Membangun Kembali Indonesia Raya, 8 Program Aksi Untuk Kemakmuran Rakyat

1. Menjadwalkan kembali pembayaran utang luar negeri

  • Mengalihkan dana pembayaran utang luar negeri sebagai modal untuk membiayai program pendidikan, kesehatan, pangan dan energi, yang murah serta ramah lingkungan.

2.  Menyelamatkan kekayaan negara untuk menghilangkan kemiskinan.

  • Menjadikan BUMN sebagai lokomotif dan ujung tombak kebangkitan ekonomi.
  • Menghentikan penjualan aset negara yang strategis atau yang menguasai hajat hidup orang banyak.
  • Meninjau kembali semua kontrak pemerintah yang merugikan kepentingan nasional.
  • Mewajibkan eksportir nasional yang menikmati fasilitas kredit dari negara untuk menyimpan dana hasil ekspornya di bank dalam negeri.
  • Membangun industri pengolahan untuk memperoleh nilai tambah.

2. Melaksanakan ekonomi kerakyatan

  • Mencetak 2 juta Ha lahan baru untuk meningkatkan produksi beras, jagung, kedelai, tebu yang dapat memperkerjakan 12 juta orang.
  • Mencetak 4 juta Ha lahan untuk aren (bahan baku bio etanol) yang dapat mempekerjakan 24 juta orang.
  • Membangun pabrik pupuk ureak dan NPK dengan total kapasitas 4 juta ton.
  • Memperbesar permodalan lembaga keuangan mikro untuk menyalurkan kredit bagi rakyat kecil.
  • Membangun sarana transportasi massal.
  • Modernisasi pasar tradisional untuk pedagang kecil.
  • Meningkatkan pendapatan per kapita dari USD 2.000 menuju USD 4.000

4. Delapan program desa

  • Listrik desa.
  • Bank dan lembaga keuangan desa.
  • Koperasi desa, lumbung desa, pasar desa.
  • Air bersih desa.
  • Klinik desa.
  • Pendidikan desa.
  • Infrastruktur pedesaan dan daerah pesisir.
  • Rumah sehat pedesaan.

5. Memperkuat sektor usaha kecil

  • Prioritas penyaluran kredit perbankan kepada petani, nelayan dan pedagang kecil.
  • Melarang penyaluran kredit bank pemerintah untuk pembangunan perumahan dan apartemen mewah, mall, serta proyek-proyek mewah lainnya.
  • Melindungi pedagang pasar tradisional dengan melarang pembangunan pasar swalayan berskala besar yang tidak sesuai undang-undang.
  • Melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh migran (TKI).

6.  Kemandirian energi

  • Membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi dan air (10.000 MW).
  • Menyediakan sumber energi dengan mendirikan kilang-kilang minyak, pabrik bio etanol dan pabrik DME (pengganti LPG).
  • Membuka 2 juta hingga 4 juta Ha hutan aren – dengan sistim tanam tumpangsari – untuk produksi bahan bakar etanol, sebagai pengganti BBM impor. Pembukaan lahan ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor bahan bakar nabati setelah 7 tahun masa tanam (4 juta Ha hutan aren menghasilkan sekitar 56 juta mt etanol/tahun).

7. Pendidikan dan kesehatan

  • Mencabut undang-undang bahan hukum pendidikan.
  • Pencabut pajak buku pelajaran dan menghentikan model penggantian buku pelajaran setiap tahun. – Membagi sedikitnya 1 juta laptop kepada mahasiswa per tahun.
  • Melaksanakan kembali program KB (Keluarga Berencana).
  • Meningkatkan peran PKK, Posyandu dan Puskesmas.
  • Menempatkan sarjana dan dokter baru melalui program pemerintah terutama di kantong-kantong kemiskinan.
  • Menggerakkan revolusi putih dengan menyediakan susu untuk anak-anak miskin. 8. Menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup
  • Melakukan penghijauan kembali 59 juta Ha hutan yang rusak serta konservasi aneka ragam hayati dan hutan lindung.
  • Mengamankan dan merehabilitasi daerah aliran sungai.
  • Mencegah dan menindak tegas pelaku pencemaran lingkungan.
  • Melindungi flora dan fauna sebagai bagian dari aset bangsa.

Haluan baru. Pemimpin baru. Terobosan baru.

Prabowo Subianto Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)

