menjawab : Saya pikir wanita pada berbagai zaman memiliki alasan yang berbeda untuk mencintai seorang pria.. 
Sambil memegangi gelas kopi saya saya memandangi pasangan di depan saya sambil bertanya pada diri sendiri..hmm alasan apakah yang dimiliki gadis cantik, tinggi semampai di depan ini untuk mencintai pria pendek dan jelek ( :) ) yang disampingnya itu? yang pasti bukan tampang :) ….harta? otak?..  
Tidak cukupkah wajah tampan ini (narsisku kumat.. :) ) menjadi alasan bagi Tiur untuk bersedia saya “temani” ke tempat ini ? :)
Anyway…saya pikir alasan apapun yang dimiliki setiap wanita untuk mencinta seorang pria selama itu mereka nikmati jadi sumber kebahagiaan bagi mereka berdua..itu mulia..

Tiur (bukan nama sebenarnya) : Cewek manis yang nge-kost di rumah sebelah yang pernah gua approached sebelum kemarin saya putuskan untuk berhenti, saya pikir mungkin saya tidak (belum) punya alasan yang cukup kuat buat sekedar dia lirik :) ..…  

This is Where..

This is the place where I always be welcome..
This is the place where my voice always listened..
This is the place the where I can cried out as loud as i want..
This is the place where I can wrote as long as I can…
This is the place where I’ll never be banned..
This is the place where I belong..

This is the place.. and this is My Blog

Parnagetep~Pargetep=Yang Empunya Uang

 tugu3.jpgSaya memutuskan ini menjadi postingan saya yang pertama di blog ini. Seperti yang saya bilang di page Tentang, saya orang yang suka tidak konsisten, sebenarnya dulu saya sudah membuat satu Website khusus tentang topik ini (Parnagetep) tapi tidak sampai selesai karena terbentur masalah pengumpulan data / data collection (sialnya saya (tidak konsisten lagi)  tidak berusaha serius mencari datanya). Sudah..sudah back to postingan.. :)

Dulu saya orang yang suka menyombongkan diri dalam hati dengan berkata oppung (kakek leluhur) saya dulu namanya Parnagetep (bisa juga dilafalkan dengan Par-getep; par=Yang punya, Getep=uang)  yang artinya Yang empunya Duit. Saya begitu membanggakan oppung saya itu sebagai seorang perantau dari tanah Muara (Samosir) ke tanah Habinsaran bisa sukses menjadi orang kaya dan banyak uang. Nah…berangkat dari nama (gelar) besar ini, dengan bahasa yang sedikit kampungan saya suka berkata pada diri sendiri “Oppung-mu saja yang tidak mengenal huruf dan angka begitu bisa jadi orang kaya dan punya duit banyak, Masa kamu ngga bisa ?? kamu juga harus seperti dia, punya banyak duit, kaya, makmur dll”… Bayangan oppung saya dulu kaya raya, dihormati, punya sawah ladang yang luas sering menari-nari dalam bayangan saya apalagi kalau sedang pulang kampung. Pokoknya saya memiliki ambisi untuk mengulang lagi “sejarah” sukses oppung saya itu,

Tapi setahun yang lalu kesombongan dan ambisi itu runtuh…, penyebabnya adalah acara pesta tugu ompu Parnagetep yang diadakan oleh keluarga besar pomparan/keturunan ompu Parnagetep Siregar. Setelah tugu (prasasti) sebagai salah satu wadah/simbol pemersatu bagi keturunan Ompu Parnagetep Siregar selesai dibangun, akan diadakan pesta tugu (semacam pesta peresmian) . Nah.. sebelum acara pesta tugu dilakukan, terlebih dahulu akan diadakan pesta “Pasidung Ari-ari”. Lazimnya pada adat Batak, setiap orang tua yang sudah meninggal harus terlebih dahulu diadakan acara “pemberangkatan” yang disebut pesta “Pasidung Ari-ari”. Bagian inilah yang kemudian membuat saya terhenyak, ketika acara pesta pasidung ari-ari berlangsung bapak saya dengan sedikit linangan air mata membacakan riwayat hidup dan tujuan diadakannya acara / pesta pada hari itu adalah “Pasidung ari-ari ni ompunami/ pesta pemberangkatan leluhur kami) yaitu Ompu Parnagetep Siregar yang karena KEMISKINAN beliau pada masa hidupnya acara/pesta pasidung ari-ari-nya nya tidak dapat dilakukan oleh anak-anaknya. Seketika saya dapat membayangkan betapa miskinnya mereka pada waktu itu sehingga untuk sekedar mengundang tetangga dan membuat acara makan dan pemberangkatan yang sederhana sajapun mereka tidak mampu. Saya menjadi malu…malu pada diri sendiri sekaligus pilu…

parnagetepdekatkecil1.jpgApakah nama “Parnagetep=Yang Empunya Uang” waktu itu semacam harapan yang disandangkan oleh bapaknya kepada ompung kami tersebut? dengan harapan kelak akan jadi yang punya banyak uang? semacam wishes gitu?? saya tidak tau..tapi apapun itu, bagaimanapun maknanya..sama sekali tidak mengurangi kebanggaan saya pada ompung kami tersebut..kebanggaan dan rasa hormat dalam bentuk yang lain yang terlalu luas untuk saya deskripsikan ! 

……Bersambung ke Parnagetep2 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.