Tokoh PKI itu Terbaring di Lumbanrau, Sebuah Clipping Mengenang G30S-1965

Salib yang berdiri di atas makam yang berada tengah kebun ubi jalar yang berjarak hanya beberapa meter dari pinggir jalan utama desa itu sering menjadi sasaran lemparan batu atau tembakan ketapel anak-anak. Waktu saya masih anak-anak, setiap kali melintas disana,maka bayangan kebengisan dan kebiadaban PKI sebagaimana yang diajarkan oleh guru-guru sekolah kami atau yang kami baca di buku-buku sejarah atau yang kami tonton di televisi selalu melintas, menimbulkan rasa takut yang kerap membuat bulu kuduk berdiri.

Mungkin bayangan kengerian seperti itu jugalah yang hinggap di benak anak-anak atau bahkan orang-orang tua yang melintas disana yang menyebabkan salib yang berdiri di makam itu sering menjadi sasaran lemparan orang-orang.

Kerap tindakan itu disertai dengan makian dan hujatan pada PKI, yang mungkin sebenarnya mereka sendiri tidak paham komunis itu apa. Menurutku, sama seperti jutaan manusia di Indonesia termasuk kita (mungkin – dulu), mereka yang berlaku sedemikian itu adalah korban-korban yang disesatkan oleh propaganda pemerintah mengenai PKI dengan mencekoki rakyat Indonesia dengan sebuah hipotesa.

Ya, sebuah hipotesa! karena ternyata banyak versi ‘fakta yang sebenarnya’ dari sebuah peristiwa yang sama yang berlaku waktu itu. Masing-masing versi mempercayai ‘fakta’-nya sendiri, mencoba mengungkap fakta-nya dan mengajukan teori-teori dan analisis-analisis dengan caranya sendiri. Tapi, kembali, semuanya berujung hanya menjadi sebuah hipotesa. Satu-satunya kesamaan yang dimiliki oleh hipotesa-hipotesa tersebut adalah fakta bahwa peristiwa G30 S itu benar-benar pernah terjadi.

Makam itu terletak di sudut sebuah banjar (sub kampung) di Lumbanrau, Kecamatan Habinsaran. Persisnya di Banjar Godang. Berjarak kurang lebih seratusan meter dari pohon hariara satu marga disana.  

Salah seorang tokoh sentral peristiwa G30S terbaring disana (Saya tidak menyertakan PKI sebagaimana penulisan yang sering kita lihat selama ini, karena tidak lagi percaya pada sebuah hipotesa sebagaimana yang saya percayai dulu, artinya PKI mungkin terlibat tapi bukan otak dan dalang).

 Dialah Peris Pardede, salah seorang tokoh sentral dalam peristiwa Gerakan 30-September (G30 S) 1965. Posisinya sebagai anggota CCPKI (Central-Comitee-Partai Komunis Indonesia) dan calon anggota Politbiro PKI pada waktu itu menjadikan dia menjadi salah seorang saksi kunci sejauh mana sebenarnya keterlibatan Partai Komunis Indonesia dalam peristiwa itu. Begitu pentingnya dia dalam peristiwa itu jika kita coba cari tahu melalui internet, kita akan menemukan namanya diantara tokoh-tokoh dan pimpinan Partai Komunis Indonesia yang terlibat langsung dalam peristiwa itu seperti DN.Aidit, Nyono, Syam Kamaruzaman, Sudisman, Letkol Untung, Latief dll.

Tidak terlalu banyak cerita mengenai sejarah hidupnya yang saya tahu. Dia lahir di Lumbanrau pada tahun 1918. Menjalani karir sebagai jurnalis sampai akhirnya bergabung dengan Harian Rakyat dan Bintang Merah, media resmi PKI. Karir politiknya di PKI mengantarnya ke jajaran anggota CC-PKI (Semacam dewan pimpinan pusat (DPP) pada partai-partai sekarang). Dunia politik itu pulalah yang menenggelamkannya.

Setelah dijatuhi hukuman seumur hidup oleh pengadilan dia hidup dan menjalani hari-harinya di penjara khusus di Tanjung Gusta Medan sampai akhirnya meninggal di sana.

Yang menarik, di tahun-tahun terakhir kehidupannya, dia, seorang komunis sejati menjadi penginjil di penjara.