Prabowo Menjawab

prabowo

Alusi Au*

Setelah ini, jangan lagi ada kata menunggu diantara kita. Cukuplah aku dengan bayanganku yang berbincang-bincang di ruang sunyi bertembok sepi, diterangi lentera redup. Aku lelah walau hanya duduk. Aku letih walau tidak kemana-mana. Jiwaku terlalu sering gelisah karenamu. Dia merintih pedih digores belati kata yang menyiratkan cinta. Cukup sampai di sini, di ruang tunggu ini. Suatu saat aku akan mengirimimu hasrat yang telah ku makamkan di tanah gersang, ditumbuhi bunga-bunga kerta bertuliskan puisi kecewa terhadap kenyataan. Agar kau tau, aku marah pada perbuatanmu yang mempermalukan keluargaku. Aku mengira senyum adalah isyarat agar bersama selamanya, aku juga menganggap setiap untai katamu adalah alunan irama cinta kasih kudus yang melantunkan lirik lagu mesra. Namun, yang kudapatkan adalah sebaliknya. Senyummu hanya indah untuk dilukiskan di atas kanvas berbingkai duka. Lirik lagumupun hanya pantas dituliskan di atas kertas dengan pena bertinta airmata. Seandainya, dulu aku tidak mengenalmu. Mungkin penantian yang akan kurasakan bercampur harapan. Bukan penantian bernapaskan kegelisahan. Tetapi, di atas takdir, tertulis pertemuan kita, yang diikat oleh hubungan darah yang harus menyatu antara aku dan kau. Kita hanya generasi yang diminta untuk menyambung sebuah keakraban, yang telah lebih dahulu dimulai kedua orang tua kita. Aku tidak ingin seperti mereka, yang harus mati oleh karena mencintai perempuan. Bagiku, itu seorang pecundang yang tidak memiliki tujuan hidup. Tetapi, aku juga tidak tahu jalan menuju tujuanku. Karena aku tau, hanya kaulah jalan menuju tujuan itu. Terkadang aku bosan melihat airmata ibuku yang menetes oleh karena keinginan yang tidak terujut. Aku dapat menerima sebuah penolakan. Karena cinta tidak dapat dipaksakan. Namun, yang aku sesalkan adalah sebuah kata yang tidak pernah terucap dari mulutmu, tentang kau, tentang aku, untuk kita. Di depan gelap aku berusaha melihat banyanganku. Pada awan hitam aku bercermin, mencoba melihat bagaimana aku yang sebenarnya. Menerka mimpi-mimpi yang ada dalam tidur ibuku. Pariban, aku menghargai jawaban apa yang kau berikan untuk setiap pertanyaan dan permintaan ibuku. Aku sadar, bahwa keberadaan pariban bukanlah jamin untuk kepemilikan cinta akanmu. Zaman ini bukan lagi milik mereka-mereka yang hidup diam dalam aturan adat. Bagiku yang terpenting, bagaimana aku dapat mempertahankan nilai yang tersirat dalam setiap aturan-aturan yang ada pada masa-masa leluhur dulu. Aku meletakkan cinta di atas segalanya. Aku juga menempatkan kasih sebagai awal dari segalanya. Hingga pada akhirnya, aku menempatkan Dahlian Na Tolu* sebagai landasan untuk mengisi hari-hari dan menjalani hidup. Dan karena perintah-perintah yang terkandung di sanalah aku datang bersama ibuku yang diundang oleh ayahmu untuk membuat sebuah kesepakatan ikatan, antara aku dan kau. “Apakah sudah ada seorang lelaki yang mengisi ruang hatimu?,” itulah yang ditanyakan ibuku kepadamu. Kau diam dan tidak satu katapun kau ucapkan untuk menjawab pertanyaan itu. “Ada apa denganmu, Anggi*? Kalau ada katakan saja. Siapapun nanti yang menjadi pendampingmu, itu akan menjadi anak Namboru*”. Sepertinya ada ketakutan dihatimu untuk menjawab ya atau tidak. Entah apa yang dilakukan oleh Tulang* padamu, hingga setiap pertanyaan ibuku kau jawab dengan kebisuan. Kau bukan milikku, karena itulah kau yang harus menentukan sikap untuk dirimu sendiri. Bukan Tulang ataupun Nantulang*, sekalipun itu untuk aku dan ibuku. Karena kami bukan datang dari sebuah kerajaan yang mengharuskan setiab warganya tunduk pada perintah sang penguasa. Kami juga menyadari bahwa sejak dahulu kala, leluhur kita sudah membuat aturan adat yang menghargai sebuah demokrasi. Adat tidak mengikat kita dengan hukuman. Tetapi, adat menata kehidupan kita untuk lebih baik. Sekalipun saat ini semua itu hampir ditenggelamkan zaman. -o0o- Aku tidak mengerti dengan semua ini, apa yang telah dilakukan inang pangin tubu* untuk menyatukan kita adalah sebuah kesisiaan. Demikian juga dengan damang parsinuan* berharap dapat melihat kita bersatu dalam pemberkatan kudus, ketika lantunan lagu Ave Maria mengiringi langkah kita menuju altar tempat seorang hambaNya menyabut kita dengan senyum. “Dainang manodo, ho do parumaen na*,” Itulah dalam hatiku, hingga kebisuanmu seakan telah memberikan jawaban “ya” kepadanya. Jikalau saja ada sepatah kata yang kau ucapkan untuk pertanyaan ibuku. Mungkin dia akan berpikir panjang untuk mendesak pernikahan kita. Demikian juga tulang, yang juga berharap agar kita melanjutkan kekerabatan ini. “Maenmu*, tidak dapat menjawabnya. Sebaiknya kita bicarakan saja tetang adat yang akan kita laksanakan. Kira-kira, kapan dongan tubu* ito* datang untuk marhusip*?”. Pertanyaan tulang memberikan keyakinan pada ibu, bahwa kau bukan takut. Melainkan, kau malu untuk menjawab “ya”. Pariban, aku merasa airmatamu adalah jawaban untuk setiap holong* yang ada dihatiku. Padahal, sesungguhnya itulah ungkapan kebisuaanmu. Kau tidak mengungkap yang sebenarnya. “ Secepatnya ito*, aku dan lae* mu akan membicarakannya nanti. Kami akan segera mengirimkan dongan tubu kami untuk marhata sinamot*,” Seperti itulah jawab ibuku untuk pertanyaan tulang itu. Pariban, kau yang membuat ibuku kini menderita. Demikan juga dengan ayahku yang kini untuk menyapa orang lainpun malu. Semuanya telah kau hancurkan, semuanya telah kau musnahkan. Akupun tidak yakin suatu saat ini akan kembali baik seperti dulu. Ayahmu kini ketakutan untuk bertemu dengan saudara perempuannya sendiri oleh karena perbuatanmu. Dia lebih banyak bersembunyi di ruang perenungan tempat yang dipilihnya untuk menangis. Taukah kau, ayahmu kini tak pernah lagi menginjakkan kaki di bait suci. Bahkan untuk menyebut nama Tuhanpun dia ketakutan. Aku sudah menemuinya, dan mengajaknya untuk bersama memuji dan memuliakan Tuhan. Membaca Mazmur dan melantunkan kidung agung. Tetapi, dia memilih untuk memenjarakan tubuh lesunya dalam kamar pengap, agar tidak seorangpun dapat melihat dia dengan penyesalannya. Jikalau kita tidak dapat bersama, menyatu lewat pemberkatan kudus. Tidaklah menjadi sebuah permasalahan besar. Aku akan tetap somba marhula-hula*, sekalipun perbuatanmu sangat menyakitkan. Karena pesan orang tuaku, hula-hula adalah raja yang meletakkan ulos sipalas tondi* di atas punggungku. -o0o- Pariban, aku telah melupakan bayanganmu. Bahkan senyummu yang begitu indahpun telah aku