warung kopi dipinggir jalan, adalah gelas besar melarutkan buntu malam. Kita yang singgah lama disana..adalah prajurit2 kalah perang mengisahkan berulang-ulang kemenangan pertempuran2 kecil berharap mampu menindas sepi Meja kayu tak bertaplak, lapuk,kaki timpang, kopi basi, kecoak menari.. Semalam ada penyair disini. Lari dari sepi: rumah BTN yang menggusurnya Malam disini kerap mendekapnya, kal sesak melantak [...]
Filed under: Sajak-sajak Sang Pengelana | Leave a Comment »