Tulisan ini tidak bermaksud mengupas bagaimana kisah hidup dan perjalanan politik Peris Pardede termasuk sepak terjang dan peranannya dalam peristiwa G30 S. Nampaknya pemerintah orde baru berhasil mengubur dan mengunci mati informasi mengenai tokoh-tokoh PKI tersebut, terbukti dengan sedikitnya informasi yang dapat ditemukan mengenai mereka kecuali dari sumber-sumber luar negeri. Hal ini kemungkinan didorong oleh paranoia akan munculnya anak-anak muda yang meneladani ideologi, doktrin dan jalan pikiran mereka.

Perlu riset lebih mendalam dan waktu yang cukup lama untuk mengetahui sejarah hidupnya dan menggali pikiran-pikirannya. Sebagai seorang tokoh partai besar dan seorang jurnalis di satu kurun revolusi sebuah bangsa yang besar, saya yakin pemikiran-pemikirannya pasti memiliki substansi yang tidak biasa-biasa saja.

Sekalipun dia dan keluarganya adalah menjadi bagian dari kampung saya, tidak banyak cerita dan kisah mengenai dia, sepertinya stigma/cap buruk baik yang disematkan pemerintah orde baru bagi keluarga yang terlibat dalam peristiwa itu membuat mereka ketakutan dan seperti menutup diri.

Tapi buat saya pribadi, setiap orang yang memberi porsi penting dalam sebuah peristiwa besar adalah orang-orang hebat, demikian juga dengan Peris, terlepas dari hitam putihnya ideologi komunis yang dia pilih sebagai perjalanan karir politiknya, terlepas dari bagaimana fakta yang sebenarnya melatar belakangi peristiwa G30S, dia adalah orang hebat yang telah turut memberi warna dalam sejarah perjalanan hidup bangsa Indonesia.

Tulisan di atas hanya sebuah pengantar dari tulisan-tulisan yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, merangkumnya menjadi sebuah tulisan, sekadar suplemen dalam rangka mengingat peristiwa Gerakan 30 September 1965, 43 tahun yang lalu. 

Mudah-mudahan berguna ! Selamat membaca..

 

Setelah peristiwa G30S terjadi, propaganda hebat dari pemerintah yang secara de-facto sudah berada dibawah kendali Suharto berhasil membuat rakyat Indonesia secara mantap mempercayai bahwa PKI-lah dalang dari gerakan tersebut. Propaganda yang luar biasa ini kemudian disusul dengan pembersihan Indonesia dari unsur-unsur PKI. Ekses yang mengerikan terjadi, sejarah mencatat bahwa sebenarnya peristiwa genosida, pembunuhan massal pernah terjadi di negeri ini. Ratusan ribu hingga hampir satu juta orang-orang yang ‘diduga’ terlibat PKI kehilangan nyawa.

Apakah sebenarnya yang terjadi ? Benarkah PKI adalah dalang utama peristiwa itu?

Ada beberapa teori yang berkembang. Secara garis besar ada 3. Yang pertama, Benedict Anderson dan Ruth McVey pada Januari 1966, menulis Cornell Paper yang mengajukan sebuah hipotesa bahwa menyatakan bahwa peristiwa G30 S PKI adalah masalah internal Angkatan Darat dan tidak ada hubungan dengan PKI. Masalah ini dilatar belakangi ketidakpuasan beberapa perwira menengah di Jawa Tengah yang tidak puas dengan kepemimpinan tentara di pusat yang telah dirusak oleh sifat tamak dan kemewahan.  Teori kedua, G30 S adalah suatu gerakan yang dilakukan kelompok didalam TNI yang keseluruhannya diotaki PKI. Teori ketiga, suatu gerakan yang diintepretasikan sebagai suatu komplotan antara perwira pembelot (menyebut dirinya perwira progressif) dengan pemimpin-pemimpin PKI. Tentu tidak dapat diabaikan peran CIA dan Bung Karno. Teori yang paling kuat, adalah yang terori dari angkatan darat yang secara defacto berada bawah komando Suharto, yakni teori kedua yang mengatakan bahwa PKI-lah dalang dan otak dari peristiwa ini. Teori ini kemudian diperkuat oleh ‘bukti-bukti’ di  ‘pengadilan’ Mahmilub terhadap tokoh-tokoh PKI. Dari bukti-bukti pengadilan yang diberikan tokoh-tokoh penting komunis, bisa ditarik kesimpulan ada tiga interpretasi pokok.
Pertama, Nyono, anggota politbiro PKI dalam persidangan mengakui bahwa ia mendukung perwira pemberontak secara pribadi dan menyusun daftar sejumlah anggota organisasi di bawah PKI untuk dilatih sebagai kekuatan pasukan cadangan, tetapi ia menolak bahwa PKI sendiri terlibat.