buang di lautan airmata, yang berombakkan kemarahan. Aku belum dapat mengiklaskan semua yang terjadi ini. sekalipun firman Tuhan berkata bahwa segala sesuatu itu, indah pada waktunya. Terlalu pedih luka jiwa yang disayat belati kehidupan. Hingga tidak ada yang dapat mengobati semua perih yang kami rasakan. Ibuku, menyesalkan kepergiaanmu yang disebabkan oleh pertunangan kita. Seandainya kau jujur kepada kami tentang semua yang ada dalam hatimu, mungkin ini tidak akan terjadi. Tetapi, kau membisu. Takut untuk mengatakan kebenaran yang sesungguhnya akan dirimu. Hingga, dengan bahagianya mereka menyambuh hari pernikahan yang telah tertulis dalam lembaran kertas undangan. Mereka akan menjadikan hari pernikahan anaknya sebagai hari terindah. Mimpi-mimpi yang ada dalam setiap pembaringannya telah membuat mereka buta akan dirimu. Pariban, kau pikirkankah berapa banyak yang menjadi korban dari perbuatanmu. Atau kau hanya tau mengukur nikmatnya dunia yang mungil ini. Tidakkah engkau tau jalan yang kau pilih itu salah. Kau tidak pernah memahami makna dari kehidupan, zaman telah menenggelamkanmu. Kemajuan telah membawa pada mahligai yang rapuh. Hingga kau memilih jalan sesaat yang sesat. Mengapa kau tidak bertekuklutu di altar dan meminta pentunjuk dari Tuhan yang kita sembah melalui doa. Dia senantiasa menyertai kita hingga akhir zaman tiba, bahkan tidak sekalipun Dia membiarkan kita jatuh dalam pencobaan. Tinggal bagaimana kita maknai kehadiranNya untuk membawa kita menuju kehidupan kekal. Bukan kehidupan yang berakhir dengan sebuah penderitaan. Tuhan menciptakan manusia untuk mengisi dan memenuhi seluru penjuru dunia. Menjadikan manusia itu berpasang-pasangan hingga lahir generasi-generasi baru yang melanjutkan kehidupan. Dia yang menetukan hidup dan mati umatNya. Bukan kita, seklaipun kita sanggup untuk mengahiri setiap nafas yang dianugrahkan Tuhan kepada kita. Kita hanya hamba yang semestinya menapaki hidup di atas jalan firmanNya. Aku tidak tau harus berkata apa lagi. Aku kehilangan jejakmu ketika ingin menggapaimu, aku buta saat ingin menatapmu, aku bisu ketika suara hatimu ingin mengumandangkan sebuah kebenaran tentangmu. Hingga, akupun bertanya-tanya, di manakah kau berada kini, setelah dimakamkan dengan ketidakwajaran. Pariban, aku datang bersama keluargaku, membawa sinamot* dan appang* sebagai bagian dari ritual yang harus dilaksanakan untuk menjemput mempelai perempuan. Kami datang dengan kerendahan hati. Berharap akan disambut dengan besar hati oleh keluargamu, bukan dengan kerumunan orang-orang yang menangis pedih karena tinggal ditinggal mati. -o0o- Aku sadar setelah tiba di sana. Ternyata kebisuanmu adalah ungkapan ketakutan untuk mengatakan yang sebenarnya tentang dirimu. Semestinya, kau menolak lamaran ibuku saat datang meminangmu untuk menjadi menantunya. Kau katakan saja yang sebenarnya tentang dirimu. Karena, kebisuan bukanlah jawaban untuk pertanyaan. Sekalipun itu dapat menjadi sebuah pernyataan akan ketidak setujuan. Katakan kebenaran tentang dirimu, walaupun itu akan menimbulkan amarah di hati ayahmu. Karena itulah jalan satu-satunya untuk menyelamatkanmu yang telah terperangkap dalam lembah yang menghadiahkanmu kenikmatan. Katakana saja kau sudah memiliki pilihan hidup. Bahkan ceritakan juga, jika dalam rahimmu telah ada benih cinta diantara kalian, sekalipun itu akan mencoreng wajah keluarga. Aku hanya dapat melihatmu terakhir kali, saat tubuhmu membiru dan mulutmu mengeluarkan buih-buih putih. Apakah kau tidak sadar itu dosa, mengahiri hidup dengan sebuah keterpaksaan. Bahkan, anak yang tidak berdosa di dalam rahimmupun harus ikut tiada sebelum menatap dunia, oleh karena kekonyolan ibunya. Pariban, seperti malam kehilang rembulan. Demikian juga kehilangan jejakmu. Aku tau, kabut di hatimu membuatmu kalut. Hingga tidak dapat melihat jalan benar menuju alamatNya. Aku kini belum dapat menentukan jalan hidupku. Takut mengatakan pada ibu untuk menikahkanku, karena dia akan menangis jika aku minta menemaniku untuk manulangi tulang[23]. Saat ini aku masih sendiri, walau sudah beberapa perempuan pergi meninggalkanku karena tidak kunjung kupinang. Pariban, aku resah menanti si rokkap ni tondi*. *Di Dia Rokkap Hi: Dimana jodohku; judul lagu ciptaan Dakka Hutagalung * Pariban: Anak perempuan dari Tulang kita, anak perempuan dari hula-hula kita * Dahlian Na Tolu: Tungku yang memiliki tiga peyangga; Tiga perintah yang menjadi landasan hidup masyarakat Batak Toba * Anggi: Adik, namun dapat juga sebagai panggilan akrab seorang namboru dengan maennya; *Maen: anak perempuan dari saudara laki-laki. *Namboru: Saudara perempuan dari ayah kita. * Tulang: Saudara Laki-laki dari ibu kita *Nantulang: Istri dari Tulang kita *Inang Pangintubu: Ibu kandung, ibu yang melahirkan kita *Amang Parsinua : Ayah kandung *Dainang manodo, ho do parumaen na: Ibuku yang memilih kau untuk menjadi menantunya. *Manodo: sebuah kata yang memiliki arti keinginan; keinginan yang ada dari hati yang paling dalam. *Maen: Keponakan perempuan, anak perempuan dari saudara laki-laki. *Dongan Tubu: Kerabat semarga, sesama kerabat yang membuat kesepakatan terkait mengenai adat-istiadat. Baik dalam hal apapun. *Ito: saudara perempuan atau saudara laki-laki; kerab digunakan sebagai panggilan untuk lawan jenis *Marhusip: membicarakan segala yang berkaitan dengan sebuah pernikahan; setelah marhusip, akan dilanjutkan pada Marhata Sinamot. Kemudian disambung dengan Martuppol, hingga tiba pada pernikahan. *Cinta *Ito: saudara perempuan atau saudara laki-laki; kerab digunakan sebagai panggilan untuk lawan jenis *Lae: Sepupu; Besan *Sianmot: Harga; lebih sering digunakan sebagai istilah untuk mas kawin. Marhata Sinamot, membicarakan mas kawin. *Somba marhula-hula: Salah satu isi dari Dalian Na Tolu; Hula-hula : Sebutan bagi keluarga dari pihak perempuan. *Ulos : Pakayan adat batak toba, Si Palas : Penghangat, Tondi : Jiwa; Roh. Ulos Si Palas Tondi : Ulos yang memberikan kehangatan pada jiwa. *Sinamot : Uang, kata sinamot lebih sering digunakan sebagai istilah untuk mas kawin. *Appang : Keranjang besar yang terbuat dari rotan. Appang digunakan sebgai tempat makan yang akan dipersembahkan pada pihak perempuan pada saat menjempu mempelai wanita. *Manulangi Tulang : meminta doa restu pada saudar laki-laki ibu atau tulang, serta meminta ijin untuk menikah dengan perempuan lain yang bukan pariban kita. * Si rokkap ni tondi : Mempelai jiwa.  *Alusi Au: Beri Aku Jawaban

Tuak Takkasan

Tuak tangkasan
Goes to my head
Makes me forget that I
Still need her so

Tuak takkasan
It`s up to you
All I can do, i`ve done
But memories won`t go

I`d have thought
That with time
Thoughts of her
Would leave my head
I was wrong
And I find
Just one thing makes me forget..tuak takkasan..

Tuak takkasan
Stay close to me
Don`t let me be alone
It`s tearin` apart
My blue, blue heart

Buat bang Kumbang yang kutemukan terkapar di lapo Sipitu Ama
karena ditinggal kawin oleh si Mince, hasudungan ni rohana..

Que Sera Sera

spyglass1

Many people asking, what 2009 will be?
Will it be brighter or even gloomier
Many people are anxious, what coming year going to be?
Will we have the joy or even there more bawling ?
Here what I said
Que sera sera
Whatever will be will be
The future’s not ours, to see
Since what we have is only hope
Live it, life with it
Since what we have is only bended knees and folded fingers
Live it, life with it
There are a huge numbers of question in year ahead will be
Que sera sera
Whatever will be will be..
Happy new year..God Bless!

Sirungguk..

Waktu masih anak-anak, duapuluh tahunan yang lalu, memiliki rumah yang dihiasi pohon natal dengan kerlap kerlip lampu warna warni dan kapas putih disela-sela daunnya sebagai pengganti salju adalah sebuah mimpi. Jangan berharap pohon natal, rumah diterangi lampu listrik juga sebuah mimpi. Seingatku waktu itu hanya ada satu rumah milik keluarga yang tergolong kaya di desa kami Lumbanrau yang dihiasi gaba-gaba bak gereja lengkap dengan pohon natal.  Pada bulan Desember seperti ini setiap kali melintas di rumah yang berada di pinggir jalan utama desa itu, anak-anak kecil pasti melirik ke dalam arah rumah itu, kalau sedang beruntung dimana pintu atau jendela rumah itu sedang terbuka maka bolehlah mereka menikmati kerlap-kerlip lampu-lampu kecil itu meski hanya dari jarak yang cukup jauh.