Kedua, menurut Sudisman dan Peris Pardede, anggota CC-PKI pemimpin PKI telah mengambil keputusan untuk mendukung usaha coup tetapi mereka mengelak dengan mengatakan bahwa inisiatif gerakan justru datang dari “perwira” progresif, bukan dari PKI.
Ketiga, Ketua Biro Khusus, Syam, memberikan bukti yang mengarah pada kesimpulan bahwa PKI telah merencanakan sejak awal gerakan coup dan bahwa perwira yang terlibat digerakkan PKI.
Menurut Nyono, Politbiro PKI telah mengadakan 3 pertemuan pada bulan Agustus 1965 setelah Aidit kembali lawatan ke luar negeri. Ada tiga masalah yang dilontarkan Aidit.
Pertama, berkaitan dengan sakitnya Presiden Soekarno yang dianggap sebagai hal serius. Kedua, informasi mengenai “Dewan Jenderal” yang berencana melakukan coup (perebutan kekuasaan). Ketiga, prakarsa “perwira progresif” yang bermaksud mengambil tindakan preventif terhadap aksi “Dewan Jenderal”.
Menurut Nyono, dalam pertemuan itu Aidit melontarkan soal apakah PKI lebih baik menyokong “perwira progresif” yang akan melakukan aksi pencegahan atau melaporkan kepada presiden dan menunggu sikap presiden. Pada akhir pertemuan (28 Agustus 1965) itu, Aidit mengaskan bahwa pilihan kedualah (melapor kepada presiden) yang diambil. Tetapi Nyono mengakui bahwa Aidit telah memutuskan untuk melakukan kontak dengan para perwira pembelot itu. Dia juga mengakui, sebagai anggota Politbiro dia telah bekerja sama dengan para perwira pemberontak itu untuk merekrut sukarelawan dari organisasi massa PKI untuk pasukan cadangan yang dilatih disekitar Halim dengan koordinasi Angkatan Udara pada bulan Juli-September 1965.

Peris Pardede, anggota CC-PKI, dalam kesaksian pada pengadilan Nyono menyatakan bahwa dalam rapat tanggal 28 Agustus 1965 ketika akan mengambil sikap terhadap aksi perwira progresif, Aidit melontarkan usul agar masalah itu untuk sementara diserahkan pada Standing Committee Politbiro. Rapat menyetujui usul itu. Kira-kira sepuluh hari kemudian, Pardede menanyakan kepada Sudisman mengenai keputusan itu. Jawab Sudisman, mereka memutuskan untuk mendukung sikap mengambil tindakan preventif yang akan dilakukan oleh para “perwira progresif-Letkol Untung Cs“. Dalam sidang pengadilannya (1967), Sudisman membenarkan kesaksian Pardede itu. Mengikuti keputusan itu, menurut Sudisman, Aidit lalu meminta Nyono untuk merekrut 2000 anggota ormas dibawah PKI untuk menjadi pasukan cadangan yang akan dimanfaatkan untuk melancarkan aksi “perwira progresif” itu.
Pada September 1965 Sudisman mengirim utusan ke Medan, Palembang, Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menginformasikan kemungkinan aksi “Dewan Jenderal” kepada cabang-cabang PKI. Semua pengurus PKI diwilayah diharuskan memantau terus menerus perkembangan di Jakarta lewat radio dan juga “membantu Dewan Revolusi”.

Dengan demikian Sudisman mengakui bahwa pemimpin PKI secara sadar menyokong usaha-usaha coup. Namun dia menyatakan bahwa PKI hanyalah membantu gerakan yang secara nyata dilakukan “perwira-perwira progresif”. Dia menyatakan bahwa keterlibatan para pemimpin PKI dalam gerakan coup itu tidak berarti bahwa partai secara keseluruhan terlibat.