lycopodium_cernuum_profileKarena itulah ada rasa senang luar biasa kami rasakan ketika di suatu sore sepulang dari ladang kami menjumpai sebuah pohon natal di pojok ruang rumah. Saya mendekat, mengamatinya penuh rasa ingin tahu. Tidak terlalu tinggi tetapi juga tidak terlalu pendek, hanya sebahu saya. Sebagian daunnya berwarna hijau tua dan agak kuning. Beberapa helai kertas krep dan kertas minyak berwarna yang digunting berpola mengelilingi pohon natal itu. Beberapa batang arung yang ditopang oleh batang bambu/tolong yang ditancapkan ke batang pisang yang menjadi batang utama pohon natal itu akan menjadi tempat lilin. Saya memegangi daun pohon terang itu, Oh, ternyata sirungguk. Saya tersenyum, entah darimana bapak mendapat ide pohon natal ini.

Tapi pohon natal belumlah sempurna hingga dia memberi cahaya, karena itulah disebut juga pohon terang. Kami masih harus menunggu hingga acara natal keluarga tiba supaya pohon natal itu benar-benar pohon natal yang sempurna, dihiasi cahaya lilin!.

Berita pohon natal asli ini cepat menyebar di antara teman-teman kami sepermainan. Hmm..bangga dan menyenangkan. memiliki pohon natal di rumah meskipun yang ini tanpa lampu kelap-kelip. Hingga acara natal keluarga tiba. Pohon natal berbahan daun sirungguk itu berdiri di depan,sederhana, anggun dan bersahaja. Cahaya lilin yang kami nyalakan satu persatu yang dimulai dari bapak diikuti ibu dan anak yang paling besar hingga yang paling kecil membuat ruangan yang hanya diterangi lampu teplok tampak lebih terang. Terang oleh cahaya lembut dari lilin yang terbakar. Acara natal keluarga kali ini berbeda dari biasanya, lebih menyenangkan!. Hingga seminggu setelah acara tahun baru berlalu pohon terang bersejarah itu masih menghiasi rumah sederhana kami. Hingga kemudian dengan berat hati kami membuangnya, dalam keadaan utuh. Warnanya tidak lagi hijau.

sirungguk11Belakangan saya mulai menyadari, bahwa pernak-pernik natal sesungguhnya adalah simbolisasi dari kehidupan iman yang sesungguhnya. Lihatlah cahaya lampu hiasan natal yan kerlap-kerlip, mati hidup, itulah yang sesungguhnya banyak terjadi dalam kehidupan rohani manusia masa kini, mati hidup, jatuh bangun..tergantung keadaan, berbeda dengan cahaya lilin yang akan tetap terang hingga lebur dan musnah. Berbeda dengan daun palsu yang nempel pada batang palsu pada pohon terang zaman sekarang yang gampang tercabut dan terpasang lagi, kehidupan rohani seorang kristen seharusnya sama dengan batang sirungguk yang tertanam baik pada batang pisang. Sirungguk,sekali dia tertanam baik, tidak akan terlepas jatuh dan luruh dari batang pisang sekalipun telah patah,remuk dan mati. Hanya dengan demikianlah dia bisa tetap hijau lebih lama. Batang bambu/tolong yang menopang lilin tertanam pada batang pisang karena hanya dengan demikianlah dia berada lebih tinggi untuk bisa memberi terang bagi lebih luas lagi tempat dimana dia berada.

Selamat Hari Natal..!

Sirungguk : Lycopodium Cernuum,sejenis tumbuhan semak setinggi 30-60 cm, barcabang banyak, berbatang rapuh tapi tidak mudah putus.

Arung : Tumbuhan mirip bambu tapi lebih rapuh yang tumbuh di daerah rawa/daerah berair.


Ketika Sang Pendekar Itu Bertobat

sarbutIni kisah nyata, sebuah kisah lain seputar hari natal, terjadi beberapa tahun yang lalu.

Adalah undangan perayaan natal dari sebuah organisasi pengojek yang datang ke kantorku membuatku sebagai pengurus persekutuan doa ditemani beberapa teman sekantor datang ke acara itu. Perayaan natal yang cukup unik, bertajuk :P erayaan Natal Keluarga Besar  Pengojek Kawasan Industri…
Beberapa hari yang lalu saya terima undangan dari mereka. Undangan yang dibuat dengan sederhana, tanpa warna dan tanpa hiasan gambar macam-macam.

Sambil mengisi waktu menunggu kotbah yang bertema Marlambas Ni Roha itu berakhir, saya membolak-balik tata acara ibadah, sejenak saya agak tercenung ketika di bagian akhir membaca panitia acara. Di bagian seksi keamanan ada nama Pendekar,  Bang Pendekar.
Pendekar, Tidak ada yang tau nama sebenarnya, tapi di daerah ini dia terkenal dengan panggilan itu, entah bagaimana mulanya kemungkinan besar karena  karena matanya yang memang buta sebelah sehingga terlihat seperti seorang pendekar di film-film laga zaman dulu. Pendekar, preman asal Flores yang namanya kerap menghiasi halaman berita harian sore, berita khusus kriminal karena kasus-kasus yang dia perbuat. Entah berapa puluh orang tukang ojek, supir metromini, orang-orang yang memasuki di kawasan industri itu yang luka ditangannya entah karena setoran yang tidak beres atau karena sebab-sebab lain. Malah setahun yang lalu ada yang meninggal dalam perkelahian dengan dia, tapi dia dibebaskan karena kemudian terbukti dia adalah pihak yang diserang dan dia hanya membela diri. Pihak management kawasan pun tidak kuasa menghentikannya, mereka hanya bisa sedikit membatasi ruang geraknya dengan mengangkatnya sebagai anggota keamanan lapangan. Pokoknya hampir semua orang yang pernah masuk kawasan itu tau nama Pendekar. Mungkin reputasi itu lah membuat pria bertubuh besar dan berkulit hitam itu nama itu diangkat menjadi bagian dari panitia.

Acara ibadah sudah selesai, seperti biasa, kini waktunya acara hiburan dan kata-kata sambutan sambil menikmati hidangan natal yang disediakan seadanya. Dua grup penyanyi trio sudah berlalu dengan suara khas lapotuaknya. Kembali pembawa acara naik ke pentas dan meneruskan pembacaan acara. “Selanjutnya kita akan nikmati lagu pujian berupa vokal solo yang dibawakan oleh saudara kita”. “Kepada abang kami Bang Pendekar waktu dan tempat kami sediakan..” Mendengar nama si Pendekar disebut, gedung yang tadi berisik dan hampir hiruk pikuk oleh ramainya pembagian makanan mendadak sepi, berubah jadi bisik-bisik,seperti tidak percaya,apa yang terjadi, apakah si Pendekar sudah bertobat?? Didalam tata tertib acara, acara vokal solo ini seharusnya tidak ada. Si Pendekar bernyangi lagu rohani ?. “Wah ini bakal jadi kesaksian pertobatan yang dahsyat”. Tidak berapa lama kemudian, seorang pria bertubuh tinggi besar, berkulit hitam, berambut gondrong dan -maaf- matanya yang satu berwarna putih semua naik ke atas panggung memegang microphone lalu menuju ke arah pemain keybord, seperti mencocokkan suara dengan musik. Ada mimik wajah yang susah diartikan di wajah pemain keyboard, jelas..wajah kebingungan. Pendekar maju ke tengah panggung, dia memperbaiki kerah bajunya seperti berusaha menutupi tato yang menutupi leher dan dadanya. Semua mata tertuju ke panggung, musik intro dari keyboard perlahan mengalun…

Beberapa detik kemudian, sambil menengadah ke atas, memejamkan mata..lalu Bang Pendekar mulai menyanyi…..

.

.

.

.

.

.

.

.

Di waktu ku masih kecil..
Gembira dan Senang..
Tiada duka ku kenang..tak kunjung mengerang..
Di sore hari nan teduh..ibuku bertelut..
Sujud berdoa kudengar namaku Disebut

Lagu Nikita kecil pun mengalun lembut.. ternyata Bang Pendekar adalah seorang Rambo berhati Rinto..ya..setidaknya di malam Natal ini.. :) . Selamat Hari Ibu dan Selamat menyambut Natal..!

merry_christmas-1

Desaku Dalam Liputan Majalah Trubus

sigarar-utang

Adalah fenomena kopi ’sigarar utang’ dan Haminjon/kemenyan (Styrax paralleloneurum) yang membawa tim explorasi majalah Trubus ke kampung saya (Habinsaran, Lumbanrau, Borbor dan Pangururan). Berita lengkapnya dibawah ini (Dikutip tanpa izin dari Trubus-Online : http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=2&artid=1445).

kopi3

Sejak lama Anggus Pasaribu (72 tahun) menolak menikmati kelezatan secangkir kopi sigarar utang meski ia menanam 1.000 pohon kopi itu. Anggus, pekebun di Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, itu meyakini varian kopi arabika yang didatangkan VOC Belanda pada 1750 itu beracun. ‘Pernah ada yang diare setelah meminum kopi itu,’ ujarnya. Tak hanya Anggus, semua warga Habinsaran berlaku sama pada kopi pendek-nama lain di Habinsaran-itu, tak pernah meminumnya!

Bertolak belakang jika melihat nasib kopi itu di Amerika Serikat, PT’s Coffee Roasting Co. Specialist, penyedia kopi berkualitas di negara bagian Kansas misalnya, getol mempromosikan kopi pendek itu sebagai kopi unggulan. Kopi lintong-nama dagang diambil dari Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Balige, di Tapanuli Utara-tak kalah soal rasa dan aroma daripada robusta.

Starbuck, waralaba kopi terkenal dunia, bahkan merilis black apron exclusive berbahan dasar kopi pendek itu pada Juni 2007. ‘Ini bukti citarasa kopi pendek sudah diakui dunia,’ kata Cahya Ismadi, manajer Industri Rintisan dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur.

Bersama Anggus di penghujung Juni 2008 Trubus menyusuri kebun-kebun kopi pendek itu di Desa Lumbanrau, Kecamatan Habinsaran. Belum jauh berjalan dari kediaman Anggus, deretan pohon kopi berbuah lebat ditanam di samping halaman rumah penduduk desa. Semua tampak rapat. Harap mafhum, jarak tanamnya 2 m x 2 m. ‘Di sini setiap penduduk paling sedikit punya 50 pohon,’ ujar Anggus yang pertama kali mendatangkan kopi pendek itu dari Desa Siborong-borong, Tapanuli Utara, pada 1998.

Ada kisah menarik seputar penamaan sigarar utang. Dahulu kopi itu dianggap sebagai pembayar hutang. ‘Banyak warga yang meminjam uang atau sembako kemudian melunasinya dengan hasil panen kopi,’ tutur Anggus. Nah, penyebutan kopi pendek itu cuma berlaku di Habinsaran dan kecamatan tetangga, Borbor. Itu mengacu pada tinggi pohon dan waktu panen.