Syam (Kamaruzzaman) menjadi saksi dalam persidangan Sudisman dan dirinya sendiri. Dia adalah Kepala Biro Khusus Politbiro PKI yang dibentuk tahun 1964, yang bertanggungjawab secara langsung kepada Aidit. Banyak langkah yang dibuat Syam yang tidak diketahui pimpinan partai selain Aidit. Dia dicurigai sebagai double agent.
Versi Syam berbeda. Menurutnya, Aiditlah yang mengambil prakarsa dengan mengintruksikan kepada Syam untuk menggalang perwira pemberontak yang bisa diajak untuk menjalankan rencana yang disusun oleh PKI. Jadi menurut Syam, “perwira progresif” tidak memainkan peran independen, mereka hanyalah alat yang siap digunakan apa saja oleh PKI. Jadi, dari uraian singkat di atas tampaknya bisa disimpulkan bahwa banyak pemimpin PKI terlibat dalam usaha coup, namun derajat keterlibatannya masih mengundang interpretasi yang beragam. Yang mengundang pertanyaan adalah pendapat para pemimpin PKI yang menyatakan bahwa keterlibatan mereka itu secara pribadi dan tidak melibatkan partai.  

Peran Suharto

Mengenai peranan Suharto dalam peristiwa itu, saya mengutip hasil penelusuran Karim DP (Mantan Sekjen PWI waktu itu) yang mewawancari beberapa orang yang anggota penting PKI yang dipenjara yang disampaikan presentasinya di Universitas Negeri Manado(UNISMA) di Tondano 12 April 2003.

G30S yang disebut oleh Bung Karno sebagai GESTOK (Gerakan 1 Oktober)yang
langsung dipimpin oleh Soeharto, memang dialah arsiteknya, Dr Soebandrio yang
waktu itu Wakil Perdana Menteri 1 , Menteri Luar Negeri dan Kepala Badan Intelijen (BPI) menambahkan bahwa prestasi gemilang Soeharto tidak terlepas dari dukungan Amerika Serikat , yang memang sudah lama berusaha menggulingkan Bung Karno dan sekaligus menghancurkan PKI , seperti yang terungkap dalam buku “Foreign Relations of the United States” yang diterbitkan dan dicetak oleh percetakan Negara AS, tapi yang ditarik kembali oleh Departemen Luar Negeri
dari peredaran , karena isinya masih harus dirahasiakan . Tetapi sudah banyak yang lolos ke luar negeri , dan saya menerima copynya dari sahabat saya di Australia, Prof. Dr. Angus Mc Intyre.

Pembuktian lain bahwa Soeharto adalah sang arsitek , menurut pengakuan Untung , 3 minggu sebelum M meletusnya G30S , ia dan Kol. Latief , masing masing sebagai Komandan Batalion 1 Tjakrabirawa dan Komandan Brigade Infanteri 1 Kodam V Jaya, sudah merundingkan dengan Soeharto langkah-langkah yang perlu diambil.

Untung dan Latief kedua-duanya bekas anak buah Soeharto , dan persahabatan mereka terus berkelanjutan . Kunjungan Latief ke RSPAD “Gatot Subroto” pada malam gerakan akan dilancarkan 4 jam kemudian, menemui Soeharto sedang menemani isterinya menunggui anak bungsu mereka Tommy yang sedang dirawat di sana karena kena guyur sup mendidih, anak kesayangannya yang diyakini membawa rezeki , adalah kontak terakhir pelaksana gerakan, untuk melaporkan bahwa gerakan segera dilaksanakan (4 jam kemudian) , yang diterimanya dengan penuh keseriusan. Belakangan Kolonel Latief mengakui dalam bukunya edisi ke II bahwa laporan yang
sama disampaikan juga kepada Panglima Kodam V Jaya, Umar Wirahadikusuma.
Jadi, kedatangan Latief ke RSPAD “Gatot Subroto” pada tanggal 30 September 1965 pukul 11.00 malam , samasekali bukan untuk membunuh Soeharto seperti yang pernah dikatakannya kepada seorang wartawan Jerman , tapi untuk membuat laporan akhir mengenai gerakan. Dalam kesempatan itu, menurut Kolonel Latief, dia menyampaikan kepada Pak Harto bahwa dalam waktu yang amat dekat akan terjadi penjemputan paksa terhadap beberapa jenderal yang tergabung dalam Dewan Jenderal yang diyakini akan melakukan kudeta terhadap Bung Karno. Para jenderal itu akan dibawa kehadapan Bung Karno untuk diinterogasi.  Menanggapi laporan itu, menurut Kolonel Latief, Pak Harto hanya menjawab telah mengetahui hal itu dari seorang bekas anak buahnya bernama Subagiyo. Oey Tjoe Tat, seorang menteri diera Bung Karno, dalam memoirnya menyatakan bahwa dia bertemu Subagiyo di dalam tahanan yang mengatakan bahwa dia memang bertemu Pak Harto dan meyampaikan informasi seperti di atas. Menurut seorang saksi, segera sesudah itu, Soeharto berangkat ke KOSTRAD untuk konsolidasi pasukan dan keliling kota melihat-lihat keadaan, lewat di depan RRI, kantor Telkom dan TVRI. 