Anggota keluarga Coffea itu paling pol tingginya 1,5 m; normalnya 3 m. Waktu panen 2 tahun sejak tanam; normalnya 4 tahun. ‘Satu pohon bisa menghasilkan 4 kg buah kopi,’ kata Anggus, yang meraup pendapatan Rp2,6-juta setiap kali panen. Nah, anggapan beracun Cahya menduga berasal dari citarasa kopi yang asam. ‘Ia baru dapat diminum setelah dicampur robusta. Tidak bisa tunggal, karena akan membuat perut jadi sakit,’ kata Cahya.

Sejarah menunjukkan Sumatera Utara memang gudangnya kopi-kopi berkualitas terutama jenis arabika. Selain kopi pendek yang tumbuh subur di ketinggian lebih dari 1.000 m dpl, ada pula kopi mandheling dari Tapanuli Selatan. Nama mandheling bahkan menjadi jaminan mutu di dunia perdagangan kopi dunia. Mandheling punya biji keras dan aroma harum menguar tajam. Pantas bila pemerintah daerah Sumatera Utara terus menggenjot penanaman kedua jenis kopi itu. Kini lahan arabika mencapai 31.551 ha atau 53,73% dari total luas lahan kopi di Sumatera Utara.

Menurut Edi Susmandi, Acting Executive Director Asosiasi Kopi Spesial Indonesia, kopi lintong sudah bisa disejajarkan dengan kopi mandheling. ‘Saat lomba kopi Cup of The Year Competition di Minnesota, Amerika Serikat, pada Mei 2008, kopi lintong meraih nilai 86 dari nilai tertinggi 100,’ ujar Edi.

Angka itu lebih tinggi ketimbang arabika unggulan lain tanahair seperti gayo dari Aceh, kopi toraja, dan kopi dari Papua, yang mendapat nilai 80-82. Pantas kopi pendek pun dilepas sebagai varietas unggulan oleh Menteri Pertanian pada 2005 dengan nama sigarar utang. Sebab itu kini sigarar utang tak hanya ditanam di Sumatera Utara, tapi sudah menyebar hingga Pulau Jawa.

Selain kopi pendek, kemenyan menjadi unggulan masyarakat di Habinsaran, Toba Samosir. Pohon hamijon-nama lokal-itu menyebar hingga Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Phakpak Barat. Namun soal kualitas, ‘Hamijon Styrax paralleloneurum dari Toba paling berkualitas,’ ujar Ridwan A Pasaribu dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan di Bogor, Jawa Barat. Indikator mutu didasarkan pada: kadar air, kadar kotoran, dan kandungan kimia seperti asam benzoat dan asam siamat.

Ditemani Rosma Pasaribu, pekebun kemenyan, Trubus mengunjungi kebun rakyat di Desa Pangururan, Kecamatan Borbor, yang berjarak tempuh 1 jam perjalanan mobil dari Sirpang, Lumbanrau. Di ketinggian 1.240 m dpl kemenyan ditanam dekat kebun kopi. Meski tanaman unggulan, sejauh ini pekebun membiarkan kemenyan tumbuh apa adanya. Sekeliling pohon yang bisa mencapai tinggi 35 m dengan diameter 60 cm itu banyak di tumbuhi ilalang. Ranting-ranting jatuh dibiarkan terserak.

Menurut Rosma getah kemenyan itu laku dijual Rp75.000-90.000/kg untuk grade A. Grade ini mempunyai ciri: warna getah putih dan tebal. Getah sadapan itu yang ditunggu industri parfum, cat, dan farmasi. ‘Kemenyan lebih banyak lagi di Gunung Simanabun dan Mabar,’ kata Rosma yang mempunyai 5 pohon kemenyan. Hermin Pasaribu, misalnya memiliki 20 ha styrax di kedua gunung itu. ‘Selain kedua gunung itu kemenyan juga banyak ditanam di Gunung Si Abu-abu di Kecamatan Habinsaran,’ ucapnya.

Ada pemandangan menarik sepanjang perjalanan menuju kebun kopi dan kemenyan itu. Di tebing-tebing berpasir dan lembap mudah dijumpai Nepenthes tobaica. Kantung semar itu umumnya hidup di antara paku-pakuan yang mulai meranggas. ‘Dahulu tahul-tahul-nama lokal-suka dipakai untuk membuat nasi dengan menaruh di atas jerami yang dibakar,’ ujar Udur Tambunan, penduduk setempat. Maklum, diameter kantung semar itu besar, bisa lebih dari 10 cm. Sayangnya, banyak dari nepenthes itu mati karena pekebun membabatnya.

Menurut Suska Apriza, praktikus nepenthes di Bogor, jenis tobaica umum dijumpai di Sumatera Utara. ‘Tanaman ini penyebarannya luas dari ketinggian 300-1.500 m dpl,’ katanya. Masih menurut Suska tobaica di Dolok Sanggul lebih merah warna kantungnya. ‘Yang di Sibolga warna kantung lebih hijau,’ tuturnya. Tobaica yang Trubus lihat lebih dominan berwarna hijau.

Kopi pendek, kemenyan, dan nepenthes, sejauh ini memang menjadi primadona di Kecamatan Habinsaran dan Kecamatan Borbor. Kopi dan kemenyan malah sudah terbukti dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Dari pedalaman Toba Samosir mereka membuka mata dunia tentang potensi terpendam dari Sumatera Utara. (Lastioro Anmi Tambunan)

kopi2

Belakangan timbul semacam ketidaknyamanan pada masyarakat dengan nama sigarar utang ini karena pengertiannya yang bermakna Pembayar Hutang-Untuk bayar hutang, dalam pemahaman sepintas memang seolah-olah hasil panen yang diperoleh hanya untuk membayar hutang. Apakah karena itu sebanyak apapun panen kopi yang diperoleh hutang baru selalu saja muncul, terbukti dari masih kerapnya petani membeli pupuk dengan cara berhutang? Ah..mudah-mudahan saja tidak.

Sebagai komoditas export, resesi ekonomi global saat ini  diperkirakan akan sangat berdampak pada harga kopi. Turunnya permintaan dari luar negeri akan membuat menumpuknya stok kopi siap olah di dalam negeri. Secara langsung hal ini akan berakibat pada anjloknya harga kopi. Dari informasi yang diperoleh dari petani, gejala penurunan harga sudah mulai dirasakan. Diperkirakan penurunan harga itu akan terus terjadi meningkat seiring dengan semakin memburuknya dampak resesi yang merupakan sebuah peristiwa berantai. Mengingat kopi salah satu komoditas penting sebagai penggerak perekonomian masyarakat di daerah Toba Samosir, sangat diharapkan tindakan proaktif pemerintah daerah dalam mengantisipasi dampak buruk tersebut. Jika kelak harga kopi menyentuh level  buruk yang ditandai dengan lebih besarnya biaya perawatan dan pengolahan dibanding dengan harga jual kopi dikhawatirkan akan menimbulkan keengganan pada petani kopi dalam merawat dan memelihara tanaman kopi mereka.

Berbeda dengan saudaranya, kopi robusta dan arabica, kopi sigarar utang merupakan tanaman yang membutuhkan perawatan yang berkesinambungan atau terus menerus. Perawatan yang terhenti untuk kurun waktu yang cukup lama akan merusak tanaman kopi yang berujung pada kematian atau tetap tumbuh tetapi sama sekali tidak produktif . Begitu tanaman kopi mati atau tumbuh tapi tidak produktif petani akan dihadapkan pada masalah baru untuk mengembalikannya ke kondisi produktif karena memerlukan penanganan khusus, lebih buruk kalau harus tebas, bongkar batang dan tanam ulang. Jelas, ini bukan pekerjaan mudah karena memakan waktu, tenaga dan biaya mahal.

Jika situasi harga buruk ini haru dialami oleh petani, campur tangan pemerintah dapat dilakukan  dalam dua bentuk. Pertama, membeli kopi masyarakat dengan harga yang pantas lalu menjualnya, tentu dengan konsekuensi kerugian karena selisih harga beli dari petani dan harga jual harus  ditanggung oleh pemerintah. Kedua, dengan menjual pupuk dan obat-obatan yang dibutuhkan untuk perawatan selama periode harga rendah dengan harga murah. Dengan bantuan ini diharapkan petani dapat tertolong, kalaupun tidak beruntung minimal petani tidak dibebani dengan biaya perawatan dan obat-obatan. Diharapkan dengan cara ini petani tetap dapat melanjutkan perawatan hingga nanti harga dapat kembali normal.  Pada saat yang sama, pemerintah juga diharapkan dapat mencari pangsa pasar lain selain Amerika Serikat dan negara-negara eropa, atau memperluas jaringan penjualan dalam negeri.

Dengan demikian, kopi yang dalam kondisi normal dan harga layak ini diberi nama kopi sigarar utang, maka dalam kondisi resesi ekonomi seperti saat ini diharapkan namanya tidak berubah menjadi sibaen utang.

Note : Foto-foto dalam tulisan ini adalah milik blog Hariara

Balada Sibarbar Losung

Dinasahali panjumpang ma au dohot sada siboru na uli..
Hugoit nanget huhirdop matakki, dibalos ma i dohot engkel suping nai..

Dunghon i pajumpang ma au muse tingki lao au tu partandangan hi
Tarsonggot ma au humutur dugul hi, Marhua dison siboru na huhirdopon..??

Dago dago..tompu ma pultong hosakki aut boi nian marobung tano on
Dago dago..logam-logamon bohi ki
Inang ni hallet hu do hape si borui.. :)

Amang mate ma au, boha nama ujung ni on..
Amang mate ma au, da bandit lapa-lapa on.. :)

The Desperate Doli-doli

The Desperate Doli-doli

Gitu aja kok repot..
Begitu dulu kamu suka bilang
Menyitir ucapan Gus Dur, berkata Ke arahku..
Seperti meledek setengah mengejek..
Lalu tertawa keras, pamerkan hitam getah tembakau di sela gigimu
Saat itu,padamu kubagi cerita
Tentang aku yang kepepet..
Waktu itu, membatin..aku memakimu setengah mati
Ingin kusumbat mulut bau arakmu

Sekarang kamu yang pusing, kubilang: sudah setengah sinting
Deadline itu kini milikmu
Kemarin, kehadapanku kau bawa seorang gadis
Berharap aku memujinya, memberimu restu dan bilang go ahead sobat..!
Melihat itu malah kataku : Hei doli-doli..are you so desperate??
Aku tau dia samasekali bukan type mu, diluar kriteriamu.
Lalu kuingatkan..
Tentang pendamping hidup, bahwa kita sepakat :
Lebih baik menunggu seseorang yang tepat
daripada
Memuaskan diri dengan apa yang ada.
Mengingat itu kamu makin pusing, kubilang: terlihat setengah sinting

Kau, oleh ortumu
Disuruh nikah…
Harus..secepatnya!
Hape
Hallet mu pe so adong :)

buat semua doli-doli saurmatua :)