Rencana ini diperhitungkan dengan cermat untuk menjamin kesuksesannya, dengan seminggu sebelum pelaksanaan, Soeharto sebagai Panglima KOSTRAD mendatangkan 3 (tiga) Batalion pasukan tempur berpengalaman , masing masing dari Semarang, Madiun dan Bandung yang berada dibawah komando KOSTRAD . Kapten Kuncoro, kepala staf Batalion 454/Diponegoro yang ditahan satu sel dengan saya di blok isolasi Blok N penjara Salemba (Jakarta), menceritakan bahwa ketika batalyonnya tiba di Jakarta menumpang serentetan kereta api panjang memuat prajurit, kendaraan, senjata ringan dan berat serta peluru yang cukup untuk pertempuran 10 hari sebagaimana diinstruksikan, Soeharto datang mengucapkan “selamat datang” dan meng-inspeksi pasukan serta perlengkapan-perlengkapannya. Kendaraan yang sudah tua diganti dengan yang baru, begitu juga senjata-senjatanya.
Semua tidak ada yang dilaporkan oleh Soeharto kepada atasannya, padahal persiapan gerakan ini beresiko tinggi, sehingga tidak ada secuilpun tindakan
untuk mencegah di bunuhnya 6 Jenderal teras Angkatan Darat yang diculik oleh gerakan militer yang sudah dipersiapkan dengan baik. Ternyata Jenderal yang diculik lalu dibunuh itu, adalah musuh-musuhnya Soeharto, demikian diterangkan oleh Dr. Soebandrio.

Pengakuan lain yang menguatkan keterlibatan Suharto adalah pengakuan Kolonel Untung (Komandan Cakrabirawa). (Saya kutip dari buku kesaksian Subandrio: “Kesaksianku tentang G30 S ….Untung di jemput dari selnya di penjara Cimahi oleh beberapa
sipir penjara. Diberitahukan bahwa ia akan di eksekusi. Itulah saat-saat terakhir Untung menjalani hidupnya.
Saya dan Untung yang sudah akrab selama berada dalam satu penjara di Cimahi, benar-benar hanyut dalam suasana haru. Saya bukan saja terharu, tapi juga panik, sebab Ahmad Durmawel, SH, oditur militer yang mengadili saya, saat itu memberitahukan bahwa saya akan mendapatkan giliran 4 hari kemudian. Saya ingat saat itu hari selasa, berarti saya akan di eksekusi pada hari sabtu.

Sebelum Untung di jemput untuk dibawa ke luar penjara, saya sempat menemuinya. Saat itu ia sudah ditanya tentang permintaan terakhir seperti lazimnya bagi orang yang akan di eksekusi. Mungkin karena Untung panik, ia tidak minta apa-apa. Untung juga sudah tahu bahwa saya akan dieksekusi hari sabtu. Maka pertemuan saya dengan Untung benar-benar luar biasa. Kami memang hanya
berhadap-hadapan dengan pakaian seragam narapidana, namun hati kami tidak keruan. Untung segera akan ditembak, sedangkan saya saya 4 hari lagi.

Saat itu ada kalimat perpisahan dari Untung yang saya ingat sampai sekarang. Bahkan saya ingat suasana hening saat itu, ketika Untung menyampaikan kata-kata perpisahannya kepada saya. Para sipir dan tentara berwajah angker lengkap dengan senjata mautnya, dalam sikap siaga mengawal Untung dan mengawasi saya dari jarak yang agak jauh. Mereka seperti maklum dan memberikan kesempatan terakhir kepada Untung untuk berpesan kepada saya, kata Soebandrio. Untung mangatakan demikian : “Pak Ban , selamat tinggal, jangan sedih, empat hari lagi kita bertemu di sana”, sambil menunjuk kelangit. Untung mengucapkan kata perpisahannya dengan suara bergetar. Matanya kelihatan berkaca-kaca. Perwira yang gagah berani itu, pahlawan pembebasan Irian Barat yang di terjunkan dari udara, tidak menangis, tapi saya lihat dia dalam kondisi sangat panik. Ia benar-benar tidak menyangka akan di khianati oleh Soeharto. Jika menengok hari-hari sebelumnya, Untung begitu sering mengatakan kepada saya, bahwa tidak mungkin Soeharto akan mengkhianatinya. Sebab ia adalah sahabat Soeharto dan ia mengulangi lagi bahwa Soeharto sangat mengetahui rencana G30S, bahkan memberikan bantuan pasukan. Karena itu ia sangat yakin tidak akan di khianati oleh Soeharto. Tapi toch kenyataannya berakhir demikian.
Menanggapi keyakinan Untung, saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya mengangguk-angguk. Para sipir dan tentara yang mengawal kami, menyaksikan semua adegan singkat tapi mengharukan ini.

 

Demikian suplemen yang cukup panjang ini, mudah-mudahan berguna. Satu peristiwa kelabu dalam sejarah perjalanan bangsa sudah terjadi. Peristiwa lain dengan skenario dan pelaku yang berbeda mungkin saja terjadi lagi. Tugas setiap kitalah, sebagai anak bangsa untuk mencegah kejadian yang sama terulang lagi..

 

8 Responses

  1. jadi ingat…
    dulu kalau melintasi jalan dekat kuburan yang satu “itu”, pasti “rada” takut, apalagi jalan sendiri…
    iiihhhh….

    Horas..!, Rimma na dia do tahe hamu Ito? Boru Juntak manang boru Lubis?..

  2. Horas!
    Rimma br juntak.
    na di pagaran…
    ditanda hamu do tahe ahu?

    Hutanda ma da, boru ni Lae guru kepala do kan :)? Boado kabarmu ito? Mudah-mudahan kabar baik dan sukses ate! Btw, nunga muli tahe si Arnita :)? , Dok jolo tu ibana dilului si Pasaribu si hitam manis, na ganteng sian Pangururan, par-Pertanian ibana. Pasahat tabeku ate..

  3. mas, saya sedang mencarai jejak rekam ayah saya yang pernah bergabung dengan PKI. Pada masa itu ayah saya bergabung di koran harian rakyat, dengan nama samaran sutrisno, dugel, munasir, subiyanto. Menurut cerita beliau dulu berkantor sama dengan nyoto, diseberang meja beliau (atau samping kurang jelas) ada orang batak yang jadi sejawatnya. Namun hingga saat ini saya kesulitan menggali informasi lebih jauh riwayat ayah saya tersebut. Bisakah saya meminta bantuan mas untuk mencari informasi tentang ayah saya yang sudah meninggal tersebut. Beliau sepeninggal aktivityas politik, menjadi penginjil hingga akhir hayatnya. Sebagai catatan, ayah saya tidak mau bercerita dengan jelas perihal ini, dan tidak selembar pun surat-surat penting yang beliau punya pasca peristiwa 1965. Please hubungi saya mellaui e-mail di yonatan.gsubiyanto@yahoo.com

  4. Sama, bang. Waktu msh kecil dulu di kampung umakku di Barus sana ada satu sumur yg katanya sumur bekas PKI.

    Tak boleh didekati kalo tak mau kena pantangan.

  5. Salam kenal, boleh tau asalnya darimana? Hari ini iseng2 mau buka ttg lumbanrau, eh ketemu tulisan ini, barangkali kita saling kenal..hehh

  6. sesama anak anak lomunis kita nih ya

  7. Saya hanya ingat suasana selama 1tahun sampai terjadinya G30S/PKI: kalau rombongan orang2PKI(PR/GERWANI/BTI/dll) berjalan atau naik truk,semua orang takut jauh melebihi takutnya orang zaman sekarang kalau rombongan/barisan FPI lewat.
    Salam horas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: